BANTENRAYA.COM – Tim monitoring dan evakuasi operasi merah putih translokasi Badak Jawa, berhasil merekam keberadaan satu ekor induk Badak Jawa bersama anaknya.
Kemunculan anak Badak Jawa saat terekam di kawasan Blok Cigenter, Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Kabupaten Pandeglang.
Temuan kelahiran satu anak Badak Jawa di TNUK diperkirakan berusia kurang dari lima bulan.
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Satyawan mengatakan, temuan satu ekor anak Badak Jawa, merupakan indikator penting keberhasilan pengelolaan kawasan dan perlindungan Badak Jawa di kawasan TNUK.
“Keberadaan induk dan anakan Badak Jawa yang terekam melalui camera trap menunjukkan bahwa habitat Badak Jawa masih terjaga dengan baik,” kata Satyawan, Kamis, 5 Februari 2026.
“Selain itu, pengamanan kawasan yang kuat dan konsisten, serta dukungan kerja sama dari berbagai pihak, menjadi faktor kunci yang memungkinkan Badak Jawa berkembang biak secara alami,” tambahnya.
BACA JUGA: Bentar Lagi Rilis, Poco X8 Pro Max Siap Hadir dengan Baterai Badak
Kepala Balai TNUK Pandeglang, Ardi Andono membenarkan, satu ekor anak Badak Jawa yang lahir di kawasan TNUK berasal dari badak induk bernama Arum.
Kelahiran anak badak diketahui berdasarkan pemantauan lapangan menggunakan kamera jebak yang dipasang di kawasan Blok Cigenter.
“Anak Badak Jawa yang terekam merupakan individu baru, dengan nama induk Arum yang teridentifikasi sebelumnya dalam sistem monitoring,” kata Ardi.
Menurutnya, temuan kelahiran anak Badak Jawa menjadi rekaman pertama tahun 2026, sekaligus memperkuat optimisme terhadap keberlangsungan populasi Badak Jawa di habitat alaminya, yakni kawasan TNUK.
Dikatakannya, kelahiran satu individu anak Badak Jawa hasil dari tim monitoring dalam penerapan kamera jebak di TNUK.
BACA JUGA: Satu Ekor Badak Jawa Mati Saat Dipindahkan ke Kawasan Penangkaran
“Dengan kelahiran anak Badak Jawa upaya konservasi kembali menunjukkan hasil positif,” ujarnya.
Dengan kelahiran anak Badak Jawa, kata Ardi, Kementerian Kehutanan melalui Balai TNUK akan terus melakukan pemantauan intensif terhadap induk dan anak Badak Jawa tersebut, serta seluruh populasi Badak Jawa di kawasan.
“Pemantauan ini dilakukan melalui penguatan patroli, pemantauan berbasis teknologi, pengelolaan habitat, serta peningkatan kolaborasi dengan mitra konservasi,” terangnya.
Ardi mengajak, seluruh pihak untuk terus memberikan dukungan terhadap upaya pelestarian Badak Jawa di kawasan TNUK.
“Badak Jawa sebagai salah satu satwa paling langka di dunia dan kebanggaan Indonesia, demi memastikan kelangsungan hidupnya bagi generasi mendatang,” katanya.***
















