BANTENRAYA.COM – Warga Kampung Kelapacagak, Desa Teluklada, Kecamatan Sobang, Kabupaten Pandeglang menggelar tradisi panjang jimat pada perayaan maulid nabi Muhammad SAW.
Tradisi Panjang Jimat
Dalam panjang jimat, warga memandikan pusaka atau gaman berupa keris dan parang berbagai ukuran, sambil membacakan shalawat ya nabi salam alaika atau sholawat Mahalul Qiyam.
Sambil berdoa, satu persatu keris dan parang milik warga yang di simpan dalam dongdang berkain putih, lalu disiram air dalam gentong berisi kembang.
BACA JUGA: Event Lari Salonpas Sport 10K Digelar Awal Oktober 2025, Rute di Sekitar BSD
Ketua Rukun Warga Kampung Kelapacagak, Iyan Taryana membenarkan, panjang jimat dilaksanakan memperingati maulid nabi Muhammad SAW. Dimana kegiatan panjang jimat sebagai upaya melestarikan budaya.
“Ini adalah rangkaian puncak peringatan maulid nabi, yang mana kita sajikan perpaduan dengan budaya. Tujuannya untuk melestarikan budaya leluhur kami,” kata Iyan, Senin (22/9).
Dijelaskannya, panjang jimat dalam rangka melestarikan warisan leluhurnya, sehingga melestarikan nilai-nilai sejarah dan budaya yang melekat di lingkungan warga Kampung Kelapacagak.
BACA JUGA: Informasi SNPMB 2026 Fakultas Teknik Untirta, Segini Daya Tampungnya
“Pada dasarnya kita sedang berikhtiar melestarikan budaya leluhur kita, yang sebelumnya ada tradisi sedekah bumi, mapag sri. Maka hari ini kami ingin menyuguhkan maulid nabi kita selaraskan dengan budaya panjang jimat,” jelasnya.
Kata Iyan, panjang jimat merupakan adat budaya Cirebon, karena sebagian warga Kampung Kelapacagak berasal dari Cirebon, sehingga panjang jimat hanya ada di Kampung Kelapacagak.
“Kenapa ada panjang jimat, kami ini bagian dari pada keluarga Cirebon. Leluhur kita di Cirebon melaksanakan panjang jimat. Kami sebagai anak mengiringi apa yang dilakukan leluhur kita,” ujarnya.
BACA JUGA: Cara Dapat Saldo DANA Kaget yang Benar, Nominal hingga Ciri-ciri yang Palsu
Menurutnya, pihaknya terus menjaga tradisi panjang jimat pada peringatan maulid nabi. Dimana dalam tradisi tersebut memandikan gaman pusaka milik masyarakat.
“Gaman itu ada dua jenis rawatan dan pegangan. Tentunya keduanya spesial karena membantu dan dipakai masyarakat setiap hari, seperti keris, batu, kujang, dan parang,” katanya. ***


















