BANTENRAYA.COM – Sebanyak 11 orang mahasiswa dan 5 Dosen dari negeri Bunga Sakura datang ke Kota Cilegon mempelajari Penanggulangan bencana dan Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Bagendung, Kamis 5 September 2024.
Mahasiswa Jepang tersebut datang ke Kota Cilegon melalui program kerjasama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Cilegon untuk study visit dari Japanese Red Cross Toyota College of Nursing (JRCTCN) atau Sekolah Tinggi Keperawatan Toyota Palang Merah Jepang.
Ketua PMI Kota Cilegon Abdul Hakim Lubis mengatakan, 16 warga Jepang datang ke Kota Cilegon dalam program pengurangan resiko bencana berbasis masyarakat, dan belajar hal lain.
Baca Juga: Tak Ada istilah Cawe-cawe, TNI dan Polri Dipastikan Netral di Pilkada Pandeglang
“2012-2015 PMI Kota Cilegon dapat dukungan program pengurangan resiko terpadu berbasis masyarakat dukungan dari Palang Merah Jepang, 16 orang itu sedang visit ya di sini,”kata Lubis kepada Banten Raya, Kamis (5/9).
Lubis menyampaikan, sebagai bentuk upaya untuk memperkuat kerjasama internasional di bidang pelayanan kesehatan, pendidikan keperawatan, dan layanan kemanusiaan.
“16 warga Jepang itu mempelajari penanggulangan bencana di Kota Cilegon melalui PMI Kota Cilegon dan BPBD Kota Cilegon, serta pengolahan sampah di TPSA Bagendung oleh DLH Kota Cilegon,” sambungnya.
Baca Juga: Produk Nasabah PNM Ludes Terjual di Negara Matahari Terbit Jepang
Tak hanya datang ke PMI, kata dia, study visit tersebut mendatangi sumber air yang ada di Gunung Batur, Merak.
“Kita bersama warga Gunung Batur memperlihatkan kepada warga Jepang bahwa terdapat sumber air yang letaknya di atas gunung dan program pengembangan Siaga Bencana Berbasis Masyarkat (SIBAT),” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon Sabri Mahyudin mengungkapkan, warga Jepang menunjukan rasa ketertarikannya dalam program pengolahan sampah biomasa.
Baca Juga: Forum Dosen UNMA Banten Desak Polres Pandeglang Hentikan Penyidikan Kasus Rektor dan BPU
“Mereka mempelajari pengolahan sampah biomasa. Yang jadi perhatian mereka, tidak ada bau dalam prosesnya,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, warga Jepang mengapresiasi cara pengolahan sampah di Kota Cilegon, dan mempelajarinya.
“Karena metode seperti itu biasanya ada baunya, tapi kita tidak ya, ada teknik proses tersendiri. Kata mereka, Kota Cilegon sudah menerapkan pengolahan sampah dengan baik,” jelasnya.
Baca Juga: KI Banten Temukan Banyak Permohonan Sengketa Informasi Gugur di Tengah Jalan, Ini Penyebabnya
Kepala BPBD Kota Cilegon Suhendi menyampaikan, warga Jepang tersebut juga mempelajari cara penanggulangan bencana oleh BPBD.
“Mereka mempelajari manajemen penanggulangan bencana yang ada di Kota Cilegon, pencegahan dan kesiapsiagaan, evakuasi penyelamatan korban bencana, dan sistem dasar kebencanaan,” ucapnya.
Suhendi mengatakan, dirinya juga menjelaskan program-program yang ada pada BPBD Kota Cilegon, dan sama-sama
Baca Juga: Kedapatan Ngerokok saat Rapat Paripurna, Anggota DPRD Kota Serang Ditegur Ketua Dewan
“Implementasi program BPBD dijelaskan semacam evakuasi kebencanaan dan lain-lain, kita saling mempelajari satu dengan yang lainnya,” katanya.
Sementara itu, mahasiswa dari JRCTCN Kitano Sakura menyampaikan rasa senang dapat belajar di Kota Cilegon.
“Kesempatan yang baik ini dapat berjumpa dengan PMI Kota Cilegon, sambutan yang sangat hangat dari masyarakat dan juga dari pemerintah. Banyak belajar dan pengalaman yang didapatkan, terima semuanya,” terangnya.***


















