BANTENRAYA.COM – Dalam kalender hari ini Rabu 26 September 2021 masehi bertepatan dengan 19 Safar 1443 Hijriah. Dimana banyak kalangan umat muslim meyakini Safar merupakan bulan kedua dalam kalender hijriah yang dianggap banyak kesialan dan musibah yang menimpa.
Hal tersebut tentu saja menjadi mitos yang terus berkembang turun temurun sejak tradisi bangsa arab jaman dulu, Bahkan di kalangan umat muslim di Indonesia mitos tersebut sangat kental dan mengakar.
Baca Juga: Cepat atau Lambat Kematian Akan Datang, Ini Kisah dr Zaidul Akbar
Dikutip dari situs nu.or.id, Ibnu Rajab al-Hanbali (wafat 795 H) mengatakan, tidak ada perbedaan bulan-bulan dalam kalender Hijriah, semuanya sama termasuk Safar. Di Bulan lain tetap terjadi kebaikan dan keburukan. Untuk itu, tidak boleh meyakini jika bulan kedua setelah Muharam tersebut adalah bulan kesialan dan musibah.
“Adapun mengkhususkan kesialan dengan suatu zaman tertentu bukan zaman yang lain, seperti (mengkhususkan) bulan Safar atau bulan lainnya, maka hal ini tidak benar.” kata ulama abad 13 ini diambil dari kitabnya Lathâ-iful Ma’ârif.
Menurutnya, tidak masuk akan musibah dikhususkan bulan Safar saja lantas meniadakannya pada bulan-bulan lainnya. Bahkan Ibnu Rajab menegaskan, ukuran baik dan buruknya suatu zaman atau waktu tidak dilihat dari kejadian-kejadian yang terjadi didalamnya.
Baca Juga: Apakah Penyakit Jantung itu Turunan? Ini Penjelasan dr Zaidul Akbar
“Setiap zaman yang orang mukmin menyibukkannya dengan ketaatan kepada Allah, maka merupakan zaman yang diberkahi; dan setiap zaman orang mukmin menyibukkannya dengan bermaksiat kepada Allah, maka merupakan zaman kesialan (tidak diberkahi).” (Zainuddin ‘Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab al-Baghdadi ad-Dimisyqi, Lathâ-iful Ma’ârif, [Dar Ibn Hazm, cetakan pertama: 2004], halaman 81).
Sementara secara kesejarahan, penamaan bulan Safar memiliki alasan khusus sebagaimana disampaikan Imam Abul Fida Ismail bin Umar Ad Dimasyqi atau dengan nama masyhur Ibnu Katsir. Saat itu, kata Ibnu Katsir, tidak terlepas dari kondisi bangsa Arab tempo dulu jika pada bulan itu sepi atau sunyi. Sebab, orang meninggalkan rumah untuk perang dan bepergian atau safari.
“Safar dinamakan dengan nama tersebut, karena sepinya rumah-rumah mereka dari mereka, ketika mereka keluar untuk perang dan bepergian.” (Ibnu Katsir, Tafsîrubnu Katsîr, [Dârut Thayyibah, 1999], juz IV, halaman 146).
Baca Juga: Biar Keinginannya Segera Terkabul, Zaidul Akbar Berikan Tata Cara Berdoa
Anggapan atau keyakinan adanya kesialan yang mengakar sampai turun temurun itu sebenarnya tidak lepas dari tradisi orang Arab yang salah mengartikan Safar yang dianggap memiliki kesialan. Padahal Rasulullah menolak anggapan tersebut dan dengan sabdanya dalam hadits riwayat Al Bukhari.
“Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula tanda kesialan, tidak (pula) burung (tanda kesialan), dan juga tidak ada (kesialan) pada bulan Safar. Menghindarlah dari penyakit judzam sebagaimana engkau menghindar dari singa.” (HR al-Bukhari) (Badruddin ‘Aini, ‘Umdâtul Qâri Syarhu Shahîhil Bukhâri, [Beirut, Dârul Kutub: 2006], juz IX, halaman 409).
Baca Juga: Baznas Banten Latih Puluhan Pemandi Jenazah Korban Covid-19
Syekh Abu Bakar Syata ad-Dimyati (wafat 1302) mengatakan, hadits di atas ditujukan untuk menolak keyakinan dan anggapan orang-orang Jahiliah yang mempercayai setiap sesuatu dapat memberikan pengaruh dengan sendirinya; baik keburukan maupun kebaikan.
Bahkan, penolakan Rasulullah tersebut juga dibuktikan dengan dirinya melangsungkan pernikahan dengan Sayyidah Khadijah pada Bulan Safar, pernikahan anaknya Sayyidah Fatimah Az Zahra dan Sayyidina Ali dan Sayyidah juga di bulan Safar, lalu Hijrah beliau dari Makkah ke Madinah bertepatan dengan bulan Safar, perang pertama, yaitu perang Abwa terjadi pada bulan Safar, dimana umat Islam justru mendapatkan kemenangan telak atas kaum kafir dan pada bulan Safar juga terjadi peperangan hebat yaitu perang Khaibar, dan kemenangan diraih oleh umat Islam. (Abu Bakar al-Adni, Mandzûmatu Syarhil Atsar fî Mâ warada ‘an Syahri Shafar, halaman 9).
Artkel Dikutip dari tulisan Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan, Kokop, Bangkalan yang pernah diterbitkan di situs nu.or.id, Bulan Safar: Latar Belakang Nama dan Mitos Kesialan di Dalamnya















