BANTENRAYA.COM – Mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Lebak dan Ikatan Mahasiswa Lebak (IMALA) menyebut pihak RS Kartini pengecut.
Hal itu dilontarkan karena setelah mahasiswa melakukan aksi pada Senin 29 April 2024, sampai sekarang belum ada respons dari tuntutan mereka.
Adapun tuntunan mahasiswa antara lain, meminta RS Kartini melakukan permintaan maaf secara terbuka kepada masyarakat khususnya ke Isma Mustika yang dituduh mengambil uang di sana.
Baca Juga: Ayo Timnas Indonesia, Kalahkan Irak dan Bawa Olimpiade Paris 2024 ke Tanah Air
Mendesak RS Kartini melakukan klarifikasi terhadap kampus Poltekkes Banten agar Isma kembali mendapatkan haknya sebagai mahasiswa Poltekkes Banten.
Selanjutnya, menuntut Direktur Utama (Dirut) RS Kartini mengevaluasi atau memberhentikan pegawai yang memfitnah Isma Mustika tanpa bukti yang jelas,
Menuntut RS Kartini memperbaiki fasilits tidak layak pakai dan pelayanan dasar yang telah merugikan pasien.
Baca Juga: PKB Beri Sinyal Dukungan, Andika Hazrumy Janji Bangun Rumah Sakit di Daerah Perbatasan
Ketua IMALA, Aswari sangat menyayangkan terkait belum ada respon dan itikad baik dari pihak RS Kartini.
Menurutnya, RS Kartini tutup mata dan tutup telinga atas kejadian Isma mahasiswi Poltekkes Banten usai praktek kerja di RS Kartini dinonaktifkan secara sepihak.
“Kami kecewa karena pihak RS Kartini sampai sekarang belum merespon tuntutan mereka,” ujarnya kepada Bantenraya.com, Rabu 1 Mei 2024.
Baca Juga: Buruh Kabupaten Serang Diimbau Jaga Iklim Investasi Agar Perusahaan Tak Kabur
“Bahkan, tidak ada perwakilan RS Kartini yang menghadapi kami ketika Demontrasi, saya nilai mereka pengecut,” katanya.
Lebih lanjut, bukan hanya soal Isma, pihaknya juga meminta penjelasan atas keluhan masyarakat tentang pelayanan yang buruk, dan izin lingkungan rumah sakit.
“Sepertinya dugaan kami benar. Sebab, sampai sekarang tidak ada itikad baik dari RS Kartini,” ujarnya.
Baca Juga: Berebut Restu Surya Paloh, Tim Isro Mi’raj Lamar Partai NasDem untuk Pilkada Kota Cilegon
Aswari menjelaskan, padahal isu yang disuarakan oleh pihaknya sangat berpengaruh terhadap kemaslahatan masyarakat dan rumah sakit.
“Kami minta agar pihak RS Kartini segera merespon tuntutan ini, karena Isma kehilangan haknya dalam mengenyam pendidikan, dan masyarakat juga mempertanyakan tentang pelayanan rumah sakit disini,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua PMII Lebak, Ahmad Saefudin mengatakan, bahwa pihaknya akan terus memperjuangkan keadilan untuk Isma Mustika dan menegakan keadilan di bumi Multatuli.
Baca Juga: Jadwal Tayang Blood Free Episode 9 dan 10: Yoon Ja Yoo Jadikan Dirinya Sendiri Bahan Eksperimen
“Kami selalu memegang teguh amanat yang terkandung dalam Pancasila sila ke-5 yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” tuturnya.
“Isma yang hari ini sedang mengenyam pendidikan harus merasakan ketidakadilan atas tuduhan yang tidak berdasar padanya hingga harus di berhentikan dari kampusnya,” jelasnya.
Ia sangat miris, karena salah satu pegawai RS Kartini menuduh Isma mencuri uang Rp 50.000 saat Praktek Kerja Lapangan (PKL) pada bulan Januari 2024.
Baca Juga: Dikunjungi 400 Kendaraan Per Jam, Pasar Lama Kota Serang Bakal Diberlakukan Parkir Elektronik
“Ini miris sekali, bagaimana jika itu terjadi pada saya, kamu, atau anda. Bukti bahwa PMII peduli dengan kasus ini, kami akan mengawal sampai tuntas, dan hari ini adalah awalan, jika tidak segera ditindak, kami akan terus melakukan aksi berjilid-jilid,” ujarnya.
“Bahkan imbas dari tuduhan tersebut, Isma dinonaktifkan dari kampusnya,” sambung Ketua.
Ahmad menuturkan, apabila tidak ada respon dari pihak RS Kartini, pihaknya akan kembali menggelar aksi dimulai di kampus Poltekkes Banten, RS Kartini, dan Pemkab Lebak.
Baca Juga: Nonton Duluan The Perfect Strangers Episode 5 Pekan Ini: Penyamaran Alexa akan Terbongkar?
“Kalau sampai sekarang belum ada respon saja, kami akan kembali menggelar aksi, dan terus membuat gerakan-gerakan demi keadilan Isma, dan keluhanan masyarakat,” tutupnya.
Saat Bantenraya.com, berusaha untuk mengonfirmasi dan mendatangi pihak RS Kartini, penjaga rumah sakit mengatakan, bahwa pimpinan rumah sakit sedang tidak ada di tempat.***

















