BANTENRAYA.COM – Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon memiliki 1 nama daerah yang bikin penasaran yakni Kampung Keramat.
Seperi namanya Kampung Keramat, banyak penasaran kenapa diberikan nama demikian, apakah ada cerita khusus di baliknya?
Untuk mengetahui alasan sebenarnya, marinsimak asal usul Kampung Keramat di Kota Cilegon berikut ini.
Baca Juga: Ngeri, Mayat Bayi Terbungkus Handuk yang Ditemukan di Kabupaten Serang Diduga Dikubur Hidup-hidup
Usai meletusnya Gunung Krakatau di Selat Sunda pada 1883 memiliki pengaruh dan dampak banyak bagi kehidupan sosial, ekonomi dan keagamaan di Kota Cilegon.
Dalam aspek ekonomi kala itu, kejatuhan ekonomi akibat bencana alam Gunung Krakatau dirasakan warga Banten dan Cilegon khususnya.
Penderitaan bukan hanya karena letusan Gunung Krakatau tapi juga termasuk Pemerintah Kolonial Belanda yang masih menjajah di Indonesia.
Beberapa tahun setelah letusan Gunung Krakatau melanda, industri pertanian dan perkebunan tidak lagi produktif dan sering kali gagal panen.
Hal itu, pada akhirnya berujung dengan kemiskinan melanda warga masyarakat. Akibat dari kemiskinan maka kejahatan semakin melonjak.
Masyarakat yang miskin pada akhirnya menghalalkan segala cara untuk bertahan, termasuk juga di perkampungan marak pencurian, perampokan dan pembegalan.
Baca Juga: Bertajuk International Friendly Match, Garuda Muda Jajal Kekuatan Lawan Thailand U20 di u20
Bahkan, salah satu peristiwa kejahatan yang marak juga dipotret dan diabadikan dengan salah satu nama kampung di Kota Cilegon yakni Kampung Keramat atau Merah di Kelurahan Tegal Ratu, Kecamatan Ciwandan.
Dalam banyak tulisan tentang sejarah pasca letusan Gunung Berapi Krakatau ada banyak kejahatan terjadi saat itu.
Salah satu yang menjadi kisah adalah seorang ayah yang membegal orang yang merupakan santri dan anaknya sendiri saat pulang kampung.
Kisah tersebut dituliskan dalam buku buku karya Sujana, D pada 2015 berjudul Toponimi Nama-nama Daerah di Kota Serang yang diterbitkan atas kerja sama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten dengan Banten Heritage.
Buku itu menuliskan sejumlah nama-nama kampung dan desa atau kelurahan yang ada hubungannya dengan peristiwa letusan Gunung Krakatau.
Dimana, ia menjelaskan soal asal-usul nama Kampung Keramat atau Kampung Merah di Kelurahan Tegal Ratu, Kecamatan Ciwandan.
Dimana, ada kisah tragis seorang ayah yang menjadi begal memancung anaknya yang dibegal.
“Kampung Keramat. Di Banten tepatnya di Kecamatan Ciwandan, Kelurahan Tegal Ratu ada kampung yang dinamai Kampung Keramat,” papar dalam buki tersebut.
“Sebelum diberi nama Kampung Keramat, kampung itu namanya Kampung Abang (merah) karena tanahnya berwarna merah sebagai akibat letusan Krakatau,” tulisnya.
Ia menceritakan, jika daerah tersebut memiliki peristiwa sehingga disebut Kampung Keramat. Di mana, saat perjalan pulang ada seorang santri yang ditengah jalan dibegal oleh ayahnya sendiri.
Disana ada makam kepala sang anak yang banyak orang menyebutnya makam keramat.
“Di daerah tersebut pernah terjadi suatu peristiwa, seorang pemuda yang telah menuntut ilmu agama pulang ke kampung halamannya,” tuturnya.
“Di perjalanan ia dibegal oleh perampok yang ternyata ayahnya sendiri. Pemuda itu tewas dengan kepala terpenggal. Si perampok membawa bungkusan barang si pemuda ke rumahnya,” ucapnya.
“Si perampok merasa kecewa setelah bungkusan dibuka ternyata isinya kitab suci dan sarung, bukan barang berharga,” tulisnya lagi.
Diketahui, jika itu adalah anaknya karena sang istri mengenali salah satu kain sarung yang dibawa adalah kain sarung yang biasa dipakai anaknya.
Baca Juga: LDKS, Wadah Osis MAN 1 Lebak Ciptakan Generasi Berkualitas Menuju Indonesia Emas
“Istri si perampok mengenali sarung itu adalah sarung anaknya. Kemudian, mayat pemuda itu dimakamkan tanpa kepala, karena kepalanya tidak bisa lagi ditemukan,” tuturnya.
“Makam tanpa kepala itu lalu dinamakan makam keramat selanjutnya dengan berjalannya waktu kampung itu dinamakan Kampung Keramat,” jelas lagi.
Referensi: Toponimi Nama-nama Daerah di Kota Serang, diterbitkan atas kerjasama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten dengan Banten Heritage penulis Sujana, D. terbitan 2015. ***
















