SERANG, BANTEN RAYA – Roni, seorang suami yang menggali kembali kuburan istrinya Asiah yang sudah dimakamkan selama tujuh hari, punya alasan kuat mengapa harus melakukan itu.
Ahmad, Ketua RT 18 Cidadap, Kelurahan Tinggar, Kecamatan Curug, Kota Serang mengatakan, alasan mengapa Roni menggali kembali kuburan istrinya Asiah lantaran masih ada unek-unek dalam hatinya. Pasalnya, setelah dinyatakan meninggal dunia pada Sabtu sebelumnya, jenazah sang istri oleh pihak rumah sakit tidak diantarkan ke rumah duka untuk dimandikan dan disalati.
Jenazah langsung dibawa oleh petugas medis ke tempat pemakaman umum dan dikuburkan di sana dengan alasan almarhumah pasien Covid-19. Padahal, pihak keluarga ingin agar almarhuman dimandikan terlebih dahulu lalu disalati baru kemudian dimakamkan.
“Kayaknya suaminya masih ngunek-ngunek itu. Ngunek-nguneknya mah si suaminya ini pengennya dimandiin dulu disolatkan (istrinya-red),” kata Ahmad, Sabtu (26/6/2021).
BACA JUGA: Sudah Tujuh Hari Dikubur, Suami Gali Lagi Kuburan Istri
Meski dinyatakan sebagai positif Covid-19, kata Ahmad, namun anehnya sampai dengan tujuh hari setelah dimakamkan, pihak rumah sakit tidak juga memberikan surat resmi hasil laboratorium bahwa almarhumah meninggal dan positif Covid-19.
Kondisi ini menyebabkan ada ganjalan dalam hati Roni. Hanya surat keterangan meninggal dunia yang diterima pihak keluarga Roni.
“Dia (Roni-red) itu sampe sekarang nunggu-nunggu surat keterangan Covid-19 tapi enggak ada aja,” lata Ahmad. Padahal, almarhumah dikuburkan dengan menggunakan protokol pemakaman Covid-19.
Ahmad mengungkapkan, Roni merupakan warga Kampung Cidadap Pengasinan RT 15 RW 04 Kelurahan Tinggar, Kecamatan Curug, Kota Serang. Roni merupakan warga kampung tetangganya.
Saksikan Podcast Meja Redaksi di Banten Raya Channel
Akhirnya keluarga Roni menggali kembali kuburan istrinya setelah berada di dalam kuburan selama tujuh hari. Setelah itu memandikan dan menyalatinya lalu memakamkannya kembali di kuburan yang sama.
Setelah dimandikan dan disalatkan barulah Roni dan keluarga merasa plong dan mengikhlaskan kepergian istrinya. (tohir)
















