BANTENRAYA.COM – Penyakit ginjal kronik atau PGK masih menjadi salah satu momok penyakit paling mematikan di dunia.
Data dari Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), satu dari 10 orang di dunia tercatat menjadi pesakitan setelah dokter memvonis mengidap penyakit ginjal kronik.
Bahkan, 9 dari 10 orang tersebut telat menyadari bahwa mereka sedang dalam bahaya akibat penyakit ginjal kronik yang dideritanya.
Baca Juga: Dugaan Korupsi Komputer UNBK, Penyidik Kejati Banten Cek Laptop dan Server Milik 19 Sekolah
Ketua Umum KPCDI Tony Richard Samosir menjelaskan, banyak orang yang tidak mengetahui telah mengalami gagal ginjal karena minimnya literasi dan edukasi.
Hal ini tentu menjadi persoalan besar di dunia dan segera harus diselesaikan agar tidak semakin banyak yang jatuh sakit.
“Kini bertepatan dengan World Kidney Day atau Hari Ginjal Sedunia yang tahun ini jatuh pada Kamis 10 Maret 2022. Dibutuhkan kerja nyata dan kolaborasi untuk memberikan edukasi kesehatan ginjal bagi masyarakat,” kata Tony melalui press rilis yang diterina Bantenraya.com.
“Apalagi tema yang diambil tahun ini adalah Ginjal Sehat untuk Semua: Menjembatani Kesenjangan Pengetahuan untuk Kesehatan Ginjal yang Lebih Baik,” katanya.
Sebagaimana diketahui, PGK juga memiliki dampak pada kehidupan sosial seperti keterbatasan bekerja, bepergian, pendidikan, keuangan, diet yang terbatas.
Kemudian perubahan gaya hidup dan aktivitas sosial yang akan berakibat pada rendahnya kualitas kesehatan pasien karena merasa dirinya tidak berguna.
Baca Juga: Silaturahmi Airlangga Hartarto dan Surya Paloh, Sepakat Jaga Pemerintah Jokowi
“Untuk itu diperlukan upaya pendekatan komunikasi dan edukasi untuk meningkatkan kualitas hidup pasien,” jelasnya.
Tony ingin membangun kekuatan strategi dan upaya mengelola stres sehingga berguna ketika mengalami kesulitan dan trauma saat memulai tindakan dialisis.
Selain itu, kata Tony, dibutuhkan dorongan semua stakeholder untuk memastikan bahwa diskriminasi dan kesenjangan dalam sistem pelayanan kesehatan juga perlu diidentifikasi, sehingga semua pasien diberi kesempatan untuk bersuara.
Baca Juga: 10 Keistimewaan Bulan Ramadhan, Umat Islam Wajib Tahu dan Nomor 4 Paling Mudah Dilakukan
“Akses informasi dialisis yang baik juga akan memberikan rasa nyaman bagi pasien. Di mana di saat pandemi sekarang masih banyak pasien ginjal kronik yang mendapatkan perlakuan diskriminasi dari pihak-pihak tertentu,” ungkapnya.
“Misalnya banyak pasien ginjal kronik yang menderita covid-19 tidak diterima oleh pihak rumah sakit untuk menjalani proses dialisis,” katanya.
Baca Juga: Ingin dikejar-kejar rezeki dan cepat kaya raya? lakukan 4 hal ini kata Syekh Ali Jaber
Diskriminasi tersebut dapat menurunkan kualitas hidup dan dapat mengancam keselamatan nyawa pasien.
“Hal ini sangat berbahaya karena angka mortalitas pasien ginjal kronik yang terpapar covid-19 meningkat seiring pandemi yang tidak kunjung usai,” papar Tony.
Ia menilai, diskriminasi ini sangat fatal karena telat melakukan dialisis atau cuci darah sama saja memerburuk kualitas kesehatan dan kematian adalah keniscayaan.
Baca Juga: Bayi yang Lahir di Posko Banjir Kota Serang Diberi Nama Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy
“Sebagaimana diketahui dialisis menjadi jalan pengganti fungsi ginjal yang sudah rusak dan tidak akan pernah kembali sehat,” tuturnya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal KPCDI Petrus Haryanto menjelaskan penyakit gagal ginjal dapat dicegah dengan menerapkan pola hidup sehat.
Pola hidup sehat, kata Petrus, membuat orang terhindar dari penyakit diabetes dan tekanan darah tinggi, di mana dua penyakit tersebut menjadi penyebab utama gagal ginjal, yang berujung cuci darah.
Baca Juga: Akan Dilantik Sebagai Kepala Otorita IKN, Ini Profil dan Biodata Lengkap Bambang Susantono
“Jika sudah gagal ginjal, hidupnya bergantung pada mesin hemodialisis. ***



















