BANTENRAYA.COM – Akademisi dan Pengamat Kebijakan Publik, Dr.Syaeful Bahri, memberikan raport hijau kepada Walikota Serang Budi Rustandi dan Wakil Walikota Serang Nur Agis Aulia di satu tahun periode pertama kepemimpinannya.
Menurut Syaeful Bahri, pada 20 Februari 2026 tepat satu tahun sudah kepemimpinan Budi-Agis menahkodai Serang.
Sebagai nakhoda baru yang membawa gerbong harapan besar, publik tentu berhak menagih janji-janji politik yang tertuang dalam RPJMD.
Dari kacamata kebijakan publik, masa satu tahun adalah fase konsolidasi dan peletakan fondasi. Namun, fondasi saja tidak cukup jika masyarakat belum merasakan perubahan signifikan di level layanan dasar.
Raport Hijau
Syaeful Bahri mengatakan, kinerja Budi-Agis yang patut diapresiasi dalam setahun terakhir adalah terdapat beberapa lompatan yang menunjukkan kemauan politik atau political will yang kuat.
1. Transformasi Digital dan Open Data :
Budi-Agis cukup berhasil mengintegrasikan berbagai layanan publik ke dalam satu platform digital. Hal ini menurunkan indeks potensi pungli dan meningkatkan transparansi anggaran yang dapat diakses publik.
BACA JUGA : Wujudkan Visi Misi Kota Serang Bagus, Budi-Agis Bakal Sulap Royal Jadi Mirip Braga
2. Revitalisasi Ruang Publik:
[ Royal Baroe] Adanya upaya serius dalam mempercantik wajah kota dan memperbaiki fasilitas umum (taman dan trotoar). Ini penting untuk meningkatkan livability index (indeks kelayakhunian) kota.
3. Responsivitas Media Sosial:
Gaya kepemimpinan Agis yang muda dan komunikatif di media sosial berhasil memangkas jarak komunikasi antara warga dan pemerintah. Keluhan warga kini mendapat respons lebih cepat dibanding periode sebelumnya.
Syaeful mengatakan, keunggulan pasangan Budi-Agis terletak pada sinergi dan kerja sama yang solid.
“Jadi sama sekali tidak kelihatan wakil wali kota itu mau berebut panggung, bahkan betul-betul memposisikan di perintah wali kota,” ujar Syaeful, kepada Bantenraya.com, Minggu 22 Februari 2026.
Menurut dia, pasangan Budi-Agis taktis dalam menangani banjir di Kota Serang khususnya di Kawasan Banten Lama.
“Mereka gercep menangani banjir di Banten Lama, bukan sekadar menggusur tapi tetap mempertimbangkan kepentingan rakyat. Hampir semua janji kampanye diwujudkan dengan kolaborasi bersama pemerintah pusat dan pihak swasta,” ucap dia.
Kendati demikian, Syaeful juga memberikan catatan kritis kepada Budi-Agis dalam satu tahun periode pertama memimpin Kota Serang. Catatan kritis itu adalah pekerjaan rumah (PR) yang masih menumpuk, namun, di balik capaian tersebut, ada beberapa catatan krusial yang harus segera dievaluasi:
BACA JUGA : Wujudkan Visi Misi Kota Serang Bagus, Budi-Agis Bakal Sulap Royal Jadi Mirip Braga
1. Ketimpangan Ekonomi dan Inflasi Lokal: Meskipun angka makro ekonomi terlihat stabil, daya beli masyarakat di tingkat bawah masih tertekan. Program pemberdayaan UMKM cenderung masih bersifat seremonial (pelatihan) dan belum menyentuh aspek akses pasar dan permodalan yang berkelanjutan.
2. Infrastruktur Pinggiran yang Terabaikan: Terjadi kontradiksi antara estetika pusat kota dengan kondisi infrastruktur di wilayah pinggiran. Masalah klasik seperti drainase yang buruk dan titik banjir tahunan masih menghantui warga setiap kali musim hujan tiba.
3. Kualitas Layanan Dasar (Kesehatan & Pendidikan): Digitalisasi tidak serta merta memperbaiki kualitas. Antrean di RSUD masih menjadi keluhan, dan pemerataan kualitas pendidikan antar wilayah belum sepenuhnya terwujud. Kita masih melihat adanya “gap” kualitas antara sekolah di pusat kota dan wilayah penyangga.
Hasil analisis akademisnya, Syaeful menilai bahwa tantangan Budi-Agis ke depan secara teoritis, keberhasilan kebijakan publik diukur dari 3E (Efektivitas, Efisiensi, dan Ekuitas).
“Tahun pertama Budi-Agis mungkin sudah memenuhi aspek efisiensi melalui digitalisasi, namun aspek ekuitas (keadilan) masih menjadi tanda tanya besar. Pembangunan jangan hanya berpusat pada apa yang terlihat oleh mata (fisik), tapi juga pada apa yang dirasakan oleh perut dan kantong warga (kesejahteraan),” jelas Syaeful.
BACA JUGA : Usai Sertijab Walikota Serang, Budi-Agis Sampaikan Pidato Pertama
“Pemerintah kota perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam “Gimmick Policy”—kebijakan yang terlihat bagus di media sosial, namun lemah dalam implementasi struktural,” tandas dia. (***)
















