BANTENRAYA.COM – Gerakan sosial dalam bidang lingkungan di Banten yang digagas Rangers For Clean, menciptakan sebuah program pengelolaan sampah dengan biaya murah serta mampu menekan volume sampah hingga 70 persen.
Ketua Rangers For Clean Ribkhi Aprilaganta mengatakan, sebuh terobosan bernama Material Recovery Facility (MRF) mampu mereduksi sampah yang semestinya bermuara ke TPA bisa ditekan menjadi lebih sedikit.
“Intinya adalah pengelolaan sampah dari hulu ke hilir dengan skema yang sudah tertata, dan biaya yang lebih murah,” kata Ribkhi kepada Bantenraya.com, Senin 19 Januari 2026.
BACA JUGA: Premier League Brighton vs Bournemouth, The Seagulls Siap Bikin Angker Amex Stadium
Namun, Ribkhi menyampaikan jika gagasan tersebut ternyata belum dapat diterapkan di Banten, lantaran birokrasi yang berbelit dan malah dilirik oleh daerah lain.
“Belum ada tindak lanjut, kami sudah bersurat ke pemerintah. Dan saat ini yang malah menggunakan skema MRF ada di Bogor dan di kawasan Jatiwaringin,” imbuhnya.
Secara perhitungan, Ribkhi menjelaskan jika estimasi biaya yang diperlukan untuk membuat sebuah MRF adalah Rp5-10 miliar, dengan area seluas 2 hektare.
“Hal ini jauh lebih efisien, dibandingkan harus kerja sama untuk pembuangan sampah ke TPA yang nilainya bisa Rp190 miliar per 4 tahun,” tutur Ribkhi.
Baru-baru ini, lanjut Ribkhi ada perusahaan pengelola sampah bernama Waste 4 Change hendak membuka MRF di Kota Cilegon dengan dana CSR sebesar Rp40 miliar.
“Namun disayangkan, dari perusahaan tersebut belum mendapatkan persetujuan dari pemerintah daerah,” paparnya.
Hal ini juga bisa menjadi solusi untuk penanganan masalah banjir dan pencemaran lingkungan, serta bertumpuknya sampah di Tangerang yang kini menjadi sorotan.
“Di RMF Jatiwaringin sehari masuk 40 ton sampah dari BSD dan benar-benar residunya di olah, semua sampah akan kita kelola,” ungkap Ribkhi.
Selain itu, dari segi penyerapan kerja satu area RMF mampu menyerap sekitar 500-700 orang, yang bertugas melakukan pemilahan sampah.
“Tentu, ini memerlukan kerjasama yang baik antara pemerintah, masyarakat, serta pihak swasta supaya masalah sampah bisa teratasi, termasuk output dari sampah ini bisa meningkatkan perekonomian,” kata Ribkhi.*















