BANTENRAYA.COM – PT ASDP Indonesia Ferry memprediksi pada Jumat dan Sabtu 2-3 Desember 2026 menjadi puncak arus balik Angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) dari Sumatera ke Jawa.
Di mana, menghadapi puncak arus balik Nataru tersebut PT ASDP akan menambah pengoprasinak kapal yang sebelumnya hanya 28 menjadi 34 kapal.
Direktur Utama ASDP Heru Widodo menyampaikan, menghadapi arus balik Nataru yang akan melonjak secara penumpang, ASDP akan menambah oprasi kapal yang sebelumnya hanya 28 kapal saat normal, menjadi 34 kapal menghadapi puncak.
BACA JUGA: Kontrak BOT Pasar Rangkasbitung Habis 2028, Nasib Pedagang Belum Jelas
“Puncak arus balik diperkirakan terjadi pada 2–3 Januari 2026. Seluruh langkah antisipatif telah disiapkan, dan kesiapsiagaan terus dijaga untuk memastikan kelancaran serta keselamatan pengguna jasa selama periode tersebut,” ujarnya.
Heru menyampaikan, tren arus balik mulai menguat seiring mendekatnya akhir masa liburan serta penerapan kebijakan Work From Anywhere (WFA). Meski demikian, kondisi pelayanan secara umum masih terkendali.
“Pergerakan arus balik memang mulai meningkat, namun seluruh sistem layanan berjalan dengan baik. Ini menunjukkan kesiapan operasional serta sinergi kuat seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga kelancaran mobilitas masyarakat,” ujarnya.
BACA JUGA: Kemenag Pandeglang Sambut Akhir Tahun 2025, dan Awal Tahun Baru 2026 dengan Pengajian
Sementara itu, Corporate Secretary ASDP, Windy Andale, menjelaskan bahwa perusahaan terus mengedepankan langkah-langkah antisipatif untuk meminimalisasi potensi kepadatan selama arus balik.
Upaya tersebut meliputi penerapan delaying system di sejumlah titik buffer zone, skema tiba bongkar berangkat (TBB), kesiapsiagaan petugas di lapangan, serta penguatan koordinasi lintas instansi terkait.
“Masyarakat juga diimbau untuk merencanakan perjalanan dengan baik dengan memesan tiket sejak jauh hari melalui aplikasi Ferizy,” tuturnya.
“Pengisian data diri yang akurat dinilai penting untuk mempercepat proses pelayanan di pelabuhan sekaligus memastikan hak pengguna jasa tetap terpenuhi apabila terjadi kondisi tidak terduga,” ucapnya.
Terkait faktor cuaca, imbuh Windy, ASDP terus berkoordinasi intens dengan BMKG dalam memantau perkembangan kondisi cuaca dan mengimbau pengguna jasa untuk mengedepankan aspek keselamatan selama perjalanan laut.
Perhatian ini terutama ditujukan bagi masyarakat yang melintasi jalur penyeberangan. Hal itu karena, potensi cuaca ekstrem masih diperkirakan berlangsung hingga awal Maret 2026.
















