BANTENRAYA.COM – Sejumlah sopir angkot di Kota Cilegon mengaku kesulitan untuk membuat barcode sebagai syarat pembelian bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis pertalite.
Selain gagap teknologi (gaptek) banyak sopir angkot yang menggunakan masih menggunakan handphone atau HP jadul.
Para sopir angkot tersebut berharap baik Pertamina dan Pemerintah Kota Cilegon dalam hal ini Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Cilegon bisa memfasilitasi.
Baca Juga: Rela dari Kocek Sendiri! 20 Tahun Rusak, Warga Lebak Ramai-ramai Gotong Royong Perbaiki Jalan
Salah Seorang sopir angkot jurusan Cilegon-Merak Umar mengaku, sampai sekarang tidak mempunyai barcode untuk membeli BBM bersubsidi. Dirinya mengaku tidak mengetahui caranya.
“Saya belum punya. Ini bagaimana caranya juga tidak tahu,” jelasnya, Minggu 8 September 2024.
Beruntungnya, papar Umar, ada salah satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Cilegon yang masih belum menerapkan penggunaan barcode tersebut.
Baca Juga: Nonton Romance In The House Episode 10 Sub Indo Full Movie Beserta Spoiler Lengkap
“Hampir rata-rata semuanya sudah pakai tapi untungnya masih ada yang tidak menggunakan itu (barcode). Jadi paling mengisi disitu,” jelasnya.
Perharinya, papar Umar, ia mengkonsumsi BBM jenis pertalite sebanyak Rp100 ribu untuk 3 kali tarikan pulang pergi (PP) Cilegon – Merak.
“Paling 3 kali tarikan itu Rp100 ribu untuk pertalite. Kalau kedepan diharuskan saya juga bingung, maka mengisi pertamax,” jelasnya.
Baca Juga: 17.028 Warga Lebak Terdampak Kekeringan, BPBD Klaim Tak Lebih Parah dari 2023
Menurut Umar, pihaknya berharap ada kebijakan dari dinas di Kota Cilegon dan Pertamina untuk memfasilitasi para sopir angkot. Sebab, ada banyak sopir angkot yang gaptek dan belum punya handphone bagus.
“Semoga saja ada dari dinas untuk memfasilitasinya. Atau Pertamina secara langsung,” jelasnya.
Sopir angkot lainnya, Budi menyampaikan, ia sudah memiliki barcode tersebut karena anaknya yang membuatkan.
Baca Juga: Sopir Ambulans Desa di Kabupaten Serang Diduga Cabuli Anak di Bawah Umur, Masuk DPO Polda Banten
“Saya sudah punya tapi anak yang buat. Kalau sendiri saya enggak bakal bisa,” jelasnya.
Budi mengaku, sebenarnya hal tersebut seharusnya berlaku tidak sama. Sebab, angkot berfungsi untuk umum dan menggunakan plat kuning.
“Harusnya kami dibantu. Bukan malah berlaku sama dengan mobil (kendaraan roda empat lainnya-red). Kami membantu masyarakat juga, jangan dipersulit,” tegasnya. ***



















