BANTENRAYA.COM – Pembelian bahan bakar minyak atau BBM bersubsidi pertalite melalui aplikasi MyPertamina dikomplain para sopir angkutan kota atau Angkot Serang.
Hal itu karena pembelian BBM bersubsidi pertalite penggunaan aplikasi MyPertamina bikin susah para sopir Angkot Serang.
Penggunaan aplikasi MyPertamina bikin pengisian BBM subsidi pertalite makin ngantri lama, sehingga berimbas terhadap pendapatan atau setoran sopir.
Baca Juga: Bonyok! Pria Paruh Baya di Kabupaten Serang Kepergok Curi Motor, Warga Antusias Beri Salam Olahraga
Salah seorang sopir angkot di Kota Serang, Ujang mengatakan, pembelian BBM subsidi pertalite melalui aplikasi MyPertamina bikin sulit dan memperlambat waktu.
“Tanggapan saya bikin ribet bikin pusing. Ngabisin waktu. Kita kan mesti ngantri bikin barcode segala macam mending kalau kitanya ngerti,” ujarnya, ditemui di Ciwaru, saat ngetem, Minggu 8 September 2024.
Tak hanya itu, ia juga menilai pembelian BBM subsidi pertalite membuatnya pusing, lantaran tak memiliki hape pintar dan belum paham mengoperasikannya.
Baca Juga: Sopir Ambulans Desa di Kabupaten Serang Diduga Cabuli Anak di Bawah Umur, Masuk DPO Polda Banten
“Soalnya nggak semua sopir punya HP android. Otomatis katanya mesti daftar pakai Android. Mesti ke akun. Nanti dari Pertamina email segala,” ungkapnya.
“Nggak semua sopir itu tahu walaupun punya hapenya juga, belum tentu tahu belum tentu paham,” tuturnya.
“Ngisinya gimana, cara menggunakannya gimana. Memang kita bisa ke SPBU cuma kan ngabisin waktu,” jelas dia.
Baca Juga: Distan Bongkar Penyebab Nilai Tukar Petani Bisa Naik di Tengah Ancaman Puso
Ujang mengaku saat ini pembelian BBM subsidi pertalite di SPBU masih bisa walaupun belum menggunakan HP Android.
Hanya saja memakan waktu lama, karena harus menginput nomor kendaraan, jumlah pembelian BBM subsidi pertalite
“Sebetulnya orang-orang di SPBU ini sudah ribet gitu. Harusnya nggak usah pake barcode kayak beginian. Nyusahin juga ke kitanya. Enak aturan kayak dulu lagi,” ungkapnya.
Baca Juga: Terkendala Sinyal, Siswa SMPN 4 Muncang Naik Bukit untuk Kerjakan ANBK
Ia menjelaskan, saat ini pembelian BBM subsidi pertalite di SPBU masih bisa dilakukan walaupun tidak menggunakan aplikasi MyPertamina, karena belum menyeluruh memberlakukan kebijakan tersebut.
“Masih bisa katanya sih. Cuma per tanggal 1 Oktober nanti mungkin sudah dilaksanakan seluruh. Kalau sekarang masih ada sebagian dari SPBU yang masih bisa,” jelas Ujang.
Ujang mengaku pasrah bila kebijakan pembelian BBM subsidi pertalite sudah diberlakukan di seluruh SPBU.
Baca Juga: Distan Bongkar Penyebab Nilai Tukar Petani Bisa Naik di Tengah Ancaman Puso
“Saya sih orang kecil lah. Yang namanya aturan pemerintah itu yang buat. Yang mau nggak mau mesti dijalankan,” ujarnya.
“Cuma kan kalau kita memohon kepada pemerintah kalau memang bisa mah tolong aturan tersebut buat para sopir-sopir angkot yang punya angkutan umum tolong diperhatikan,” usul dia.
Ia juga mengeluhkan jika sopir angkot harus membeli BBM jenis Pertamax, maka pengeluarannya membengkak, karena pendapatan sopir angkot tidak sebanding dengan biaya pengeluaran.
Baca Juga: Lulusan SMA BIsa Daftar! Info Loker Harita Nickel Grup Terbaru 2024, Siap di Tempatkan di Jakarta
“Kalau angkot itu kan setiap hari kita ngisi bensin. Kalau aturannya seperti ini mungkin susah. Nggak bisa kita isi pertalite pakai isi Pertamax harganya sudah beda,” tuturnya.
“Dari situ saja sudah pasti dari segi pendapatan saja sudah jauh berbeda. Sudah pasti berkurang. Banyak pasti berkurangnya,” keluhnya.
Aturan pembelian BBM subsidi pertalite menggunakan aplikasi MyPertamina juga menambah pengeluaran para sopir, karena harus membeli hape pintar dan kuotanya.
Baca Juga: Nonton Love Next Door Episode 8 Sub Indo Full Movie: Seung Hyo Hibur Seok Ryu?
“Sudah pasti berat. Jangankan beli kayak gituan buat makan saja kadang anak kita susah. Belum mikirin setoran. Belum mikirin bensinnya. Belum buat di rumah bawa pulang,” imbuhnya.
“Apalagi sampai mikirin buat beli kuota. Belum kuota-kuota buat anak belajar segala macam kan harus kita pikirin. Berat sudah pasti banyaklah,” ungkap Ujang.
Ujang mengaku pendapatan per harinya tidak menentu, karena mendapatkan penumpang sekarang ini sulit, tidak seramai dulu, lantaran harus bersaing dengan taxi online.
Baca Juga: Salurkan Hobi Bernyanyi Lewat Live TikTok, Warga Serang Ini Disawer Ratusan Ribu
“Setoran Rp 50 ribu. Tergantung. Malah jarang. Sekarang ini susah. Sudah banyak taxi online,” katanya.
“Seumpamanya kita muter satu hari di atas Rp50 ribu-Rp100 ribu. Bersih. Kotornya Rp200 ribu berikut bensin,” beber sopir angkot jurusan Kepandean-Terminal Pakupatan, ini.
Keluhan serupa diungkapkan sopir angkot lainnya, Sanihin. Kata dia, pembelian BBM subsidi pertalite bikin ribet dan pusing.
Baca Juga: Daftar Film Bioskop di Cilegon Hari Ini dengan Harga Tiket, Ada Thaghut hingga Kaka Boss
“Apalagi pakai barcode. Pakai barcode boleh tapi jangan pakai uang. Ini kan bikin ribet. Bikin barcodenya belum punya,” ucapnya.
“Mending ribet-ribet juga kalau cetrek langsung, jadi itu kadang-kadang dua hari tiga hari kan ngeganggu cari uang,” ungkap Sanihin.
Ia mengungkapkan, pembuatan akun aplikasi MyPertamina harus bayar.
“Dengar-dengar ada yang Rp 20 ribu, Rp 25 ribu ada yang Rp 30 ribu. Saya sudah bikin waktu musim yang lalu itu,” ungkap dia.
Baca Juga: TERBARU! Kode Voucher Shopee 9.9 Hari Ini 9 September 2024, Nikmati Promo Diskon Hingga 99 Persen
Jika kebijakan itu diberlakukan, Sanihin mengaku lebih baik menyerah, karena menyulitkan dirinya.
“Nggak tahulah. Berhenti saja. Susah ini. Bagaimana nanti saja kalau ribet-ribet mah. Boro-boro BBM makan saja belum. Ngopi saja ngutang sama warung,” curhatnya.
Ia mengaku penghasilan sopir sekarang tidak menentu, karena sudah banyak jasa angkutan umum online.
Baca Juga: All Indonesian Final, Ganda Putri Kunci Juara Taipei Open 2024
“Jangan ditanya. Paling cukup buat setoran sama bensin doang. Minimal Rp 150 ribu. Setor Rp 50. Bensin Rp 75 ribu. Paling dapat berapa. Nangis istri,” rintih Sanihin. ***



















