Oleh: Mahpudin (Dosen Pembimbing Lapangan KKM Untirta Kelompok 62)
Potret kehidupan warga di wilayah perbatasan yang terpencil dan terisolir menyimpan cerita yang cukup memprihatinkan. Hal ini salah satunya dialami oleh warga di Desa Malangnengah, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Pandeglang.
Sebelumnya, Kabupaten Pandeglang pernah masuk ke dalam kategori daerah tertinggal mengacu pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 131 Tahun 2015 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015-2019.
Berbagai program pembangunan, pemberdayaan dan peningkatan kualitas pelayanan publik terus digenjot oleh pemerintah setempat agar mampu memperbaiki taraf kehidupan warga.
Misalnya Pemerintah Kabupaten menggencarkan program perbaikan infrastruktur jalan, dikenal dengan istilah Jakamantul (Jalan Kabupaten Mantap Betul) dan Integrasi berbagai pelayanan publik untuk merampingkan birokrasi dan efisiensi kerja pelayanan melalui pembentukan Mall Pelayanan Publik (MPP). Hasilnya, di tahun 2019 Kabupaten Pandeglang berhasil keluar dari daftar sebagai daerah tertinggal.
Meskipun Kabupaten Pandeglang tidak lagi menyandang status sebagai daerah tertinggal, namun potret kehidupan warga desa – terutama di wilayah perbatasan masih menyisakan permasalahan serius.
Mengacu pada data Kementerian Desa di tahun 2020 bahwa setidaknya sekitar 127 desa yang tersebar di berbagai kecamatan di kabupaten Pandeglang berstatus sebagai Desa Tertinggal. Salah satu desa tersebut adalah Desa Malangnengah, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Pandeglang.
Kondisi Kehidupan Warga
Desa Malangnengah termasuk ke dalam wilayah perbatasan yang dekat dengan perbatasan Benua Australia. Secara geografis, desa ini berada di ujung barat dengan kontur perbukitan. Akses menuju pusat pemerintahan Kabupaten terbilang jauh dengan jarak tempuh 3 jam menggunakan kendaraan darat.
Oleh karena itu, desa ini dapat dikatakan sebagai desa terpencil dan terisolir. Kondisi infrastruktur jalan kurang baik karena masih berupa bebatuan besar dan tanah merah sehingga menghambat aksesibilitas warga. Sebagian besar warganya bekerja sebagai petani sebagian lainnya memilih bermigrasi ke Jakarta dan sekitarnya untuk mencari penghidupan yang layak.
Data BPS Kabupaten Pandeglang tahun 2020 memberikan gambaran nyata mengenai nestapa kehidupan warga. Misalnya, pada aspek pendidikan, di Desa Malangnengah belum ada bangunan sekolah PAUD. Sementara sekolah TK hanya ada 1 gedung, itu pun dikelola swasta.
Baca Juga: Baru Dioperasikan Dua Bulan, Kabel Mesin Pengolah Sampah Kabupaten Serang Hilang Dicuri
Gedung SD terdapat dua berstatus negeri. Sedangkan sekolah level menengah pertama dan atas tidak ada. Tercatat hanya ada satu gedung SMK berstatus swasta. Warga yang ingin mengenyam pendidikan harus menempuh akses yang cukup jauh. Implikasinya, motivasi mereka untuk belajar menurun.
Hal ini dapat dilihat dari banyaknya warga Malangnengah yang hanya menyelesaikan status pendidikan di level SD dan SMP. Jenjang SMA sedikit sekali, bahkan belum ada warganya yang mampu meneruskan pendidikan hingga ke level perguruan tinggi.
Keterbatasan infrastruktur dan aksesibilitas pendidikan menyebabkan rendahnya kapasitas sumber daya manusia untuk dapat bersaing dalam dunia kerja dan peningkatan ekonomi keluarga. Pegawai pemerintahan desa belum ada yang berstatus sebagai pegawai negeri dan mayoritas lulusan SLTA.
Baca Juga: Uniknya Anggota KPPS di TPS 02 Kelurahan Kasemen Kompak Pakai Baju Adat Suku Baduy
Sulitnya mencari peluang ekonomi juga sebagai dampak dari lemahnya sumber daya manusia. Masih data dari BPS, perumahan warga di Desa Malangnengah sebagian besar bersifat tidak permanen dan semi permanen.
Pada aspek kesehatan juga menunjukkan keadaan yang kurang menguntungkan bagi warga. Data BPS menunjukkan tidak ada fasilitas kesehatan di Desa Malangnengah selain Pos Kesehatan Desa (Poskedes).
Hal ini membuat warga kesulitan untuk mengakses pelayanan kesehatan. Umumnya desa tertinggal masih bermasalah pada hal pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Padahal ketiga aspek ini menjadi penting untuk menopang indeks pembangunan manusia.
Akses internet juga menjadi salah satu persoalan bagi warga. Sinyal buruk karena tidak adanya infrastruktur jaringan. Hanya beberapa provider jaringan tertentu saja yang tersedia. Hal ini turut menyulitkan warga dalam mengakses digital untuk mendapatkan kemudahan informasi dan peningkatan ekonomi yang terkoneksi secara daring. Kesenjangan digital masih sangat terasa di desa ini.
Pengabdian Mahasiswa
Berangkat dari kondisi kehidupan warga desa yang memprihatinkan, mahasiswa UNTIRTA yang tergabung dalam KKM kelompok 62 berusaha memberikan kontribusi nyata dalam bentuk program pengabdian. Urgensi dalam kegiatan pengabdian ini sebagai pengejawantahan dari aktualisasi tri dharma perguruan diri yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian.
Sejatinya civitas akademik perguruan tinggi tidak hanya berkutat pada diskusi keilmuan di ruang kelas, tetapi yang tidak kalah penting adalah menerapkan keilmuan agar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyakat luas.
Baca Juga: Sejarah Gunung Pulosari, Benarkah Pernah Dikunjungi Sunan Gunung Jati dan Putranya Hasanuddin?
Pengabdian masyarakat oleh mahasiswa ini berlangsung selama satu bulan dari 11 Januari hingga 12 Februari 2024 di Desa Malangnengah. Mahasiswa menetap dan berbaur dengan masyarakat untuk mengamati problematika sosial untuk dicarikan solusinya. Beberapa program pengabdian yang dilakukan seperti edukasi tentang gizi seimbang untuk mencegah stunting.
Kegiatan ini melibatkan ibu-ibu yang memiliki anak berusia 0-24 bulan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat terkait cara pencegahan stunting yang dapat menyebabkan dampak negatif untuk pertumbuhan ana di kemudian hari. Feedback yang diharapkan setelah berlangsungnya program ini adalah peningkatan pengetahuan ibu dalam hal pola asuh anak untuk mencegah stunting dengan cara pemenuhan gizi seimbang.
Program pengabdian lainnya adalah Penyuluhan Irigasi Cerdas Melalui Irigasi Tetes. Kegiatan ini melibatkan Kelompok Wanita Tani di Desa Malangnengah, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Pandeglang. Kegiatan ini bertujuan untuk memanfaatkan pekarangan rumah sebagai lahan pertanian untuk ditanami tanaman hortikultura.
Baca Juga: Puspemkab Serang Diserang Bau Belerang, Dinas ESDM Banten Lakukan Kajian
Pelaksanaan kegiatan berupa penyuluhan yang didampingi oleh koordinator penyuluh pertanian di desa tersebut dengan menyampaikan materi dan demonstrasi pembuatan pupuk bokashi serta penerapan irigasi tetes.
Setelah kegiatan ini usai, diharapkan masyarakat di desa tersebut mampu menjaga keaktifan aktivitas pertaniannya pada saat musim kemarau yang panjang. Kegiatan ini muncul dari keluhan warga mengenai masalah kekeringan dan tidak adanya irigasi sehingga menyulitkan petani dalam bertani atau berkebun.
Program pengabdian yang dilakukan oleh mahasiswa diharapkan dapat memberikan manfaat kepada warga Desa Malangnengah agar lebih berdaya. Tentu saja diperlukan kerjasama antar berbagai stakeholder baik dari pihak pemerintah, swasta, masyakat sipil, dan perguruan tinggi untuk bisa bahu-membahu dalam membantu warga agar keluar dari jeratan kemiskinan dan ketidakberdayaan.***


















