BANTENRAYA.COM – Seorang nelayan bernama Kholid viral beberapa hari terakhir di media sosial.
Kholid menjadi perbincangan publik di tengah-tengah perdebatan tentang keberadaan Pagar Laut sepanjang 30 meter di Tangerang.
Beberapa hari terakhir, keberadaan Pagar Laut yang ada di Tangerang tersebut menuai pro dan kontra.
Pemerintah setempat sudah menyatakan bahwa keberadaan Pagar Laut yang ada di Tangerang tersebut ilegal.
Namun hingga kini masih menjadi pertanyaan besar siapa orang di balik Pagar Laut yang ada di Tangerang.
Seorang nelayan asal Serang, Kholid begitu keras menolak pembangunan Pagar Laut tersebut.
Baca Juga: Mulai Besok! Ini 6 Lokasi Job Fair Offline Pemkot Tangerang Spesial HUT Kota Tangerang ke-32
Dirinya dengan lantang dan berani menyatakan hal tersebut saat diundang di acara Indonesia Lawyer Club.
Dikutip oleh Bantenraya.com dari akun Instagram @infobalaraja pada Senin, 20 Januari 2025 tentang seorang nelayan bernama Kholid.
“Orang terkeren tahun ini pak Kholid nelayan asal Serang Banten,” tulis keterangan akun Instagram @infobalaraja.
Baca Juga: Rekomendasi Tanggal Cuti Imlek 2025, Bisa Liburan Panjang Hingga Seminggu Full
Kholid adalah seorang nelayan yang berasal dari Desa Kronjo, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang, Banten.
Dirinya mewakili para nelayan menolak dengan keras keberadaan Pagar Laut yang ada di wilayah Tangerang.
Sebagai seorang nelayan, Kholid menyebutkan telah mengalami kerugian karena keberadaan Pagar Laut di Tangerang tersebut.
Baca Juga: Jualan Cuma Setengah Hari, Omzet Bakso Ikan Goreng di Kota Serang Tembus Rp24 Juta Per Bulan
Kholid diundang dalam acara ILC hingga mendapatkan berbagai pujian dari publik.
Dirinya lantang membicarakan Pagar Laut yang ada di Tangerang dengan gaya bicaranya dan wawasannya yang dinilai sangat luas.
Dalam acara tersebut, Kholid menyatakan ketidaksetujuannya terhadap Pagar Laut yang membentang dari wilayah Tangerang hingga sebagian wilayah Bekasi.
Hal tersebut dikarenakan keberadaan Pagar Laut tersebut dinilai merugikan banyak para nelayan.
Ia mengaku sempat mendapatkan sebuah ancaman agar berhenti untuk mengurusi masalah yang ada di Tangerang tersebut.
Akan tetapi, menurutnya hal tersebut bukan hanya urusan bagi masyarakat sekitar yang tertancap oleh Pagar Laut, melainkan juga semua nelayan.
Baca Juga: 6 Tempat Makan Durian di Cilegon, Harga Terjangkau, Rasa Lembut dan Enak
Dirinya kemudian mengungkapkan isi sebuah buku berjudul “Logika Penjajah” Karya Yai Midi.
“Padahal kalau menurut saya sebagai nelayan harusnya men punya pandangan tidak boleh persial. Nah ciri-ciri penjajah itu yang mempunyai pandangan persial. Sampai tingkatannya kita tidak boleh nolongin tetangga kita yang sedang kelaparan atau tetangga kita yang sedang dijajah,” katanya.
Menurut Kholid, Pagar Laut tersebut seolah koporasi yang sedang mencaplok kedaulatan negara di Indonesia.
Baca Juga: Honorer Tetap Bisa Pinjam Uang di Koperasi Pegawai Pemkot Cilegon, Ini Syaratnya?
Korporasi selalu berbicara tentang untung dan rugi yang membuat dirinya sebagai nelayan dibalut dengan kemiskinan. ***















