BANTENRAYA.COM – Menurut ensiklopedia Britania, kata Banten tidak akan ditemukan. Namun yang akan ditemukan adalah kata Bantam.
Hal tersebut diungkapkan Encep Supriatna, salah seorabg pembicara dalam Webinar Kontribusi Sejarah Dalam Memperkokoh Identitas Banten yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan atau Dindikbud Banten.
Menurut Encep, tidak ditemukan kata Banten di Ensiklopedia dikarena orang-orang Belanda yang datang ke wilayah paling barat Pulau Jawa ini, menyebut dan mengenal Banten dengan daerah Bantam (dalam ejaan bahasa Belanda).
Baca Juga: Tafsir Mimpi tentang Tikus dalam Islam, Kedatangan Wanita Fasik Sampai Pertanda Dapat Rezeki
Dalam perkembangan sejarah, awalnya masyarakat Banten menyembah berhala, kemudian memeluk agama Budha, Hindu dan kemudian Islam.
Masyarakat Banten memiliki karakter yang tegas, sehingga tidak ingin tunduk pada peraturan yang telah ditetapkan, terutama pada mas pemerintahan kolonial Belanda.
“Karajaan Banten Girang bercorak Hindu. Di Bali, kata Banten berarti sesajen yang berisi daun kelapa yang terdapat beras, kembang dan lain-lain,” kata Encep.
Baca Juga: Niat Jemput Perahu yang Mogok, Nelayan Labuan Hilang Terseret Ombak di Perairan Pulau Liwungan
Ia menjelaskan, selain sebagai warisan historis, wilayah Banten juga sebagai komunitas kultural, yang menggunakan dua bahasa yaitu Sunda dan Jawa.
Orang Banten menurut Proff Tihami sebagai Sub Etnis Sunda yang berasal dari kata Sund yang berarti Terang, Air, Tumpukan, pangkat.
Sedangkan dalam Bahasa Jawa berarti bersusun, menerangkap. Sedangkan dalam Bahasa Sunda artinya Sonda, baik, bagus, unggul, Indah, sundari cantik dan ganteng.
Masih dijelaskan Encep, terbentuknya masyarakat Banten Diperkirakan pada abad ke-7 dan ke-8 M (abad pertama hijriah).
Dimana pedagang-pedagang muslim telah singgah di nusantara, sehingga agama Islam sudah banyak dikenal dan dianut oleh beberapa penduduk pribumi di nusantara, termasuk di daerah Sunda.
“Banten yang berada di jalur pelayaran international diperkirakan pada abad pertama masehi sudah dikunjungi oleh bangsa lain, diantaranya India, Cina dan Eropa,” ujarnya.
Begitu juga dengan muballigh-mubaligh Arab, Cina dan India dan Peurelak singgah di Banten dan mengajarkan agama Islam di tanah jawara.
Saat Sunan Ampel pertama datang ke Banten, kata Encep, penduduk Banten beragama Islam, walapun Bupatinya masih beragama Hindu.
Bahkan di Banten sudah berdiri mesjid di Pecinan, yang kemudian diperbaiki oleh Syarif Hidayatullah. Penaklukan Banten Girang terjadi pada tahun 1525 M.
Sedangkan pendirian Banten (Pesisir Surosowan) sesuai bukti arkeologis dengan berita asing dan Purwaka Caruban Nagari, terjadi tidak lain pada tahun 1526 M.
“Pemindahan ibukota Banten dari Banten Girang ke Surosowan (Banten Pesisir) itu dimungkinkan terjadi pada tanggal 1 Muharam 933 Hijriah.
” Yang menurut Wuskfeld, bertepatan dengan tanggal 8 Oktober 1526 Masehi, sehingga berdirinya Kota Banten tanggal 8 Oktober 1526,” imbuhnya. ***


















