Kamis, 12 Maret 2026
Banten Raya
  • Daerah
  • NasionalNew
  • Pendidikan
  • Opini
  • Ekonomi & Bisnis
  • Teknologi
  • Hukum & Kriminal
No Result
View All Result
Banten Raya
  • Daerah
  • NasionalNew
  • Pendidikan
  • Opini
  • Ekonomi & Bisnis
  • Teknologi
  • Hukum & Kriminal
Kamis, 12 Maret 2026
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Banten Raya
  • Daerah
  • Nasional
  • Pendidikan
  • Opini
  • Ekonomi & Bisnis
  • Teknologi
  • Hukum & Kriminal

Kebenaran yang Tak Terorganisir

Banten Raya Oleh: Banten Raya
5 Januari 2022 | 21:02
Kebenaran yang Tak Terorganisir

Foto ilustrasi buruh Pixabay

Bagikan Ke WhatsAppBagikan Ke FacebookBagikan Ke TwitterBagikan Ke Telegram

Oleh : Hikmatul Walid*

 

Kenapa dalam bermedia sosial, kebanyakan orang Indonesia cenderung pasrah pada algoritma yang sudah ada? Bukankah itu produk neoliberalisme yang berusaha mengeliminasi seluruh kepentingan yang dianggap berseberangan dengannya?

ADVERTISEMENT

Di zaman sahabat Nabi (Khalifah Umar) kita mengenal serambi-serambi masjid (buthaiha) sebagai ruang publik bagi siapapun yang ingin berekspresi, bersenda-gurau atau bahkan membaca puisi.

Di Eropa, sejak mazhab Frankfrut dan genuinitas sastra Eropa, selalu saja menjadikan café-café sebagai ruang untuk berekspresi. Dalam karya-karya sastra Arab, semisal Najib Mahfudz,Youssef Idris atau Taha Husein, seringkali memakai warung kopi sebagai ruang publik.

Baca Juga: Target Pajak Daerah Pandeglang 2021 Capai 102 Persen Atau Rp51,89 Miliar

Di negeri kita, warung kopi dan gardu ronda menjadi pusat kosmos bagi para tokoh dalam novel Perasaan Orang Banten. Saat ini, ruang digital yang terus merevolusi diri, diniscayakan menjadi tempat pertemuan publik yang sehat dan demokratis.

Meskipun dalam perjalanannya, tampaknya jauh dari harapan, karena ruang publik digital justru dimanfaatkan oleh buzzer atau sekelompok orang yang dibayar untuk kepentingan bisnis, kekuasaan, bahkan kepentingan aliran agama tertentu. Konsekuensinya, kelompok lain yang dianggap bukan aliran dan jamaahnya akan dicap kafir, sesat, PKI dan seterusnya.

Pada awal kemunculan medsos, kita semua berharap bahwa ia akan berjalan secara natural dan alami. Tetapi kemudian, bisingnya orang-orang yang bicara bukan dalam kapasitasnya, semakin mengalahkan peran para pakar yang kompeten, sehingga ruang publik menjadi tercemar limbah (toxic) yang semakin tidak beradab.

Demokrasi yang kebablasan dalam dunia digital, kini dikuasai oleh perangkat-perangkat yang tak bertanggungjawab. Di dunia kesusastraan, kita melihat bagaimana opini yang sehat dan baik, justru direcoki oleh kepentingan-kepentingan bisnis yang giat beropini di luar nalar dan akal sehat.

Mereka yang berusaha mencounter jalan kebenaran, telah dibeliti oleh amarah dan kecemburuan. Sehingga kepentingan bisnis dan vested interests justru memihak karakteristik para netizen yang jauh dari kata ahli dan kompeten. Bahkan, sebagian seniman ikut-ikutan latah mengutak-atik kredibilitas dan kinerja sesama seniman dengan dalih “kritik sastra”, dan bukannya menyibukkan diri untuk mencipta kreasi-kreasi baru yang adihulung.

Kelompok bisnis, politisi, termasuk kaum agamawan ortodoks, ikut merecoki panggung demokrasi dalam ranah digitalisasi. Sehingga, otoritas keilmuwan dan kepakaran menjadi semu dan palsu, dan karenanya orang-orang yang berkompeten terkalahkan dari panggung dan ruang-ruang digital kita.

Oleh karena itu, kepakaran seseorang, baik di bidang keilmuwan, agama dan kesusastraan, perlu mengasah kompetensinya agar tidak terbatas di wilayah teks maupun buku yang bersifat manual dan konvensional. Tetapi, harus pintar berkolaborasi dengan kelompok yang dapat menguasai media sosial.

Baca Juga: Putaran Dua BRI Liga 1, Ada Persib Lawan Persita, Bhayangkara Bertemu Arema

Misalnya, novel Jenderal Tua dan Kucing Belang (yang sedang banyak dipertanyakan publik), pihak penulis atau penerbit harus pintar “bermain” bersama tim IT, kemudian diatur arah algoritmanya, hingga membentuk karya multimedia yang dinikmati publik, serta menguntungkan bagi pihak penulis dan penerbitnya.

Bukankah sejak masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib dinyatakan, bahwa kebenaran yang tak terorganisir, akan dapat terkalahkan oleh kebatilan dan kelaliman yang dengan canggih mengoorganisir dirinya?

BACAJUGA:

Android

Perkembangan Versi Android dan Keamanan Smartphone

20 Februari 2026 | 14:08
komputer

Pentingnya Belajar Komputer Sejak Dini untuk Menyiapkan Generasi Unggul di Era Digital

18 Februari 2026 | 13:29
wemos

Mikrokontroler Wemos dan Sensor Suhu DHT22 Sebagai Alat untuk Mengontrol dan Memonitoring Suhu Ruangan Berbasis Internet of Things

10 Februari 2026 | 06:30
sistem tertanam

Software dan Hardware pada Sistem Tertanam

10 Februari 2026 | 06:00

Selain itu, soal editing atau penyederhanaan bahasa. Ribuan akademisi dan sarjana di kampus-kampus, banyak yang menyibukkan diri menulis jurnal ilmiah yang hanya diakses oleh beberapa gelintir orang. Padahal, karyanya sangat aktual dan valid di era kekinian dan keindonesiaan.

Bagaimana mungkin, hasil penelitian berdasarkan metodologi riset di lapangan dan berbagai kepustakaan itu, hanya diakses oleh 50 hingga 100 orang, dalam suatu negeri berpopulasi 270 juta penduduk?

Karya-karya Pramoedya telah diakses oleh jutaan orang hingga saat ini. Meskipun gaya bahasanya sulit dicerna oleh angkatan milenial. Tetapi, validitas pesan moral yang terkandung di dalamnya tetap relevan. Apalagi masyarakat dunia sedang gandrung mempersoalkan spiritualitas lingkungan hidup (baca: Rumah Kaca) yang melampaui agama formal yang seringkali bicara di wilayah teks harfiah melulu.

Para sastrawan milenial mestinya tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus berkolaborasi menciptakan orkestrasi yang menawan, sehingga antara teks dengan konteks menjadi harmoni dan senyawa. Jangan malah sibuk mengutak-atik karya orang lain berdasarkan kedengkian, tanpa mengambil hikmah dan esensinya (nirsolusi).

Baca Juga: 5 Calon Pimpinan Baznas Lebak Sudah Ditangan Bupati Iti

Mereka harus mengenyahkan tradisi masa lalu yang sarat kecemburuan, terutama ketika suatu lembaga menganugerahi penghargaan kepada seorang penulis, lantas ujug-ujug muncul perlawanan yang berlandaskan amarah dan dendam pribadi. Jangan sampai muncul yang seperti itu lagi. Karena hal tersebut, akan mengotori citra, nama baik, serta mencemari kemuliaan si penulis itu sendiri.

Di sisi lain, perlu juga ditegaskan, bahwa setiap penulis dan intelektual perlu untuk menyederhanakan bahasanya. Mereka harus turun gunung dan bergabung dengan masyarakat, memantau mereka secara antropologis dan sosiologis. Dalam peribahasa Arab dinyatakan, “Ketika ilmunya semakin matang, seorang penulis dan intelektual akan sanggup menyederhanakan bahasanya.” (idza tammal aqlu qalla kalamuhu).

Dengan terjun ke lapangan, justru akan memperkaya khazanah dan kualitas keilmuwan. Gaya bahasanya justru semakin merakyat. Hingga mereka sanggup menjadi agen yang menarasikan bahasa yang sederhana, mudah dicerna, dan mudah dimengerti oleh semua kalangan. ***

*Mantan Ketua Serikat Buruh Cilegon (SBC), berdomisili di Temu Putih, Pasar Kelapa, Kota Cilegon.

Editor: Administrator
Tags: algoritma
Previous Post

Target Pajak Daerah Pandeglang 2021 Capai 102 Persen Atau Rp51,89 Miliar

Next Post

Jadwal Liga Italia, AC Milan Ketemu AS Roma dan Juventus Lawan Napoli

Related Posts

Android
Opini

Perkembangan Versi Android dan Keamanan Smartphone

20 Februari 2026 | 14:08
komputer
Opini

Pentingnya Belajar Komputer Sejak Dini untuk Menyiapkan Generasi Unggul di Era Digital

18 Februari 2026 | 13:29
wemos
Opini

Mikrokontroler Wemos dan Sensor Suhu DHT22 Sebagai Alat untuk Mengontrol dan Memonitoring Suhu Ruangan Berbasis Internet of Things

10 Februari 2026 | 06:30
sistem tertanam
Opini

Software dan Hardware pada Sistem Tertanam

10 Februari 2026 | 06:00
konservasi pohon langka
Opini

FPLI Gandeng Lintas Generasi untuk Ikut Aksi Nyata Konservasi Pohon Langka di Gunung Tilu Kuningan Jawa Barat

2 Februari 2026 | 17:32
penyiaran
Opini

Menagih Kembali Revisi UU Penyiaran

27 Januari 2026 | 12:10
Load More

Popular

  • Kasus perselingkuhan suami Maissy

    Dituding Jadi Selingkuhan Suami Maissy, Ibu Cindy Rizap Tegas Sang Anak Kena Tipu Dokter Riky Febriansyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jalan Bopeng-bopeng, Gubernur Banten Tagih Komitmen Pengelola Tol Tangerang-Merak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Walikota Serang Budi Rustandi Instruksikan Seluruh OPD Beralih ke Transaksi Digital

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemkot Serang Gelontorkan Rp 45 Miliar untuk THR PNS, PPPK Penuh Waktu Hingga PPPK Paruh Waktu 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tiga Bulan Anggaran Sekolah Gratis Belum Dibayar, Dindikbud Banten Dinilai Tidak Profesional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Angkanya Terus Meningkat, Pemprov Banten Dinilai Gagal Atasi Kemiskinan di Perkotaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 7 Link Twibbon Hari Perempuan Internasional 2026, Terbaru dan Paling Kekinian

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kampung Ramadan Spenda Cilegon, Kolaborasikan Literasi dan Numerasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabupaten Serang Miliki Dua Jembatan Baru Hasil Kolaborasi dengan TNI

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Arti Kalimat ‘Nyawit Nih Orang’ yang Banyak Digunakan di Media Sosial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Petugas Dapur SPPG Yayasan Sukaratu 6, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang, memperlihatkan selembar surat cinta dari siswa yang terselip dalam ompreng MBG, Rabu 11 Februari 2026. (Dokumentasi Bantenraya.com)

Selipkan Pesan di Ompreng MBG, Peserta Didik di Pandeglang Request Menu: Minta Nasi Goreng hingga Ayam

12 Februari 2026 | 05:00
SMAN 1 Cimarga

Pengakuan Siswi SMAN 1 Cimarga yang Ikut Mogok Sekolah, Bukan Dukung Siswa Merokok tapi……

18 Oktober 2025 | 12:16
Pemprov Banten kembali membuka pendaftaran mudik gratis

Banyak yang Mengundurkan Diri, Pemprov Banten Buka Ulang Pendaftaran Mudik Gratis

24 Februari 2026 | 14:42
Kabupaten serang PT PWI

Sempat Produksi Sepatu di Kabupaten Serang, PT PWI 1 Bakal Bangkit Buka Usaha Baru di Cikande

2 Februari 2026 | 17:11

Dukung Pemulihan Ekonomi Nasional, Bjb Backup Total Pembiayaan UMKM

Asooooy… Kepala Desa akan Diajak Studi Banding ke Korea dan China

Seluruh Ospek di Kampus Diputuskan Digelar Online, Termasuk di Banten

Mudik Resmi Dilarang, Efektif 24 April

Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Serang Abidin Nasyar. (Dok Pemkab Serang)

Kabar Baik untuk PPPK Paruh Waktu di Kabupaten Serang, Honor Aman dan Insentif Bertambah

12 Maret 2026 | 17:35
Penyanyi dangdut Shinta Arsinta

Shinta Arsinta Terseret Video Penggrebekan Artis di Kamar 22, Sang Penyanyi Dangdut Bantah Bukan Dirinya

12 Maret 2026 | 17:08
In Your Radiant Season

Drakor In Your Radiant Season Episode 6 Sub Indo: Spoiler Lengkap dengan Jadwal Tayang

12 Maret 2026 | 16:50
Nasi tempong

Nasi Tempong dan Tutug Oncom Kudapan Primadona di Hiromi Anyer

12 Maret 2026 | 16:43

Tag

2022 Andra Soni ASN banjir Banten Beasiswa BRI Brigadir J BRI Super League Cilegon drakor drama Korea Harga Tiket Helldy Agustian Indonesia Jadwal jadwal tayang Kabupaten Lebak kabupaten serang Kota Cilegon Kota Serang Lebak link nonton link twibbon lowongan kerja Pandeglang Pemkot Cilegon pemkot serang Pemprov Banten pilkada Preman Pensiun 6 Preman Pensiun 7 profil provinsi banten Ramadhan Robinsar serang sinopsis spoiler spoiler sub indo Timnas Indonesia Twibbon UMKM viral
ADVERTISEMENT
Banten Raya

© 2026 Banten Raya - Berkualitas dan Berbeda

Nomor ID Pers : 26666 | Status Pendataan : Terverifikasi Faktual | Sertifikat : 1393/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Digital Banten Raya
  • Ecommerce Banten Raya
  • Siding Banten Raya
  • Share Banten Raya

Ikuti Kami

  • Daerah
  • Nasional
  • Pendidikan
  • Opini
  • Ekonomi & Bisnis
  • Teknologi
  • Hukum & Kriminal

© 2026 Banten Raya - Berkualitas dan Berbeda