BANTENRAYA.COM – Sebanyak 4 mahasiswa asal Banten di Turki diketahui menjadi korban gempar Turki Magnitudo 7,8 yang terjadi pada Senin, 6 Februari 2023 lalu.
Meski tidak ada yang terluka, namun 4 mahasiswa asal Banten di Turki saat gempa terjadi tidak memiliki cukup perbekalan untuk bisa bertahan hidup.
Fajar Firdaus, mahasiswa Universitas Gaziantep, Turki, asal Kota Cilegon, Banten, mengungkapkan, total ada 4 mahasiswa termasuk dirinya yang berasal dari Banten yang selamat dari gempa Turki.
Selain dia, ada juga atas nama Maulana dari Anyer, Kabupaten Serang, Torik dari Tangerang, dan Karisa dari Tangerang. Hanya Karisa satu-satunya mahasiswa perempuan di antara mereka.
Fajar menceritakan detik-detik mengerikan ketika gempa pertama terjadi pukul 04.20 waktu Turki.
Baca Juga: Abuya Muhtadi Ajak Masyarakat Sampaikan Data ke Pantarlih Sesuai Adminduk dan Sukseskan Pemilu 2024
Saat itu, kata Fajar, suasana masih gelap karena masih malam. Di Turki, subuh berlangsung pukul 06.30.
“Gempa pertama terjadi 30 detikan kita masih bingung karena baru bangun tidur,” kata Fajar memulai cerita kepada BantenRaya.com melalui pesan WhatsApp.
Fajar sendiri tinggal di sebuah bangunan asrama di lantai 5 dan saat gempa terasa sekali guncangannya.
Karena panik, Fajar berusaha menyelamatkan diri dengan berlari ke bawah. Karena semua orang yang tinggal di gedung juga berusaha untuk ke bawah, maka terjadi tabrak-tabrakan.
“Saya lihat tembok sudah retak-retak parah banget,” katanya.
Karena panik dan ingin menyelamatkan diri Fajar tidak sempat membawa barang-barang berharga termasuk makanan.
Karena cuaca di Turki sedang musim dingin dia menyadari bahwa pakaian yang dikenakan hanya pakaian biasa ketika sampai di bawah.
Lalu Fajar kembali ke lantai 5 untuk mengambil pakaian penghangat dan dokumen berharga seperti paspor.
“Pas kita lagi ngambil itu goyang lagi karena gempa lagi,” katanya.
Setelah setelah itu mereka dievakuasi ke masjid terdekat. Gempar sempat terjadi lagi beberapa kalim
Fajar mengaku sempat menolong temannya yang perempuan dan ketika melihat apartemen tempat tinggal temannya itu bagian atap sudah ambruk akibat gempa.
Setelah gempa para mahasiswa mencoba memakan makanan seadanya berupa mie instan. Mereka sempat memasak mie untuk memakan sampai dengan dua kali.
Namun karena perbekalan sudah tidak ada lagi dan hanya tersisa satu bungkus roti maka roti itu diberikan kepada temannya yang perempuan.
Sementara para lelaki hanya memakan roti kering yang merupakan roti sisa.
“Kita makan roti kering entah sisa kapan. Kita makan roti kering karena tidak ada makanan lagi,” ujar Fajar.
Baca Juga: Garap Lagu Pakai Music Box, Benita Vania Rilis Single At Another Time dalam Dua Versi
Fajar menceritakan saat itu toko-toko tidak ada yang buka sehingga tidak tahu harus membeli makanan di mana. Apalagi, uang yang tersisa cuma ada 1 juta hasil donasi.
Beruntung ada yang memberi mereka makanan ketika berada di masjid akhirnya mereka bisa makan sampai dengan keesokan harinya.
Saat itu, pihak KBRI belum ada yang datang untuk mengevaluasi mereka.
Ketika mereka mendapatkan informasi ada toko yang buka di dekat kampus pada siang hari mereka segera naik taksi menuju ke toko tersebut dan membeli sejumlah makanan untuk kebutuhan mereka dengan menggunakan uang donasi satu juta tersebut.
“Kita beli jajanan dan makanan dan nunggu sampe jam 9 malem karena akan dijemput oleh KBRI,” katanya.
Lalu sampailah pihak KBRI datang dan menjemput mereka. Saat ini mereka berada di tempat KBRI dan tidak khawatir lagi karena makanan disediakan setiap hari.
“Alhamdulillah sekarang untuk makanan aman dan pakaian juga dikasih satu orang satu akhirnya kita bisa ganti pakaian setelah selama 5 hari pakai pakaian yang ada di badan sampai gatal-gatal,” kata Fajar.
Meski sudah aman di KBRI, namun Fajar mengatakan mereka masih memerlukan pakaian penghangat. Sebab asrama yang dia tinggali sudah dikunci dan tidak bisa lagi kembali. *



















