BANTENRAYA.COM – Setelah tarawih usai, suasana di lingkungan Mushola Al-Mukhlisin Kampung Pojok, Desa Curug Badak, Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak mendadak riuh.
Ratusan warga berkumpul di Mushola Al-Mukhlisin dan suara bedug tiba-tiba bergema saling bersahutan. Tak hanya satu, ada 4 bedug yang ditabuh warga secara bersamaan.
Aktivitas di Mushola Al-Mukhlisin itu rupanya disebut warga sebagai ‘ngadu tabeh bedug’.
Seperti namanya yang menggunakan kata ‘ngadu’ atau mengadu, 4 bedug dipukul secara bersamaan seperti saling mengadu satu sama lain dengan nada beraturan.
Baca Juga: Gercep Langsung Turun Tinjau Jalan Rusak di Serang, Gubernur Banten Janjikan Percepatan Perbaikan
Kegiatan itu rupanya tradisi warga di lingkungan Mushola Al-Mukhlisin yang hanya digelar selama bulan Ramadhan.
Seluruh warga dilibatkan, mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda, hingga anak-anak. Secara bergilir mereka terus memukuli bedug hingga menjelang waktu sahur, tepatnya pukul 02.00 WIB.
“Alhamdulilah setiap tahun kita laksanakan terus tradisi ngadu tabeh bedug ini untuk menghibur warga di Kampung Pojok ini,” kata salah satu warga, Murtisah saat berada di lokasi kegiatan ngadu tabeh bedug pada Senin, 10 Maret 2025 malam.
Baca Juga: 5 PO Siap Antar Pemudik di Terminal Mandala, Cek Tanggal Puncak Arus Mudik
Keriuhan malam Ramadan di Kampung Pojok rupanya turut mengundang warga kampung lain yang terlalu jauh jaraknya.
Bahkan sesekali, warga dari kampung lain juga turut serta ikut menabuh bedug.
Bukan sekadar hiburan, aktivitas itu juga disebut Murtisah sebagai panggung penyambung silaturahmi dan ajang mempererat kebersamaan yang sudah dilakukan secara turun temurun.
“Sebagai warga asli, ceritanya kegiatan ini ya sebagai penyambung tali silaturahmi. Tidak semuanya harus dilakukan secara formal, tapi juga sesekali dengan suka cita yang riuh dan meriah,” ungkapnya.
Baca Juga: Jadi Tanggung Jawab Bersama, Fajar Minta Pengelolaan Sampah di Cilegon Harus ‘Dikeroyok’ Ramai-ramai
Di lokasi yang sama, tokoh pemuda sekaligus pegiat ngadu tabeh bedug, Yadi menyebut bahwa kegiatan tersebut merupakan tradisi turun temurun.
Sebagai pemuda, ia merasa punya tanggung jawab untuk terus melestarikan tradisi itu. Ia mengaku senang tradisi tersebut bisa mengundang banyak orang untuk memeriahkan malam Ramadhan di kampungnya.
“Ini sudah menjadi tradisi turun- temurun dari nenek moyang kita jadi acara ngadu bedug itu kita adakan setiap tahun memasuki bulan puasa,” paparnya.
Baca Juga: Profil Samudra Taylor Pemeran Gavin di Series Cinta Mati Lengkap dengan Agama
Dirinya juga menambahkan, kegiatan ngadu tabeh bedug ini dilakukan tidak hanya di kampung nya saja, namun perlombaan ngadu tabeh bedug juga dilakukan di luar wilayah kampung.
Dirinya berharap tradisi ngadu tabeh bedug akan terus dilestarikan demi menjaga tradisi warisan leluhur oleh generasi berikutnya.
“Warga kampung sebelah ada yang kesini kadang kita juga kalau misalkan ngadu bedug berkunjung ke kampung lain, jadi saling bergantian,” tandasnya. ***



















