BANTENRAYA.COM – Di saat kebanyakan orang seusianya menikmati masa pensiun, Namin, pria berusia 59 tahun, justru memulai babak baru dalam hidupnya.
Dikutip dari Tangerangkota.go.id, Ia memilih menjadi pejuang dini hari, menjalani rutinitas sebagai pemulung sekaligus pedagang kopi keliling.
Selama setahun terakhir, Namin aktif di Bank Sampah Meranti, yang berada di Gang Meranti, RT 02 RW 02, Kelurahan Buaran, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang, Provinsi Banten. Di tempat itulah ia mencari nafkah dari barang-barang buangan.
Baca Juga: Dijamin Mudah! Ini 3 Rekomendasi Lomba HUT RI ke-80 Tahun 2025, Bisa untuk di Kampung atau Sekolah
Setiap malam, tepat pukul 23.00 WIB, Namin mulai mengayuh sepedanya melintasi kawasan Taman Royal, Jalan Agus Salim, hingga Benteng Betawi.
Aktivitas ini berlangsung hingga dini hari pukul 04.00 WIB. Dalam perjalanannya, ia mengumpulkan botol plastik, kardus bekas, kaleng, dan barang bekas lainnya yang bisa dijual kembali.
“Kalau malam itu saya muter, ngambil gelas plastik, botol-botol, kardus. Apa saja yang bisa dijual,” katanya sambil tersenyum.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Lomba 17-an dalam Peringatan HUT RI ke-80 Tahun 2025, Dijamin Seru!
Apa yang dijalani Namin bukan sekadar pilihan, tapi kebutuhan. Sejak berhenti bekerja sebagai office boy di Kementerian Hukum dan HAM dua tahun lalu, ia sempat tidak memiliki penghasilan.
“Saya pikir, daripada enggak ada kerjaan, mendingan memulung. Buat kebutuhan sehari-hari. Saya juga melihat pensiunan lainnya tetap bisa berkarya, masa saya enggak bisa. Di situ saya mulai perjuangan saya,” ujarnya.
Hasil dari aktivitas memulung tersebut, Namin bisa memperoleh penghasilan harian sebesar Rp60 ribu hingga Rp80 ribu.
Baca Juga: Dorong UMKM Naik Kelas, UMKM Dilatih Penggunaan AI
“Lumayan, kalau sebulan ya alhamdulillah saya bisa menghasilkan sekitar Rp2,5 juta untuk kehidupan istri dan anaknya,” tuturnya.
Pendapatan itu cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarganya—istri dan satu anak yang masih tinggal bersamanya di daerah Buaran Indah.
Setelah beristirahat sebentar, saat pagi menjelang, Namin kembali ke jalan. Kali ini ia menjajakan kopi secara keliling.
Baca Juga: Sungguh Teganya Bayi Baru Lahir Diduga Dibuang Orangtuanya
“Kopinya ngide. Jadi saya ambil dari warung, terus jual keliling. Kalau capek ya tidur, kalau lapar ya makan, diselingan waktu itu saya pun membersihkan seluruh sampah malam yang berhasil saya kumpulkan,” ungkapnya.
Bagi Namin, sampah memiliki nilai lebih dari sekadar barang bekas. Ia melihat potensi ekonomi dan pentingnya menjaga lingkungan dari kebiasaan membuang sampah sembarangan.
“Saya mau bilang sama orang-orang, coba pilah. Jangan buang sembarangan. Sampah ini enggak basi, bisa dikumpulin, bisa dijual. Bahkan bisa bantu hidup orang lain,” ucapnya.
Baca Juga: Domisilinya Disoal, Calon Sekda Pemkab Serang Zaldi Dhuhana Siap Standby di Serang
Memulung baginya adalah bentuk perlawanan terhadap nasib, juga sebuah kontribusi kecil untuk lingkungan.
Meski hidup dalam keterbatasan, Namin tetap tegar dan penuh rasa syukur atas apa yang dimilikinya.
Lewat aktivitasnya di Bank Sampah Meranti, ia tidak hanya menghidupi keluarga, tetapi juga berperan dalam menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya. ***















