BANTENRAYA.COM – Brand fesyen lokal asal Bandung, Russ and Co kesulitan untuk menghadapi persaingan bisnis fesyen di Kota Serang dan sekitarnya.
Kepala Toko Russ and Co Serang M Wildan Febrian mengatakan, brand besar yang memiliki pamor ternama menjadi salah satu tantangan besar untuk dihadapi. Ditambah, tren belanja online yang semakin agresif.
“Di sini kayaknya kita kurang, karena kalah pamor sama produk yang udah lama mungkin bisa untuk survive bersaing sama yang lain mungkin agak kesulitan,” kata Wildan kepada Banten Raya, Selasa 20 Januari 2026.
Nama Russ and Co sendiri lebih terkenal di Bandung, sebagai salah satu sentra fesyen di Tanah Air.
“Karena untuk di Bandung kan dia sudah lama juga, karena di sini mungkin baru satu tahun sekarang, jadi masih harus melakukan penyesuaian lagi, ditambah store kita belum mengoptimalkan pasar online seperti tiktok,” imbuhnya.
Penjualan produk Russ and Co di Serang terbilang cukup stabil pada kondisi hari biasa dengan rata-rata 100-200 pics pakaian.
BACA JUGA : Kopi Gozeal Kerek Brand Fesyen Asal Banten ke Pasar Nasional
“Karena kita mengambil momen Ramadan, jadi kalau berkaca dari tahun sebelumnya omzet kita bisa sampai Rp500 juta, termasuk kita akan siapkan produk baru,” papar Wildan.
Guna menggenjot penjualan, pihaknya kerap menawarkan program menarik salah satunya adalah diskon 45 persen untuk semua varian.
“Dan ada tambahan 25 persen untuk produk yang baru, sehingga total diskon menjadi 65 persenan, harga yang ditetapkan ini sudah dalam hitungan diskon,” ungkapnya.
Selain itu, untuk pembelanjaan dengan nominal Rp500 ribu konsumen akan mendapatkan tas gratis. Serta, program belanja Rp1 juta akan mendapatkan tumbler menarik.
“Untuk varian Ramadan kita akan display bulan depan, termasuk varian baru juga kita sudah siapkan semua,” jelasnya.
Aneka produk Russ and Co menyasar segmen anak-anak muda namun, tetap diselingi beragam produk untuk anak-anak.
“Baik untuk aksesoris juga banyak kami sediakan, dan yang paling terkenal dari produk kita ada baju dengan model oversize banyak diminati,” kata Wildan. (***)



















