BANTENRAYA.COM – Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis dari Untirta Diqbal Satya Negara, menilai fenomena Rojali alias rombongan jarang beli.
Fenomena rojali diungkapkannya disebabkan karena tren kebiasaan masyarakat belanja yang bergeser ke pasar online.
Menurutnya, indikasi rojali juga terlihat dari tumbuhnya perekonomian Banten pada semester pertama tahun 2025 sebesar 5,33 persen dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,19 persen.
“Produk Fast Moving Customer Goods (FMGC) menjadi gambaran dimana masyarakat secara nyata belanja dengan antusias tinggi,” ujarnya.
“Misalnya beberapa resto yang baru buka di Serang ini ramai, namun seperti mall justru ini mengalami dampaknya,” kata Diqbal saat dikonfirmasi Bantenraya.com, Minggu 10 Agustus 2025.
Menurutnya, aktivitas masyarakat yang berdatangan ke pusat perbelanjaan merupakan aktivitas window shopping, dimana konsumen hanya datang tanpa melakukan pembelian.
Baca Juga: Info Lowongan Kerja PT Sucofindo Posisi Sekretaris Direksi, Apply Sebelum 15 Agustus
“Istilah ini berasal dari kegiatan melihat-lihat barang di etalase toko tanpa berniat membeli, namun dalam konteks pendidikan, atau experience saja, namun untuk belanja tetap secara daring,” ujarnya.
Dengan demikian, para pelaku usaha diharapkan dapat menyesuaikan tren pasar dan memaksimalkan peluang tersebut, sehingga etalase belanja dapat bertahan.
“Karena memang di satu sisi, mau belanja pampers, celana, baju itu masyarakat beli secara daring dan pusat perbelanjaan kini hanya sebagai sarana publik saja, para pedagang harus berinovasi dengan kondisi ini,” jelas Diqbal.
Baca Juga: Rumah BUMN Binaan BRI Ubah Nasib: Kisah UMKM Go Digital Raup Omzet Menggiurkan
Bisa jadi, kondisi ini terus-menerus berlangsung etalase di pusat perbelanjaan sudah tidak lagi relevan dengan tren masyarakat sekarang.
“Bisa jadi tergantikan, etalase di mall-mall itu, orang-orang yang datang hanya untuk rekreasi, dan hanya sebatas melakukan agenda pertemuan saja atua nonton, bukan untuk belanja,” tuturnya.
Kondisi ini akan menjadi masalah yang serius apabila para pelaku usaha di FMGC terjadi penurunan, meski kontribusinya terhadap perekonomian tidak bergitu signifikan.
“Meskipun demikian tetap harus waspada khusus pada fenomena Rojali ini, bukan menjadi fenomena yag menghawatirkan kecuali restonya atau produk yang bergerak cepat ini sudah minim peminat,” jelas Diqbal.***


















