BANTENRAYA.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten melaporkan kondisi perekonomian Banten dengan indikator deflasi sebesar 1,05 persen pada bulan Januari 2025, menandakan daya beli masyarakat turun.
Seluruh kota berada indeks harga konsumen (IHK) di Provinsi Banten yang berjumlah 5 kabupaten/kota mengalami deflasi secara bulanan.
Deflasi paling dalam terjadi di Kota Tangerang sebesar 1,31 persen, disusul Kota Serang 1,30 persen, Kota Cilegon 0,98 persen, Kabupaten Lebak 0,63 persen, dan Kabupaten Pandeglang sebesar 0,37 persen.
Kepada BPS Provinsi Banten Faizal Anwar mengatakan, kondisi tersebut disebabkan oleh tarif listrik yang menyumbang deflasi cukup tinggi sebesar 1,64 persen pada awal tahun.
Baca Juga: Honorer Pegawai Pemkot Cilegon Minta Pencairan Gaji dan Kejelasan Status
“Jadi kalau dilihat, bahwa secara nasional adanya penurunan tarif listrik kurang lebih 50 persen menyebabkan deflasi secara umum,” kata Faizal dalam pers rilis di Jalan Syeh Nawawi Al Bantani Kavling H1 – 2 KP3B, Kota Serang, Senin 3 Februari 2025.
Lebih rinci, selain tarif listrik komoditas lain yang turut menyumbang deflasi di Banten antara lain bawang merah, angkutan udara, timun dan kacang panjang masing-masing sebesar 0,3 dan 0,2 persen.
Secara keseluruhan, pada rincian kelompok perumahan, air listrik bahan bakar rumah tangga memberikan andil deflasi sebesar 12,36 persen.
“Adapun komoditas yang menjadi penyumbang inflasi ada cabai rawit 0,27 persen, minyak goreng, sewa rumah dan bensin,” tuturnya.
Secara tahunan atau year on year (YoY) inflasi di Banten tercatat sebesar 0,85 persen berada dibawah target yang ditetapkan sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen. Kondisi inflasi dipicu oleh beberapa komoditas antara lain emas perhiasan, kopi bubuk, minyak goreng, cabai dan rokok di kisaran 0,15 persen.
“Sementara secara tahunan andil deflasi di Banten dipengaruhi oleh tarif listrik sebesar 1,67 persen, tomat, beras, cabai merah dan besin sebesar 0,22 persen,” kata Faizal. (***)

















