BANTENRAYA.COM – Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Banten sekaligus akademisi dari Untirta Akhmadi menyebut, kondisi perekonomian di Banten sangat bergantung dari pengaruh ekonomi global.
Kondisi ekonomi tersebut tercermin dari struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Banten yang didominasi oleh sektor industri pengolahan sebesar 30,36 persen.
Akhmadi mengatakan, ekonomi global sangat dipengaruhi oleh tiga negara besar antara lain China, Amerika Serikat dan India.
Baca Juga: Dinkoptan UKM Cilegon Salurkan Rp 2.9 Miliar Pinjaman Bunga 0 Persen
Namun, saat ini tiga negara tersebut sedang mengalami penurunan afilitas ekonominya, sehingga berdampak terhadap perekonomian nasional, maupun Banten yang di dominasi sektor industri di kawasan utara.
“Dolar AS saat ini sudah mencapai Rp16.200, ini menandakan tekanan global semakin hebatdan akan berpengaruh,” kata Akhmadi kepada Bantenraya.com, Kamis 2 Januari 2025.
“Di Indonesia termasuk di Banten Utara yang didominasi oleh industri, ini saya memprediksi akan terdampak oleh kondisi global yang kurang baik,” katanya.
Baca Juga: Jasa Raharja Sebut 51,29 Persen Penerima Santunan Tidak Punya Penghasilan Tetap
Namun perlu digarisbawahi, Akhmadi menyebut ekonomi Banten tidak mudah terpuruk meski dalam tekanan ketidakpastian ekonomi global.
Sebab, berdasarkan struktur PDRB menurut pengeluaran konsumsi rumah tangga di Banten sangat tinggi mencapai 53,7 persen.
“Tapi ingat bahwa Indonesia termasuk Banten kekuatannya di konsumsi rumah tangganya tinggi, walaupun kondisi global tidak baik-baik saja,” ungkapnya.
“Itu karena konsumsi rumah tangga diatas 50 persen ditengah tren ekonomi China, saya memiliki satu keyakinan bahwa Indonesia tidak serta merta akan terpuruk, punya kekuatan di sektor pangan termasuk di Banten Selatan,” ungkap Akhmadi.
Menurutnya, kawasan Banten Selatan bisa menjadi kekuatan ekonomi baru untuk bisa menghadapi kondisi tersebut, dengan fokus pada optimalisasi industri pertanian atau agro serta sektor pariwisata.
“Tinggal bagaimana masyarakat kita ini memberdayakan di sektor tersebut, supaya komoditas pangan maupun wisatawan bisa datang ke Banten Selatan, kita punya pantai, kebun sawit, lautan, perikanan dan alam disana,” paparnya.
Baca Juga: Heboh! OJK Siapkan Aturan Baru Paylater, Pengguna Minimal 18 Tahun dan Gaji Rp3 Juta
Perlu juga dilakukan pengembangan terhadap pelaku UMKM, terutama fokus pada kerajinan cendramata atau kuliner.
Hal ini tentunya membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, guna memberikan kesempatan bagi para investor untuk melakukan pengembangan di wilayah tersebut.
“Bagaimana mengembangkan daerah berdasarkan potensi yang dimiliki, jangan dipaksakan ke kimia dong, kembangkan industri alam namun dikeloa dengan baik,” tuturnya.
“Salah satu caranya investor akan datang bawa uang kembali bukan hanya modal namun berikut untung, harus bisa yakinkan investor dengan mengeluarkan regulasi yang jelas,” ujar Akhmadi.
Baca Juga: Puncak Arus Balik Penerbangan Liburan Nataru Diprediksi pada 4 Januari 2025
Dengan iklim investasi sehat dan lingkungan yang nyaman, aman, dan mudah dirinya meyakini Banten Selatan juga akan turut menjadi sektor perekonomian baru guna menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
“Saya kira Banten selatan bisa kok seperti di Jogja atau Solo,” kata Akhmadi. ***



















