BANTENRAYA.COM – Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah yang tengah mengalami peningkatan eskalasi berdampak pada operasional sejumlah penerbangan internasional, termasuk rute dari dan menuju Arab Saudi.
Sejumlah maskapai mengambil langkah penyesuaian berupa perubahan jalur penerbangan hingga penundaan jadwal sebagai upaya mitigasi risiko di tengah dinamika kawasan Timur Tengah.
Dampak dari kebijakan tersebut dirasakan oleh jemaah umrah asal Indonesia, baik yang saat ini berada di Arab Saudi maupun calon jemaah yang masih menunggu jadwal keberangkatan dari Tanah Air. Penyesuaian jadwal keberangkatan dan kepulangan menjadi konsekuensi dari kondisi tersebut.
BACA JUGA: Tak Hanya Jalannya, Drainase JLS Juga Digarap Pemkot Cilegon Jelang Arus Mudik Lebaran
Mengutip dari situs Kementerian Haji dan Umrah RI, data Sistem Komputerisasi Pengelolaan Umrah dan Haji Khusus (SISKOPATUH) mencatat sebanyak 58.873 jemaah umrah Indonesia masih berada di Arab Saudi.
Pemerintah memastikan seluruh jemaah dalam pemantauan melalui koordinasi erat dengan perwakilan RI dan otoritas setempat.
Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah RI Puji Raharjo menegaskan bahwa pemerintah terus mencermati perkembangan situasi secara menyeluruh.
BACA JUGA: Wafatnya Try Sutrisno, Mensesneg Instruksikan Kibarkan Bendera Setengah Tiang 2–4 Maret 2026
“Kami mengimbau kepada seluruh jemaah umrah agar tidak panik. Tetap tenang dan terus berkoordinasi dengan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) masing-masing untuk memperoleh informasi resmi dan terkini,” ujar Puji Raharjo.
Dia menambahkan, seluruh PPIU diminta menjaga komunikasi intensif dengan Kantor Urusan Haji (KUH), KJRI Jeddah, serta KBRI Riyadh agar setiap perkembangan dapat segera ditindaklanjuti.
Kementerian juga mengimbau keluarga jemaah di Indonesia agar tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.
Komisaris Global Energy Multazam (GEM) Uswatun Hasanah mengungkapkan, sejauh ini tidak ada masalah pada jemaah umrah yang berangkat melalui travel miliknya.
Bahkan, satu romongan yang saat ini berada di Tanah Suci yang berjumlah 45 orang dipastikan akan tetap bisa pulang ke Indonesia.
“Sampai saat ini masih aman,” katanya.


















