BANTENRAYA.COM – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Cilegon telah membantu ratusan warga Cilegon untuk dapat menempuh pendidikan kembali dengan mayoritas Paket B.
Berdasarkan data Dindikbud Cilegon sampai tahun 2025 lalu, terdapat 305 orang warga Cilegon yang telah kembali ke sekolah.
Tingkat SD/MI laki-laki 2 orang dan perempuan 5 orang, tingkat SMP laki-laki 2 orang dan perempuan 3 orang.
BACA JUGA: Pemkot Serang Targetkan 1.600 Unit RTLH Dibangun Tahun 2026
Paket A laki-laki 33 orang dan perempuan 13 orang, paket B laki-laki 93 orang dan perempuan 37 orang.
Paket C laki-laki 71 orang dan perempuan 37 orang, ABK laki-laki 5 orang dan perempuan 4 orang.
Kepala Dindikbud Kota Cilegon Heni Anita Susila mengatakan, pengembalian warga Cilegon kembali ke dunia pendidikan melalui program Sekole Maning Lur.
“Alhamdulillah melalui program Sekole Maning Lur sudah mengembalikan anak-anak ke sekolah di jalur pendidikan formal atau paket,” katanya kepada Banten Raya, Selasa 3 Februari 2026.
Untuk program Sekole Maning Lur tahun 2026 ini, pihaknya sedang melakukan proses pendataan terlebih dahulu.
Pihaknya berupaya berkomitmen untuk dapat membantu warga Cilegon yang sempat terputus sekolah dapat kembali menempuh pendidikan.
“Kami Dindikbud konsisten untuk membantu warga Cilegon supaya dapat melanjutkan pendidikan,” terangnya.
Meskipun tak semua yang putus sekolah kembali ke bangku sekolah formal, tetapi dapat melanjutkan juga mengambil paket.
“Alhamdulillah kami dari Dindikbud sudah mengembalikan 305 orang anak kembali mengenyam pendidikan, termasuk penyandang disabilitas,” ungkapnya.
Dalam proses pendataan, pihaknya hanya mengalami kendala perizinan dari pihak anak maupun orang tuanya.
“Yang belum dikembalikan itu karena faktor ada yang anaknya memang mau membantu orang tuanya, ada yang ga diizinin orang tuanya,” jelasnya.
Warga Cilegon yang mengalami putus sekolah mayoritas dikarenakan faktor ekonomi keluarganya.
Warga yang mengikui program Sekole Maning Lur tersebut, tak perlu memikirkan biaya, karena seluruh biaya telah ditanggung oleh pemerintah.
“Tidak ada pemungutan biaya, gratis. Nanti juga dapat perlengkapan sekolah dengan berkolaborasi bersama Baznas Cilegon,” ujarnya.
Pihaknya akan bertugas untuk mendata anak-anak yang mengalami putus sekolah saja, lalu mengembalikan kembali sang aanak ke sekolah, dan monitoring.
Ia berharap, anak-anak Cilegon kedepannya semakin banyak yang mendapatkan pendidikan wajib selama 12 tahun sampai jenjang SMA.
Hingga bisa menjadikan Cilegon ini sebagai kota yang bisa berprestasi dan maju di segala bidang, tidak kalah dengan kota lain di Indonesia
“Anak-anak ini menjadi generasi penerus kita semua, dan berharap kedepannya bisa menjadikan dan memajukan peradaban Indonesia khususnya di Cilegon,” harapnya.
Tak hanya itu, Pemkot Cilegon melalui Dindikbud Kota Cilegon juga telah mengembalikan warga Cilegon yang bekerja sebagai buruh dan mengalami putus sekolah telah kembali menempuh pendidikan.
Kepala Bidang P2PNFK Vania Eriza menyampaikan, selama 2025 pihaknya juga telah membantu 42 orang buruh Kota Cilegon kembali menempuh pendidikan dengan mayoritas usia 40 tahun.
Kembalinya buruh ke sekolah merupakan salah satu program Dindikbud Cilegon yang bekerjasama dengan Disnaker Cilegon yaitu program Buruh Masuk Sekolah.
“Alhamdulillah tahun 2025 ini kami bersama Disnaker Cilegon telah membantu 42 orang buruh kembali ke sekolah melalui paket A, B, dan C,” pungkasnya.***
















