BANTENRAYA.COM – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Serang bakal menutup SDN Gunungsari 2 yang berlokasi di Kecamatan Gunungsari.
Pasalnya saat ini siswa SDN Gunungsari 2 hanya berjumlah sebanyak enam orang sehingga Dindikbud mendorong siswa untuk pindah sekolah.
Kepala Bidang SD Dindikbud Kabupaten Serang Abidin Nasyar Surya mengatakan, awalnya SDN Gunungsari 2 itu berada di lingkungan PT Wabin.
“PT Wabin itu perusahaan peternakan. Dulu itu banyak karyawan di situ sehingga pemerintah berinisiasi untuk membangun sekolah di sana mendirikan SDN Gunungsari 2 kabupaten Serang,” ujarnya di Desa Sangiang, Kecamatan pamarayan, Rabu 28 Januari 2026.
Ia menjelaskan, di lingkungan tersebut terdapat asrama-asrama milik para karyawan dari PT Wabin, namun berjalannya waktu para karyawan membuat rumah masing-masing di daerah pemukiman yang jauh dari SDN Gunungsari 2.
BACA JUGA : Mendes PDT Dorong Desa di Kabupaten Serang Ternak Ayam Petelur
“Sehingga asrama itu ditinggalkan dan tentu mereka memilih sekolah lebih dekat yang ada di kampung-kampung,” katanya.
Abidin menuturkan, saat ini jumlah siswa yang aktif di SDN Gunungsari 2 hanya ada enam orang, sehingga pihaknya mendorong untuk pindah ke selolak yang lain.
“Hanya ada enam murid dan sudah kita dorong untuk pindah sekolah. Tapi saya lupa bertanya dengan guru enam siswa itu dari kelas berapanya,” jelasnya.
Rencananya SDN Gunungsari 2 itu akan ditutup dalam waktu dekat demi menyelamatkan karier guru-guru yang bertugas di sekolah tersebut.
“Baik yang PNS (Pegawai negeri sipil), PPPK (pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja) penuh waktu atau PPPK paruh waktu agar mereka terselamatkan. Mungkin kita akan dorong pindah ke sekolah-sekolah terdekat,” paparnya.
Ia mengungkapkan, apabila SDN Gunungsari 2 itu tidak ditutup maka para guru akan terancam tidak mendapatkan sertifikasi lantaran kurangnya jam mengajar.
BACA JUGA : Komisi IV DPRD Kabupaten Serang Telusuri Sumber Limbah di Sungai Irigasi Ciruas
“Kalau murid cuma enam orang, berarti jam mengajar mereka tidak cukup sehingga sertifikasinya enggak bisa dibayarkan. Nanti kita akan lihat sekolah mana yang banyak siswanya,” tuturnya. (***)

















