BANTENRAYA.COM – Mochamad Ronny Natadipraja yang saat ini resmi menjabat sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Serang yang dipilih oleh Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah.
Ronny Natadipraja, merupakan pria kelahiran Kota Serang 5 oktober 1976 ini merupakan lulusan Universitas Gadjah Mada dengan Jurusan teknik Sipil.
Adapun Ronny Natadipraja memulai kariernya di 2000 sebagai supervisor di perusahaan swasta pada pembangunan Dermaga Cikubang, Kecamatan Bojonegara.
BACA JUGA: Drama Korea Spring Fever Episode 3 Sub Indo: Seon Jae Gyu dan Yoon Bom Makin Dekat
Kemudian ia menjadi Honorer di Dinas PUPR Provinsi Banten sebagai pengawas proyek pemeliharaan Jalan provinsi wilayah selatan dari tahun 2001 sampai dengan 2003, hingga diangkat menjadi PNS DPUPR Kabupaten Serang.
“Saya pernah daftar PNS sampai beberapa kali tapi tidak pernah lolos yaitu pada tahun 2000, 2001, 2002 dan Kemudian pada tahun 2003 ada buka pendaftaran PNS Kabupaten Serang akhirnya saya lolos di DPUPR Kabupaten Serang,” ujarnya, Senin 12 Januari 2026.
Sejak lolos sebagai PNS di Kabupaten Serang, ia tidak pernah berpindah dinas karena sejak awal hingga sekarang tetap menjadi pegawai DPUPR Kabupaten Serang.
BACA JUGA: Sebaran Titik Banjir di Kota Serang, dari Jalan Raya hingga Perumahan Tergenang
“Enggak pernah pindah, saya di PU saja dari awal sampai sekarang. Muter muter di bidang saja, mulai dari Bidang SDA, bidang Bina Marga, di Bidang Sanitasi dan Air Minum, hingga sekarang jadi Kadis,” katanya.
Selama 22 tahun sudah mengabdi di DPUPR Kabupaten Serang membuatnya mempunyai sederet pengalaman dari mulai hal teknis sampai non teknis di OPD tersebut.
“Namanya belajar enggak akan pernah berhenti, karena zaman, perubahan aturan dan regulasi berkembang dengan cepat. Kita juga harus mampu beradaptasi terhadap perubahan tersebut,” jelasnya.
Adapun program yang paling diingat sampai sekarang ialah saat melaksanakan pembangunan interchange di Kecamatan Cikande untuk mengurai kemacetan yang terjadi pada waktu itu.
“Kemacetan itu menyebabkan banyaknya kerugian terhadap pengusaha di Cikande dan sekitarnya,” ungkapnya.
“Pembangunan Inter change ini memakan biaya yang sangat besar hampir Rp400 miliar dan itu merupakan sebuah tantangan yang besar dan pengalaman yang baru buat saya,” jelasnya.
Untuk program lainnya yang pernah dilaksanakan adalah menyelesaikan program Flood Management in Selected River Basins (FMSRB) yang didanai oleh bank dunia untuk penanganan risiko banjir di sekitar aliran sungai Ciujung.















