BANTENRAYA.COM – Sejumlah kawasan industri di Kota Cilegon berpotensi adanya pencemaran radioaktif seperti yang terjadi di Industri Modern Cikande Serang.
Atas dasar itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cilegon segera akan melakukan konsultasi ke Badan Pengawasan Tenaga Nuklir.
Hal itu dilakukan untuk mengantrisipasi kejadian pencemaran radioaktif yang berpotensi terjadi karena sejumlah industri, khususnya logam memiliki alat berbahan radioaktif.
Kepala Bidang Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kota Cilegon Oman Fathurahman menjelaskan, pihaknyabakan segera berkoordinasi dengan Bapeten untuk menganbila langkah antisiapasi.
BACA JUGA: Harganya Cuma 9 Jutaan, Ofero Stareer 3 Lit Jadi Motor Termurah
“Nanti saya coba konsultasi dengan Bapeten dulu,” jelasnya, Kamis 23 Oktober 2025.
Oman menyampaikan, memastikannpotensi adanya pencemaran radioaktif sebagaimana di Serang bisa terjadi di Kota Cilegon. Untuk itu, apakah nanti akan ada upaya penditeksian atau sosialisasi bisa dilakukan segera.
“Jujur saja ini potensi kejadian sangat luar biasa (potensi pencemaran radioaktif-red),” ucapnya.
Sebelumnya, Kepala DLH Kota Cilegon Sabri Mahyudin menjelaskan, sejumlah pabrik baja meski tidak melebur skrap logam seperti di Cikande. Namun, ada alat berbahan radioaktif yang digunakan pabrik baja untuk memotong baja. Bahkan, dulu alat tersebut pernah dicuri tapi berhasil ditemukan.
“Itu pernah kejadian juga yah, dulu itu pencurian besi di Area KS (Krakatau Steel-red) dulu, tapi ketemu sih bendanya, bentuknya seperti ekor kerbau seperti itu tapi itu ada radioaktifnya, tapi itu kecil. Itu digunakan untuk pemotongan baja,” ujarnya.
“Namun, untuk kepastian berapa data industri yang memakai benda kandungan radioaktif bisa ditanyakan langsung ke Pak Andi (Kepala Bidang Pengawasan Lingkungan Hidup DLH Kota Cilegon Andi Rana-red) perusahaan mana yang menggunakan radioaktif. Tapi itu yang menggunakan pabrik baja untuk pemotongan baja. Tapi datanya ada di Pak Andi,” katanya.
Sabri menyampaikan, untuk di Cikande kemarin, sepengetahuan dirinya merupakan sisa dari logam kontainer dan itu luar.
“Yah kemarin itu di Cikande itu karena ada sisa dari kontainer yang dipakai nah itu, memang dari luar kan itu juga,” ucapnya.
Sementara itu, Andi mengungkapkan, di Cikande potensi radioaktif terjadi karena peleburan bahan mengandung radioaktif. Namun, untuk di Kota Cilegon pabrik menggunakan biji besi sebagai bahan baku.
“Kalau yang di Cikande potensi radioaktif dari bahan yah skap. di Cilegon untuk pabrik baja tidak pakai limbah skrap, pakainya langsung dari biji besi, jadi potensinya tidak terlalu tinggi seperti di Cikande yang pabrik bajanya menggunakan bahan bakunya besi skap. Karena di Kota Cilegon itu Posco dan KS langsung dari biji besi,” ungkapnya.
Namun, papar Andi, tetap ada alat berbahan baku radioaktif yang digunakan pabrik baja, misalnya alat untuk mengukur ketebalan baja itu menggunakan radioaktif, termasuk pabrik baja pipa dan konstruksi juga menggunakan alat berbahan radioaktif untuk mengukur ketebalan baja.
“Kalau menggunakan bahan bakunya tidak menggunakan limbah skrap itu tidak ada, Kecuali penggunaan radioaktifnya (alat-red) untuk melihat ketebalan baja atau pipa seperti itu,” paparnya.
Andi menjelaskan, untuk tetap mengantisipasi potensi terjadi seperti yang ada di Cikande. Pihaknya akan koordinasi secara resmi dengan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) untuk terus melakukan monitor.
“Yah tetap kita akan bekerjasama dengan Bapeten untuk memonitor penggunaan bahan radioaktif. Intinya nanti kita akan coba sosialisasi ke industri mengenai dampak radioaktif ini, penggunaan bahan radioaktif (alat potong baja-red) sementara dari pabrik besi dan logam seperti pabrik pipa konstruksi,” pungkasnya. ***


















