BANTENRAYA.COM – Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Banten mengakui hingga saat ini masih banyak produk Usaha Kecil Menengah (UKM) di Provinsi Banten yang memiliki banyak kelemahan. Ini pula yang menjadi penyebab produk UMK di Banten belum bisa melakukan ekspor ke luar negeri.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Banten Agus Mintono mengatakan, ada sejumlah kelemahan yang hingga saat ini masih dimiliki produk UKM di Banten. Pertama, soal lemahnya dalam menjaga konsistensi kualitas produk. Saat ini, masih banyak produk makanan dan minuman di Banten yang masih mengguna cara tradisional saat membuat produk makanan atau minuman.
“Akhirnya, rasa jadi berubah-ubah sesuai dengan kondisi yang dialami,” ujar Agus.
Dia mengatakan, saat ini pembuatan produk makanan olahan itu masih sangat tradisional. Misalnya, ketika menambahkan garam, hanya dikira-kira. Akibatnya, untuk mengukur kualitas rasa dari makanan atau minuman yang dibuat sangat sulit.
“Kadang ngeraciknya juga menggunakan feeling. Jadi standar kualitas belum ditingkatkan,” katanya.
Padahal, yang dijual oleh pengusaha makanan atau minuman adalah rasanya. Karena itu, penting bagi para pelaku usaha untuk menciptakan rasa yang konsisten.
Baca Juga: Dinkes Temukan 3.100 Warga Kabupaten Serang Menderita Penyakit TBC
“Maka perlu ada pelaihan untuk menjaga kualitas resep, misalkan. Jadi, semestinya resep itu dipatenkan,” katanya.
Dengan mematenkan resep, dan mengukur dengan teliti komposisi bahan, maka akan tercipta makanan yang rasanya konsisten. Jangan sampai, ada saat di mana makanan teras asin dan di lain waktu terasa kurang garam.
Kelemahan kedua, kata Agus, adalah soal pengembangan diversifikasi produk yang tidak dilakukan secara berkala. Akibatnya, produk menjadi monoton dan tidak ada inovasi.
Dia mencontohkan, kue jejorong dari dulu sampai saat ini masih pakai daun pisang. Padahal, pelaku UKM seharusnya bisa mengkreasikan bungkus jejorong dengan menggunakan bahan lain agar telihat lebih menarik.
“Kalau sekarang kan ya begitu-begitu saja,” katanya.
Kelemahan lain, kata dia, kreatifitas dan inovasi produk UKM masih harus dikembangkan agar lebih variatif dan menarik. Hal ini juga berlaku pada kerajinan dari bahan-bahan tertentu, misalkan dari eceng gondok, yang dibuat menjadi tas dan aneka kerajinan lain. Ke depan perlu dikembangkan, misalnya, bagaimana pewarnaannya yang ramah lingkungan, dan sebagainya.
Baca Juga: Nasdem Resmi Dukung Zakiyah-Najib di Pilkada Kabupaten Serang
Agus mengungkapkan, berdasarkan Sistem Informasi Data Tunggal atau SIDT Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2022 sampai dengan 2023 jumlah UMKM di Provinsi Banten mencapai 508.535 pelaku UMKM. Rinciannya adalah usaha mikro 505.580 pelaku usaha, usaha kecil 2.542 usaha, dan usaha menengah 431 pelaku usaha.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Banten Babar Suharso mengatakan, agar produk UMKM Banten bisa dikirim ke luar negeri. Karena itu, sejak tahun 2022 Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Banten menggelar pelatihan ekspor untuk para pelaku UMKM. Selama tiga tahun itu, disperindag sudah melatih 100 UMKM sampai mereka siap ekspor.
Babar mengatakan, memang tidak semua produk UMKM bisa memenuhi kualitas ekspor. Sebab pasar luar negeri juga biasanya mencari produk UMKM yang unik dan langka. Misalnya, kerajinan suku Baduy yang unik dan tidak bisa ditemukan di daerah lain selain di Banten.
“Produk ini unik karena sudah dibuat secara turun-temurun oleh masyarakat Baduy. Yang harus diperbaiki hanya pada pengemasannya agar sesuai permintaan pasar luar negeri,” katanya. (***)


















