BANTENRAYA.COM – Fenomena jejak yang ditinggalkan dari lintasan pesawat pada saat langit cerah, dengan berupa asap disebut dengan Contrail.
Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Contrail (Condensation Trail) merupakan awan berupa jejak lintasan pesawat dilangit.
Terkait hal tersebut diketahui melalui postingan akun Instagram @aviatonbmkg, dikutip Bantenraya.com, Sabtu, 19 Februari 2022.
Contrail dapat bertahan dalam bertahan dalam hitungan menit atau jam, lamanya keberadaan contrail dapat dipengaruhi oleh dua sebab, yakni:
1. Suhu dan kelembapan udara
Contrail yang bertahan lama dapat menjadi indikator bahwa udara yang berada dilapisan atas bersifat dingin dan juga lembab.
Suhu pada ketinggian 9.000 m dapat mencapai kurang dari -30°C, semakin lembab dan dingin atmosfer, contrail dapat dengan mudah terbentuk dan bertahan lama.
Baca Juga: Fadly Sebut Marissya Icha Tipe Cewek Ideal dan Begitu Juga Sebaliknya
2. Kecepatan angin
Semakin tinggi kecepatan angin di atmosfer, semakin mudah contrail untuk menghilang.
Pembentukan contrail sama seperti pembentukan awan pada umumnya, yaitu berdasarkan fungsi tekanan uap dan suhu.
Jika udara pada lingkungan yang bersuhu dan bertekanan rendah (A), bercampur dengan pembuangan mesin pesawat yang bersuhu dan bertekanan tinggi (B).
Maka hasil pencampuran A dan B akan menyebabkan menjadi jenuh dan terjadilah kondensasi sehingga awan dapat terbentuk.
Secara langsung contrail tidak berpengaruh bagi manusia, karena kandungan contrail sebagian besar sama seperti awan pada umunya (titik air dan kristal es).
Baca Juga: 4 Tips Menghilangkan Mata Panda dengan Bahan Alami dan Cara Menggunakannya
Selain itu, contrail juga memiliki jarak yang cukup jauh dari permukaan bumi.
Contrail berpengaruh pada tutupan awan di atmosfer yang akhirnya dapat berpengaruh pada keseimbangan penerimaan radiasi di muka bumi.
Pada wilayah yang memiliki kelembapan udara yang cukup dan frekuensi penerbangan yang sangat tinggi dapat meningkatkan tutupan awan sebesar 16-20%.(***)



















