BANTENRAYA.COM – Laporan terbaru dari Komunitas Peduli Malang kembali mencatat tambahan jumlah orang yang meninggal dunia menjadi 153 orang.
Jumlah tersebut menjadikan sebuah tragedi mengerikan dalam dunia sepak bola dunia.
Bahkan dalam catatan peristiwa suporter meninggal di Stadion Kanjuruhan menjadi yang terbesar kedua di dunia sepak bola.
Dimana ada sebanyak 153 orang dilaporkan sementara meninggal dunia akibat sesak nafas, terinjak dan berhimpitan.
Catatan mengerikan lainnya pernah terjadi di Pada 24 Mei 1964, tim nasional Peru dan Argentina berlaga di babak kualifikasi kedua untuk turnamen Olimpiade Tokyo.
Baca Juga: Melihat Aturan FIFA Soal Penggunaan Gas Air Mata yang Diduga Jadi Pemicu Tragedi Kanjuruhan
Pertandingan, yang diselenggarakan oleh Peru di Estadio Nacional (Stadion Nasional) di Lima, menarik penonton berkapasitas maksimum 53.000 dan sebanyak 328 orang tewas karena sesak napas.
Dikutip BantenRaya.Com dari berbagai sumber pada Minggu 2 Oktober 2022, berdasarkan laporan terbaru Komunitas Peduli Malang jumlah korban menjadi 153 orang.
Dimana kebanyakan mengalami sesak nafas dan terinjak akibat kerusuhan yang bermula dari dalam stadion karena ulah pendukung yang mengejar para official tim dan pemain Arema.
Hal Tersebut dipastikan juga Menteri Koordinator Politik Hukum dan Ham (Menkopolhukam) Mahfud MD dalam instagram miliknya @mohmahfudmd yang menyampaikan, adanya tragedy pendukung meninggal bukan karena bentrok antar suporter melainkan sesak nafas dan terinjak.
Baca Juga: Lima Tragedi di Stadion yang Menyebabkan Ratusan Nyawa Melayang, Tragedi Kanjuruhan Masuk Mengerikan
“Perlu saya tegaskan bahwa tragedi Kanjuruhan itu bukan bentrok antar suporter Persebaya dengan Arema. Sebab pada pertandingan itu suporter Persebaya tidak boleh ikut menonton,” jelasnya.
“Oleh sebab itu, para korban pada umumnya meninggal karena desak-desakan, saling himpit, dan terinjak-injak, serta sesak napas. Tak ada korban pemukulan atau penganiayaan antarsuporter,” ujar Mahfud.
Berikut tragedi yang pernah terjadi dalam dunia sepakbola yang menewaskan ratusan pendukung atau suporter.
Dimana kejadian sangat identik karena mengakibatkan sesak nafas akibat antisipasi bentrok oleh pihak kepolisian.
Baca Juga: Presiden Arema FC Juragan 99 Janjikan Hal Ini kepada Korban Tragedi Kanjuruhan
1. The Estadio Nacional Disaster
Pada 24 Mei 1964 Tokyo menjadi salah satu kota yang mencatatkan tragedi mengerikan dalam dunia sepak bola.
Saat itu, tim nasional Peru dan Argentina berlaga di babak kualifikasi kedua untuk turnamen Olimpiade Tokyo. Pertandingan, yang diselenggarakan oleh Peru di Estadio Nacional (Stadion Nasional) di Lima, menarik penonton berkapasitas maksimum 53.000.
Pertandingan berlangsung sengit oleh kedua tim, dan dengan dua menit waktu normal tersisa, Argentina memimpin 1-0.
Kemudian, secara ajaib, Peru mencetak gol penyama tapi dianulir oleh wasit, Angel Eduardo Pazos.
Dalam rentang sepuluh detik, ribuan penggemar Peru berubah dari kegembiraan menjadi kemarahan.
Baca Juga: Laga Persib vs Persija Ditunda Buntut Tragedi Kanjuruhan, Bagaimana dengan Tiket yang Sudah Dibeli?
Bencana dimulai ketika salah satu penonton berlari ke lapangan dan memukul wasit; ketika penggemar kedua bergabung, dia diserang secara brutal oleh polisi dengan tongkat dan anjing.
Saat serangan terjadi, puluhan penggemar menyerbu lapangan, dan kerumunan mulai melemparkan benda ke polisi dan pejabat di bawah.
Kerusuhan terjadi, dan polisi meluncurkan tabung gas air mata ke kerumunan, yang mendorong puluhan ribu penggemar untuk mencoba melarikan diri dari stadion melalui tangga.
Ketika penggemar mencapai bagian bawah lorong-lorong ini, mereka menemukan bahwa gerbang baja yang mengarah ke jalan terkunci rapat.
Baca Juga: Gegara Kasus KDRT pada Lesti Kejora, Inul Daratista Langsung Unfollow Rizky Billar
Ketika mereka berusaha untuk lari kembali, polisi melemparkan lebih banyak gas air mata ke dalam terowongan.
Sebagai akibatnya, 328 orang tewas karena sesak napas, meskipun kemungkinan jumlah korban tewas lebih tinggi.
2. Tragedi Kanjuruhan
Hal sama hampir terjadi saat Arema melawan Persebaya, dimana para suporter awalnya meluapkan kemarahan kepada tim kesayangannya Arema.
Menurut salah satu sumber, hal itu terjadi saat supporter mencemooh para pemain Arema yang kalah melawan Persebaya dengan skor 3 – 2.
Saat hendak kembali ke ruang ganti para pemain akhirnya mendapatkan cemoohan dan berubah menjadi kemarahan.
Baca Juga: Imbas 127 Melayang di Derby Jawa Timur, PSSI Hukum Arema FC Larang Gelar Laga Kandang
Para pendukung tersebut mengejar para pemain dan tim official untuk meluapkan kemarahannya.
Atas reaksi tersebut polisi bertindak dan menghalau para pendukung dengan gas air mata. Hal itu akhirnya membuat kepanikan terjadi seisi stadion.
Hal itu pada akhirnya menjadi tragedi yang mengakibatkan ratusan bahkan laporan terbaru sebanyak 153 orang meninggal.
3. Accra Sports Stadium Disaster
40.000 penggemar bergegas keluar dari stadion, sehingga koridor penuh sesak; pada saat masa telah dibersihkan, 127 terbaring tewas karena sesak napas.
Baca Juga: Jadwal MPL ID Season 10 Week 8 Day 3 Hari Ini, Pertarungan Terakhir Reguler Season
Itu terjadi pada 9 Mei 2001, hampir identic saat dua tim paling menonjol di Ghana — Accra Hearts dan Asante Kotoko — berkumpul untuk pertandingan di Stadion Olahraga Accra.
Seperti halnya Bencana Nasional Estadio, polisi merespons dengan meluncurkan gas air mata dan menembakkan peluru plastik ke kerumunan.
4. Hillsborough Disaster
Tragedi ini terjadi di Inggris 15 April 1989, akan dikenang oleh para penggemar sepak bola Inggris sebagai pertandingan paling mematikan dalam sejarah Eropa.
Pertandingan semifinal antara Liverpool dan Nottingham Forest, sangat dinanti.
Sesuai kebiasaan, tempat netral dipilih di Stadion Hillsborough, di Sheffield, Inggris. Penggemar lawan dipisahkan, dengan penggemar Liverpool ditempatkan di tribun “Leppings Lane”.
Baca Juga: Kondisi Terkini Lesti Kejora Setelah jadi Korban KDRT, Rizky Billar Masih di Hati?
Jumlah penggemar Liverpool yang tinggi sehubungan dengan terbatasnya akses masuk ke Leppings Lane menyebabkan kepadatan yang parah di luar venue.
Untuk meredakan kerumunan, David Duckenfield — Kepala Inspektur, dan petugas polisi yang bertugas mengawasi pertandingan membuka gerbang keluar yang menuju ke dua kandang yang sudah penuh sesak. ***


















