BANTENRAYA.COM – Ratusan warga Muhammadiyyah menggelar salat tarawih di Masjid Umar Bin Khattab (UBK), Selasa 17 Februari 2026.
Masjid UBK yang terletak di Jalan Stasiun, Kelurahan Jombang Wetan, Kecamatan Jombang menjadi salah satu masjid dan satu-satunya masjid yang menggelar salat tarawih bagi warga Muhammadiyah.
Bahkan, dari beberapa warga Muhammadiyah dari berbagai kecamatan juga hadir memenuhi Majid UBK tersebut.
Angga salah satu warga Kelurahan Kebondalem, Kecamatan Purwakarta mengaku datang untuk menunaikan salat tarawih di Masjid UBK karena di wilayahnya tidak ada masjid yang menggelarnya.
“Saya hanya tahunya disini (Masjid UBK) jadi saya kesini. Saya tinggal di Kebondalem Purwakarta,” katanya.
Dirinya mengaku, sebagai warga Muhammadiyah ikut ketentuan yang sudah diputuskan. Dimana, akan berpuasa pada Rabu 18 Februari 2026.
“Ikut yang sudah ditentukan. Makanya malam ini tarawih,” ujarnya.
BACA JUGA : Masyarakat di Cilegon Diminta Hargai Perbedaan Penetapan Awal Ramadan
Sebelumnya, Sekretaris Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Kota Cilegon Tahyar menjelaskan, Muhammadiyah akan ikut dalam ketentuan yang sudah ditetapkan Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah sejak 6 bulan lalu. Dimana, 1 Ramadan akan jatuh pada Rabu 18 Februari 2026. Kendati berbeda , pihaknya menghargai masyarakat yang akan melakukan puasa pada Kamis 19 Februari 2026.
“Kalau Muhammadiyah dari PP sudah 6 belum sebelumnya sudah menetapkan 1 Ramadan Insya Allah jatuh pada 18 Februari besok. Kita menghargai juga masyarakat yang melaksanakan pada 19 (Februari 2026-red), lalu pemerintah juga akan mengumumkan,” katanya.
Tahyar menyampaikan, pada malam harinya pihaknya akan menggelar tarawih. Dimana tarawih untuk warga Muhammadiyah akan dilakukan pada Selasa 17 Februari 2026 petang.
“Salat Tarawih kami warga Muhammadiyah akan dimulai malam ini di UBK (Umar Bin Khattab),” ujarnya.
Ketua Pemuda Muhammadiyah Kota Cilegon Arief Syarifudin menyatakan, menjelang penentuan awal Ramadan yang dilakukan melalui Rukyatul Hilal dan Sidang Isbat Pemerintah Pusat. Pihaknya mengimbau masyarakat, khususnya warga Muhammadiyah dan masyarakat Kota Cilegon secara umum, untuk menyikapi potensi perbedaan dengan bijaksana.
BACA JUGA H-2 Puasa Ramadan Harga Bahan Pokok di Cilegon Naik, Rawit Merah Sentuh Angka Rp 100 Ribu
“Perbedaan itu adalah rahmat. Kita harus menyikapinya dengan kedewasaan dan kebersamaan. Perbedaan jangan dijadikan sumber perpecahan, tetapi justru menjadi pusat perbaikan untuk semua masyarakat, khususnya di Kota Cilegon,” ujarnya. (***)
















