BANTENRAYA.COM – Ketupat merupakan salah satu sajian wajib yang harus ada saat momen lebaran.
Makanan yang dibuat dengan bahan dasar beras yang dibungkus dengan janur kelapa tentunya sudah tidak asing di lidah orang Indonesia.
Di Indonesia sendiri ada beberapa makanan yang menggunakan ketupat, seperti kupat tahu, katupat kandangan, kupat glabet, coto makassar, lotek, tipat cantok dan gado-gado.
Tapi apakah kalian tahu bagaimana sejarah dan makna ketupat dalam Islam?
Menurut catatan sejarah ketupat pertama kali masuk saat Sunan Kalijaga menyebarkan agama Islam di pulau jawa, jadi sekitar pada abad ke-15.
Baca Juga: Lurah Ketileng Berikan Kain Kafan dan Mobil Dinas yang Bisa Dipakai Warga
Saat itu Sunan Kalijaga menggunakan ketupat sebagai sebuah simbol atas perayaan Idul Fitri, ada dua budaya tentang ketupat yang beliatu ajarkan yakni dua kali bakda.
Bakda lebaran dan bakda Kupat, ada sebuah fakta unik tentang makanan yang satu ini yaitu ketupat merupakan frasa dalam Bahasa jawa ‘ngaku lepat’ yang artinya mengakui kesalahan.
Selain itu ada kaitannyanya dengan belah ketupat, nah belah ketupat sendiri tentunya tidak asal belah dikarnakan pamali kata orang tua dulu, belah tengah maupun belah tusuk tidak boleh dilakukan pasalnya kata orang tua dulu itu ada sejarahnya.
Dikisahkan salah satu nabi yang melekat di benak umat muslim yakni tentang Nabi Muhammad SAW yang dibelah dadanya oleh Malaikat Jibril.
Kisah tersebut dipercayai sebagai peristiwa diturunkannya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW, makhluk ciptaan Allah paling sempurna.
Malaikat Jibril membelah dada Nabi Muhammad sebanyak empat kali lalu membasuh hatinya dengan air zamzam yang diyakini sebagai air mulia.
Peristiwa itu dikisahkan secara rinci dalam buku Air Zamzam Mukjizat yang Masih Terjaga karya Said Bakdasy.
Cerita dimulai ketika masa kecil Nabi Muhammad tinggal bersama ibu sambungnya Halimah As-Sa’diyah di Kampung Bani Sa’id. Saat itu Nabi Muhammad masih berusia empat tahun.
Malaikat Jibril mendatangi Nabi yang sedang bermain bersama teman-temannya. Setelah itu, Malaikat Jibril membelah dada lalu meletakkan hati Nabi Muhammad di bejana emas.
Tak lama, hati tersebut dibasuh dengan air zamzam dan dikembalikan ke dada Nabi Muhammad.
Melihat peristiwa itu, teman-teman sepermainan Nabi pun terkejut. Mereka lari terbirit-birit mengadu kepada Halimah As-Sa’diyah.
Baca Juga: Fun Trofeo Ngabuburit KMJR, Tuan Jadi Rumah Juara di U-11 dan U-15
Perempuan itu lalu menghampiri dan memeluk erat anak asuhnya yang tampak pucat dan menggigil karena ketakutan setelah mengalami kejadian tak terduga.
Peristiwa serupa kemudian terulang kembali saat Nabi Muhammad berusia 10 tahun atau mendekati usia taklif (mukallaf).
Malaikat Jibril kembali membersihkan hati Nabi Muhammad dengan zamzam supaya tidak tercampur dengan sifat-sifat keburukan.
Adapun yang ketiga, Malaikat Jibril membelah dada Nabi Muhammad sebelum menerima wahyu kenabian.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi, ketika itu Rasulullah bermimpi dashyat bahwa dadanya dibelah dan hatinya dibasuh berkali-kali dengan air zamzam.
Mimpi itu lalu Nabi Muhammad diceritakan kepada istrinya Khadijah. Dan Khadijah mengatakan bahwa peristiwa pertanda kebaikan.
Sementara yang peristiwa yang keempat, Nabi Muhammad dibelah dadanya sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj seperti diterangkan dalam hadist Riwayat Imam Bukhari.
Baca Juga: Kabupaten Serang Menuju Bebas Covid-19, Ini Jumlah Kasus Terakhir
“Abu Dzar menceritakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda “saat aku di Mekah atap rumahku terbuka, tiba- tiba datang malaikat Jibril, lalu dia membelah dadaku, kemudian mencucinya dengan air zam- zam. Dibawanya pula bejana terbuat dari emas berisi hikmah dan iman, lalu dituangnya ke dalam dadaku dan menutupnya kembali. Lalu dia memegang tanganku dan membawaku menuju langit dunia”.
Meski begitu, ada beberapa ulama yang menolak peristiwa terakhir itu. Tak sedikit dari mereka yang memiliki versi tersendiri atas cerita Nabi Muhammad .
Terlepas dari semuanya, banyak hikmah yang bisa diambil dari kisah Nabi Muhammad yang dibelah dadanya oleh Malaikat Jibril,nah dari situlah sejarah belah ketupat yang dikatan orang tua zaman dulu.
Sehingga pentingnya sejarah tersebut terdapat makan yang mendalam dan kita harus tau makna penting dibalik doa qunut dilansir bantenraya.com dari channel youtube Ustadz Abdul Somad Official menjelaskan 12 makna yang terkandung di balik doa qunut.
Baca Juga: Kabupaten Serang Menuju Bebas Covid-19, Ini Jumlah Kasus Terakhir
للّٰهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ
“Berikanlah kami hidayah sebagaimana kau berikan hidayah kepada orang-orang sebelum kami.”
Pendakwah berdarah Melayu ini mengatakan, penting untuk terus meminta hidayah kepada Allah SWT agar menjaga hati tetap dan terus lurus. “Hati manusia selalu berubah-ubah, gampang tergoda, maka penting untuk terus meminta hidayah dan bimbingan Allah SWT agar kita tidak tersesat,” ujarnya.
وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ
“Berikan kami kesehatan sebagaimana engkau berikan pada orang-orang sebelum kami.”
Kata ‘Afait’, kata UAS, bermakna kesehatan atau kebaikan secara menyeluruh, baik fisik, rohani, maupun lainnya. “Maka, yang dinamakan sehat walafiat adalah keadaan di mana dia sehat dan baik fisik, mental, dan perkara lain,”ujarnya menjelaskan.
Baca Juga: Kabupaten Serang Menuju Bebas Covid-19, Ini Jumlah Kasus Terakhir
وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ
“Berikanlah kami pertolongan sebagaimana engkau beri orang-orang sebelum kami pengampunan.”
UAS menegaskan tidak ada yang dapat membuka pintu pertolongan selain Allah SWT. Begitu juga pintu keberkahan dan nikmat, tidak ada yang bisa membukanya kecuali dengan izin Allah SWT.
“Jika Allah SWT telah menimpakan musibah, penyakit, tak ada yang bisa menolong kecuali Dia, begitu juga ketika Allah SWT ingin memberikan nikmat, berkah, maka tidak ada yang bisa menghalangi atau menolak,” katanya.
وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ
“Berikanlah keberkahan kepada kami sebagaimana engkau karuniakan pada mereka sebelum kami.”
Meminta keberkahan atas segala sesuatu penting dilakukan, kata UAS, karena melalui keberkahan yang diberikan Allah SWT, segala rezeki dan nikmat yang diterima akan terasa lebih dari cukup.
وَقِنِيْ شَرَّمَا قَضَيْتَ
“Jagalah kami dari takdir yang tidak baik.”
UAS menjelaskan, pada dasarnya setiap manusia memiliki kemungkinan tertimpa kesialan, takdir buruk atau marabahaya, maka sangat perlu untuk terus memanjatkan doa agar diberi perlindungan dan penjagaan dari Sang Pencipta.
Baca Juga: KONI Kota Cilegon Minta Pengcab Ikut Bertanggungjawab Wujudkan 3 Besar
Adapun dari lima poin tadi, semuanya adalah doa dan perlu diaminkan oleh makmum ketika sholat Subuh berjamaah. Doa-doa tadi juga dibaca secara lantang, kata UAS, berbeda dengan bacaan selanjutnya yang dibaca secara pelan, karena bukan termasuk doa, melainkan puji-pujian kepada Allah SWT.
فَاِنَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضٰى عَلَيْكَ
“Engkau yang memutuskan perkaraku dan tidak ada yang memutuskan perkara Engkau.”
“Allah dapat memutuskan segala perkara manusia, tapi tidak ada satu manusia pun yang dapat memutuskan perkara Allah karena Dia adalah Hakim dari semua hakim. Maka dari itu, jangan sombong, jangan angkuh karena segala perkara Allah yang memutuskan,” ujar UAS.
وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ
“Jika Allah SWT tidak menjatuhkan/menghinakan, maka tidak ada yang bisa merendahkannya.”
UAS mengingatkan Allah SWT adalah penentu tinggi dan rendahnya derajat manusia. “Ketika Allah mencintai kita, derajat kita akan ditinggikan, dan tidak akan ada yang mampu menjatuhkan kita kecuali Allah SWT,” ujarnya menjelaskan.
“Maka, jangan sombong saat di atas, saat kaya, saya menjabat posisi tinggi karena sesungguhnya yang menaikkan derajat kita adalah Allah SWT. Siapa yang dinaikkan derajatnya oleh Allah SWT, maka tidak ada yang bisa menariknya turun, begitu juga sebaliknya,” tuturnya.
Baca Juga: KONI Kota Cilegon Minta Pengcab Ikut Bertanggungjawab Wujudkan 3 Besar
وَلاَ يَعِوَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ
“Tidak ada yang mulia orang yang Allah SWT musuhi.”
“Jika ada orang yang menjatuhkan kita, haters, tukang bully, pemfitnah, tapi kalau Allah tetap meninggikan derajat kita, maka kita tidak akan jatuh, begitu juga sebaliknya, meski kita diagungkan, dipuji, tapi kalau Allah SWT sudah rendahkan derajat kita, maka tetaplah hina kita. Karena Allah SWT yang menaikkan, menjatuhkan, memuliakan, dan menghinakan derajat manusia,” ujar UAS menjelaskan.
تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ
“Engkau sajalah yang Maha Tinggi, Agung, dan Mulia.”
Segala pujian, kecantikan, kekayaan, ketampanan, kemuliaan yang diperoleh, tidak lain adalah karena izin dan pemberian Allah SWT, ujar UAS.
فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ
“Segala puja-puji hanya milik Allah SWT.”
“Jangan mau disanjung, dan sadarlah kalau segala pujian hanya milik Allah SWT,” ujar UAS mengingatkan.
وَاَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ
“Aku memohon ampun dari Engkau dan aku bertobat kepada Engkau.”
Baca Juga: Dewan Kabupaten Serang Minta OPD Antisipasi Luncuran, Ini Alasannya
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
“(Dan semoga Allah) mencurahkan rahmat dan sejahtera ke atas junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya.”*

















