BANTENRAYA.COM – Meninggal daerah kelahiran menjadi fenomena yang biasa terjadi namun daerah di Banten ini dinobatkan sebagai yang paling banyak ditinggal alias kena ghosting penduduknya.
Fenomena migrasi tersebut terlihat dari hasil long form sensus penduduk 2020 Provinsi Banten yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten.
Secara geografis, Provinsi Banten berada di paling barat Pulau Jawa yang berbatasan dengan Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat.
Baca Juga: 40 Persen Anggaran Salira di Cilegon Siap Digeber, Asal Pencairan Bisa Secepatnya
Banten memiliki 8 daerah yang terbagi dalam 4 kabupaten dan kota yakni Kabupaten Serang, Pandeglang, Lebak dan Tangerang.
Sementara 4 kota lainnya terdiri atas Kota Serang, Cilegon, Tangerang dan yang terakhir adalah Tangerang Selatan.
Dan kali ini BPS melalukan sensus penduduk periode 2020 dan kini telah telah dirilis ke publik. Salah satu yang disorot adalah soal migrasi.
Baca Juga: Ramai Desakan Bubarkan DPR RI, Ahmad Sahroni Murka Hingga Berkata Ini
Dikutip Bantenraya.com dari laporan long form sensus penduduk 2020 Provinsi Banten, migrasi merupakan kegiatan perpindahan penduduk antar wilayah dalam jangka waktu tertentu, dengan melibatkan perubahan tempat tinggal.
Salah satunya adalah migrasi seumur hidup atau penduduk yang wilayah tempat tinggalnya pada saat pelaksanaan sensus berbeda dengan wilayah tempat lahir merupakan migran seumur hidup.
Adapun besaran migran seumur hidup dalam suatu populasi dikenal sebagai angka migrasi seumur hidup.
Baca Juga: Janji Walikota Cilegon Robinsar ke Damdim Soal Jalan Hasil TMMD ke-125: Insya Allah Kita Nanti…..
Dari hasil long form sensus penduduk 2022, angka migrasi seumur hidup di Provinsi Banten mencapai 18,77 persen.
Angka tersebut mengalami sedikit penurunan dibandingkan dengan hasil SP2010 senilai 26,02 persen.
Jika digambarkan secara matematis setidaknya 19 dari 100 penduduk Banten lahir di provinsi lain.
Baca Juga: Kunjungi Wartawan Korban Pengeroyokan di PT GRS Jawilan, Menteri LH: Kami akan Kawal Proses
Proporsi penduduk berstatus migran seumur hidup antarprovinsi terbesar berada pada Generasi X (42-57 tahun) sebesar 30,91 persen.
Artinya, sebanyak 31 dari 100 penduduk Generasi X merupakan migran seumur hidup antarprovinsi.
Proporsi penduduk berstatus migran seumur hidup pada generasi yang lebih muda (Post Gen Z dan Generasi Z) lebih rendah daripada generasi yang lebih tua (Milenial, Generasi X, Pre-Boomer, dan Baby Boomer).
Baca Juga: Nonton Drama The Winning Try Episode 9 Sub Indo Full Movie Beserta Spoiler
Sebagai gambaran, adapun pengelompokkan generasi di Indoensia dibadi menjadi 6 yakni Generasi X (42-57 tahun), Generasi Milenial (26-41 tahun), Generai Z (11-25 tahun), Generasi Baby Boomer (58-76 tahun), Generasi Pre-Boomer (77+ tahun) dan Generasi Post Z.
Hasil survei yang dilakukan BPS Banten ternyata juga bisa memberikan gambaran atau indikator migrasi seumur hidup tingkat kabupaten/kota.
Migran seumur hidup antarkabupaten/kota adalah penduduk yang kabupaten/kota tempat tinggal saat pendataan berbeda dengan kabupaten/kota tempat lahir.
Tempat lahir dapat berada di kabupaten/kota lain di dalam provinsi, di luar provinsi, maupun di luar negeri.
Kota Tangerang Selatan (48,09 persen), Kota Tangerang (39,66 persen), dan Kabupaten Tangerang (22,64 persen) merupakan 3 kabupaten/kota yang memiliki angka migrasi masuk seumur hidup tertinggi di Provinsi Banten.
Baca Juga: Tak Dipilih Jadi Sekda Kabupaten Serang, Momon Andriwinata Legawa
Sedangkan, 3 wilayah yang memiliki angka migrasi keluar seumur hidup tertinggi adalah Kabupaten Pandeglang (13,59 persen), Kabupaten Serang (11,08 persen), dan Kota Tangerang (9,88 persen).
2 kabupaten/kota dengan angka migrasi neto seumur hidup antarkabupaten/kota yang bernilai positif tertinggi adalah Kota Tangerang Selatan (55,11 persen) dan Kota Tangerang (39,59 persen).
Hal ini mengindikasikan bahwa migrasi berkontribusi cukup penting terhadap meningkatnya jumlah penduduk di kedua kota tersebut.
Sementara itu, Kabupaten Pandeglang (-10,91 persen) dan Kabupaten Lebak (-4,93 persen) memiliki angka migrasi neto seumur hidup antarkabupaten/kota yang bernilai negatif tertinggi.
Hal ini mengindikasikan bahwa migrasi seumur hidup berkontribusi cukup penting terhadap penurunan jumlah penduduk di kedua kabupaten tersebut. ***

















