BANTENRAYA.COM – Sektor pertanian di Provinsi Banten saat ini tidak banyak dilirik oleh anak muda.
Data Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Banten menunjukkan, hanya sekitar 20 persen anak muda yang tertarik pada sektor pertanian.
Sementara, 80 persen sisanya masih merupakan petani generasi tua.
Baca Juga: Bantu Selamatkan Bumi, DAMRI Tambah 70 Unit Bus Listrik Baru Untuk Armada TransJakarta
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Banten Ameriza Ma’ruf Moesa mengatakan, sektor pertanian di Provinsi Banten menghadapi masalah tidak berjalannya regenerasi petani.
Sebab tidak banyak anak muda yang mau menjadi petani.
Padahal, sektor pertanian di Provinsi Banten memiliki peluang usaha yang cukup besar.
“Salah satu problem pertanian kita saat ini adalah regenerasi,” kata Ameriza.
Dia mengatakan, hampir 80 persen petani di Provinsi Banten berusia di atas 50 tahun, usia yang mendekati usia pensiun.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Banten perlu mendidik anak muda agar mau menjadi petani milenial sehingga terjadi regenerasi petani.
“Salah satu caranya adalah dengan membiasakan para petani muda menggunakan teknologi digital,” kata Ameriza.
Baca Juga: Harga Cabai Rawit di Pasar Badak Pandeglang Naik Tajam, Warga Terpaksa Beli Meski Harga Selangit
Ameriza meyakini regenerasi petani menjadi salah satu kunci keberhasilan menjaga keberlanjutan pertanian dan ekonomi daerah.
Dengan perencanaan yang baik, green house ini diharapkan dapat beroperasi secara berkelanjutan dan memberikan kontribusi nyata bagi pertanian di Provinsi Banten.
Ameriza mengungkapkan, sebenarnya kondisi pertanian di Provinsi Banten, terutama beras, masih sangat mencukup.
Bahkan, produksi beras di Provinsi Banten surplus bila dibandingkan dengan kebutuhan akan bahan pokok tersebut.
Baca Juga: Iming-imingi Rp5 Ribu, Kakek di Pandeglang Gagahi Anak Tetangga
Hanya saja, untuk produk pertanian lain selain padi, misalnya tanaman hortikultura seperti cabai, bawang merah, cabai rawit masih sangat kekurangan.
Untuk memenuhi kebutuhan akan tanaman hortikultura, Provinsi Banten harus mendatangkannya dari luar Banten.
“Penduduk Banten lebih dari 10 juta produksi hortikultura kita dari Pandeglang dan Lebak belum bisa tercukupi. Jadi kadang-kadang kita dapat cabai dari Palembang, ada yang dari Jawa Tengah, dari Magelang,“ ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Agus M Tauchid membenarkan bahwa anak muda saat ini memang tidak banyak yang tertarik dengan sektor pertanian karena dianggap tidak menjanjikan kesejahteraan.
Namun dengan adanya teknologi pertanian diharapkan akan semakin bisa menekan ongkos produksi pertanian sehingga akan meningkatkan kesejahteraan pada petani.
Dengan cara ini diharapkan akan mampu menarik minat anak muda agar terjun ke dunia pertanian di Provinsi Banten.
Agus mengatakan, sebanyak 60 persen petani di Banten merupakan petani penggarap dengan luas lahan setengah hektare.
Petani-petani inilah yang rentan dengan kemiskinan. ***


















