BANTEN RAYA.COM – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Cilegon telah melaksanakan Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Kota Cilegon tahun 2021.
Apa itu PKD? PKD merupakan program dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI yang bertujuan mendorong pemerintah daerah untuk mengembangkan dan melestarikan budaya daerah sesuai kearifan lokalnya masing-masing.
Di Cilegon, PKD diselenggarakan dengan harapan agar ada peningkatan pemahaman masyarakat tentang nilai-nilai tradisional daerah, pelestarian, pengembangan dan pemanfaatan nilai-nilai tradisional secara universal.
Baca Juga: Cerita UMKM Kuliner Rendang Mak Tuo yang Tetap Cuan Meski di Tengah Pandemi
Kepala Disparbud Cilegon Mahmudin mengatakan, salah satu upaya dalam rangka PKD adalah untuk mengembangkan seni dan budaya daerah dalam menggali potensi seni dan budaya tersebut.
“Harapannya nanti supaya lebih meningkatkan corak ragam seni budaya yang belum tergali untuk digarap, sehingga menghasilkan kreasi seni budaya yang berkembang dan tetap terlestarikan,” katanya kepada Banten Raya.
Mahmudin mengungkapkan, dalam PKD tahun ini, pihaknya menggali beberapa kebudayaan serta kearifan lokal Kota Cilegon yang memiliki nilai-nilai dan ragam budaya yang khas dan berbeda dengan wilayah lain di Provinsi Banten. Mulai dari makanan olahan, pakaian, alat musik yang terbuat dari pring atau bambu.
Baca Juga: Banten Punya Program PUSPA untuk Perlindungan Perempuan dan Anak, Libatkan Lintas Lembaga
“Bambu adalah simbol dari ke-Bhinekaan masyarakat Cilegon. Zaman dulu, bambu dengan hasil daya kreasi hadir sebagai permainan anak-anak, alat dalam berbagai pesta dan upacara, bahkan digunakan sebagai alat mitigasi bencana,” ujarnya.
Untuk itu, menurut Mahmudin, sejarah perjalanan bambu, kini dirasa penting dihadirkan kembali di tengah masyarakat agar dapat diambil pelajarannya dan diiimplementasikan kearifan lokalnya dalam hidup sehari-hari.
“Yang kami gali tentang bambu di Cilegon itu berupa alat musik Pantun Bambu, senjata dalam pencak silat yaitu Toya Bambu, alat untuk membatik, dan dari sisi kuliner berupa makanan Rabeg yang berbahan dasar rebung atau bambu muda,” ucapnya.
Baca Juga: Sandiaga Uno Dijadwalkan Hadiri Festival Seni Budaya Cikolelet
Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Disparbud Cilegon Tini Suswatini menambahkan, Pantun Bambu adalah alat musik tradisional dari Cilegon yang pada jaman dahulu dimainkan oleh para petani disawah di saat beristirahat selepas kerja. Seiring berjalan waktu alat musik ini pun berkembang menjadi wahana berkesenian dan hiburan.
Menurutnya, awal mulanya Pantun Bambu dimainkan secara perorangan dan cara memainkannya dipukul serta dipadukan dengan lirik berupa pantun yang diucapkan secara spontan. Sesuai inovasi dan perkembangan zaman, lirik yang digunakan dalam kesenian Pantun Bambu bisa berupa salawat, sosial, budaya, politik, kuliner, dan lain sebagainya.
“Alatnya terbuat dari bahan bambu jenis petung, dimana bambu petung ukurannya lebih besar dan lebih kuat kualitasnya dibanding dengan bambu biasa pada umumnya. Jenis bambu petung bisa menghasilkan resonansi suara sesuai dengan yang diinginkan, seperti halnya irama gong,” katanya.
Baca Juga: Acara WSBK Dorong Eksposur Pariwisata Indonesia
Tini menjelaskan tentang kuliner tradisional Rabeg yaitu salah satu kuliner khas Cilegon yang mengalami akulturasi rasa yang awalnya dulu sebenarnya berasal dari masyarakat Arab.
“Rabeg itu biasanya disajikan saat acara-acara khusus bagi para bangsawan pada zaman kesultanan Banten. Bahan dasarnya terbuat dari daging hewan ternak. Nah bagi masyarakat biasa pada zaman itu, bahan dasar Rabeg diganti dengan bambu muda atau rebung. Sekarang, Rabeg sering disajikan dalam acara pesta atau perayaan seperti aqiqah, sunatan dan perkawinan,” jelasnya. (danang)

















