BANTENRAYA.COM – The Lord of the Rings adalah trilogi film adaptasi dari novel trilogi fiksi fantasi karya J.R.R. Tolkien.
Trilogi The Lord of the Rings merupakan trilogi film terbaik sepanjang sejarah perfilman.
Hal tersebut bisa dilihat sendiri dari pencapaian yang diraih dari trilogi The Lord of the Rings sendiri.
Baca Juga: Istrinya Diam-Diam Menikah Lagi, Begini Pesan Haryono untuk Suami Baru Istrinya
Dilansir bantenraya.com dari lotr.fandom.com, trilogi yang digarap oleh sutradara Peter Jackson ini telah meraup total 17 piala Oscar.
Selain itu, trilogi ini juga masih mejeng di posisi teratas daftar 250 film terbaik sepanjang masa versi imdb.com.
The Fellowship of the Ring (2001) berada di posisi 9 dengan ratting 8,8.
Baca Juga: Anies Baswedan Singgung Ide Atap Rumah Kota untuk Disewakan Panel Surya di Debat Capres Pertama
The Two Towers (2002) berada di posisi 13 dengan ratting 8,8 juga.
Sementara film penutupnya, The Return of the King (2003) berada di posisi 7 dengan ratting 9,0.
Uniknya, tidak ada film live-action fantasi lain yang bisa menyaingi kesuksesan trilogi ini, malah memang hanya trilogi ini yang seluruh judulnya awet mejeng di posisi 20 teratas selama 20 tahun.
Bandingkan saja dengan 8 film adaptasi heptalogi novel Harry Potter yang belum memenangkan Oscar sama sekali, padahal sama-sama bergenre fantasi, bahkan novelnya pun lebih tebal dan lebih banyak.
Bahkan adaptasi lainnya dari J.R.R. Tolkien tidak bisa menandingi kesuksesan The Lord of the Rings.
Trilogi The Hobbit dan serial tv Rings of Power tersebut tidak begitu memuaskan penggemar dunia fiksi Middle Earth.
Setelah 20 tahun lamanya, berikut adalah penyebab mengapa kesuksesan trilogi film ini masih tidak tergantikan:
1. Memilih Eksekutif yang Mendukung
Produser kadang menjadi penyebab kacaunya ide brilian dari penulis atau sutradara film.
Contohnya saja bisa dilihat dari hancurnya franchise Indiana Jones dan Star Wars oleh arahan produser Kathleen Kennedy.
Hampir saja ide kreatif Peter Jackson dan Fran Walsh untuk membuat trilogi The Lord of the Rings ikut hancur oleh salah satu produser mereka.
Tapi ketika itu hak adaptasi masih dipegang oleh studio Miramax, dan produser Harvey Weinstein mengusulkan beberapa perubahan karena keterbatasan budget.
Harvey mendesak agar seluruh adaptasi 3 novel J.R.R. Tolkien tersebut dibuat satu film saja.
Bahkan jika Peter menolak, Harvey mengancam kalau proyeknya tersebut akan dipindah ke tangan Quentin Tarantino.
Untung saja, Peter sukses membuat kontrak dengan studio New Line Cinema lalu Robert Shaye, selaku founder New Line Cinema membeli hak adaptasi The Lord of the Rings dari studio Miramax.
Setelah pindah ke New Line Cinema pada tahun 2000, Peter dan kru film akhirnya sukses melanjutkan ide mereka untuk membuat 3 adaptasi film dan ketiganya rilis di bioskop pada Desember.
Baca Juga: Trailer Terbaru Dune Part Two, Berikut Sinopsis, Tanggal Rilis, dan Info Sekuel Selanjutnya
Kemudian, sebagai bentuk sindiran ke Harvey, Peter sengaja membuat karakter pemimpin pasukan Orc bernama Gothmog mirip seperti wajah Harvey.
Hal tersebut juga dikonfirmasi oleh aktor Elijah Wood, pemeran karakter Frodo.
2. Tidak Tercemar Budaya Keberagaman
Perubahan ras karakter dan unsur LGBT adalah budaya keberagaman yang belakangan ini sedang trend di beberapa judul film-film Hollywood.
Baca Juga: Trailer Kung Fu Panda 4 Rilis, Po Reuni dengan Musuh Lama
Namun hal tersebut juga yang membuat banyak franchise legendaris menjadi ambruk dan kehilangan fans.
Bisa dilihat dari ketidaksuksesan film live-action The Little Mermaid, serial kartun Velma atau dokumentasi tentang Cleopatra oleh Netflix.
Trilogi The Lord of the Rings aman dari hal tersebut. Bahkan tidak ada satu pun aktor atau aktris berkulit hitam di ketiga filmnya.
Hal ini karena penonton juga bisa menilai bahwa tanpa mengubah ras pemeran karakternya, semua sudah tahu kalau elf, kurcaci, hobbit, orc, goblin dan manusia itu berbeda ras.
Baca Juga: Jarang Orang Tahu! Ini Tempat Wisata di Banten yang Belum Terjamah Keindahannya Bikin Hati Kepincut
3. Kreatif Mengikuti Novel
Tidak semua yang diceritakan di novel The Lord of the Rings diadaptasi ke film, dan tidak semua karakter dari novel muncul di filmnya.
Meski begitu, Peter dan seluruh timnya berusaha untuk tetap menyesuaikan ide kreatif mereka mengikuti alur cerita yang Tolkien tulis di novel.
Hal ini juga sebabnya mengapa trilogi ini tidak bisa diulang oleh trilogi film The Hobbit meski sama-sama digarap Peter Jackson.
Baca Juga: Promo Beli 1 Gratis 1 untuk Tiket Nonton Film Siksa Neraka di CGV, Begini Cara Dapetinnya!
Trilogi The Lord of the Rings mengadaptasi 3 buku, sedangkan trilogi The Hobbit mengadaptasi 1 buku.
Maka bisa dibayangkan berapa banyak unsur di luar novel The Hobbit yang harus ditambah.
Terlalu menambah unsur dari luar novel memang tidak pernah berhasil untuk film adaptasi.
Hal tersebut juga yang menyebabkan serial tv Game of Thrones mulai tidak digemari dan berakhir mengecewakan di season 8, karena cerita yang mengikuti novel habis di season 5.* * *


















