BANTENRAYA.COM – Wakil Gubernur Banten A Dimyati Natakusumah menghadiri Haflah dan Khotmil Quran 30 Juz, di Pondok Pesantren Modern At-Thohiriyah Pelamunan, Kabupaten Serang.
Haflah dan Khotmil turut dihadiri Wakil Presiden ke-13 Republik Indonesia KH Ma’ruf Amin beserta istri, Wury Ma’ruf Amin.
Di kesempatan itu Dimyati berpesan kepada 128 santriwan dan santriwati yang diwisuda sebagai penghafal Alquran 30 Juz.
Baca Juga: 4 Jemaah Haji 2025 asal Kabupaten Lebak Meninggal Dunia, 3 Orang Dimakamkan di Tanah Suci
Menyampaikan pesan tentang pentingnya menanamkan nilai-nilai Alquran dalam kehidupan sehari-hari, dengan mengaitkannya pada tujuh anatomi tubuh manusia.
Kepala melambangkan pahala besar ketika ilmu Quran diterapkan dalam hidup. Wajah menggambarkan citra mulia di mata masyarakat,” katanya, kemarin.
“Mulut sebagai alat melatih bacaan Quran yang fasih seperti yang diajarkan di pesantren ini. Lengan berarti kedekatan dengan keluarga dan masyarakat. Sedangkan hati sebagai pusat cinta dan kecintaan terhadap Al-Quran, dan terakhir kaki adalah simbol jalan keberkahan untuk melangkah menjemput dan menerapkan ilmu,” sambung Dimyati.
KH Ma’ruf Amin dalam kesempatan itu memberikan motivasi kepada para santri agar tidak berkecil hati menjadi santri.
Ia menegaskan bahwa dirinya bisa menjadi Wakil Presiden karena pernah menjadi santri.
“Jangan merasa rendah diri. Santri bisa jadi menteri, bupati, bahkan presiden dan wakil presiden. Saya salah satu buktinya. Jadi, teruslah bangga menjadi santri, ujarnya.
Baca Juga: Remaja Asal Binuang Digulung Ombak Pantai Anyer, Dua Hari Pencarian Jasadnya Baru Ditemukan
KH Ma’ruf Amin juga memuji konsistensi Pondok Pesantren Modern At-Thohiriyah yang dinilainya mampu menjaga nilai-nilai tradisional pesantren (salafi), sekaligus bertransformasi secara inovatif sesuai perkembangan zaman.
“Pesantren ini menjaga warisan lama dan tidak menolak yang baru. Bahkan terus berinovasi, memperbaiki sistem, dan menjadi lebih baik setiap hari. Kalau hari ini sama dengan kemarin, itu rugi. Santri harus dinamis dan terus berkembang,” katanya.
Menurutnya, pesantren memiliki peran penting sebagai penjaga dua kesepakatan besar ulama: ijma’ sebagai kesepakatan agama pasca wafatnya Rasulullah, dan qiyas sebagai ijtihad ulama dalam membangun bangsa, termasuk melahirkan dasar negara seperti Pancasila dan UUD 1945. Pesantren didirikan agar ada generasi ulama yang meneruskan perjuangan Rasul dan menjaga dua nisa besar: agama dan kebangsaan, tambahnya.
Baca Juga: Anggota Dewan Ngadu ke Gubernur Banten Andra Soni, Gegara Pesan WA Tak Digubris Kepala OPD
Sementara itu, Pengasuh Pondok Modern At-Thohiriyah Muhammad Tohir menyampaikan rasa bangganya atas capaian para santri.
“Kami yakin, 128 santri ini akan menjadi lentera penerang di mana pun berada. Mereka tidak hanya ahli agama, tetapi juga akan berkontribusi dalam berbagai keahlian di tengah masyarakat,” ujarnya. ***



















