BANTENRAYA.COM — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten mengklaim berhasil menurunkan jumlah daerah tertinggal hingga 50 persen dalam beberapa tahun terakhir. Dari semula 59 wilayah, kini hanya tersisa 30 yang masih masuk kategori tersebut.
Hal itu sebagaimana diungkapkan Plt. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Banten, Rd. Berly Rizki Natakusumah, pada Jumat, 25 Juli 2025.
Menurutnya, penurunan paling signifikan terjadi di Kabupaten Lebak, meski kabupaten tersebut masih menjadi daerah dengan desa tertinggal terbanyak di provinsi ini.
Baca Juga: Perpanjangan MRT Lebak Bulus–Serpong Dinilai Buka Peluang Ekonomi Baru
“Data terakhir menunjukkan jumlah daerah tertinggal di Banten berkurang dari semula 59 menjadi 30 wilayah. Penurunan terbesar terjadi di Kabupaten Lebak,” kata Berly.
Penurunan ini, menurut Berly, merupakan hasil dari program-program pembangunan dasar yang dilakukan pemerintah daerah, termasuk peningkatan infrastruktur jalan, akses listrik, air bersih, dan penguatan kapasitas aparatur desa.
Ia menegaskan bahwa, strategi pengentasan dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat.
Baca Juga: Segera Apply! Open Rekrutmen PT Bukit Muria Jaya Penempatan Karawang, Terbuka untuk D3
“Upaya percepatan pembangunan terus kami lakukan. Bukan hanya fisik, tapi juga kapasitas sumber daya manusia di tingkat desa,” ujarnya.
Meskipun begitu, Berly mengakui bahwa dua wilayah di selatan Banten—Kabupaten Lebak dan Pandeglang—masih mendominasi daftar daerah tertinggal. Pandeglang disebut menunjukkan tren yang cukup positif, namun tidak secepat yang terjadi di Lebak.
Lebih lanjut ia menyampaikan, saat ini pihaknya masih mengandalkan pemantauan melalui Indeks Desa Membangun (IDM) sebagai alat ukur utama untuk menilai kemajuan pembangunan di setiap desa.
Baca Juga: Dukung Pembangunan Desa, UNMA Banten Terjunkan 547 Mahasiswa KKN Tematik
Menurutnya, IDM menjadi dasar evaluasi tahunan sekaligus acuan dalam menentukan prioritas program.
“Kami akan terus memonitor dan mengevaluasi perkembangan IDM sebagai salah satu indikator utama pengentasan daerah tertinggal,” ujar Berly.
Kendati demikian, ia juga menyadari bahwa tidak semua program berjalan secepat harapan.
Baca Juga: Bikin Sang Guru Geleng-geleng, Bocah SD Ini Viral Gegara Bercita-cita Jadi Janda
Banyak desa menghadapi hambatan struktural seperti kondisi geografis ekstrem, minimnya SDM terlatih, hingga ketimpangan akses layanan publik.
“Kami realistis. Masih ada pekerjaan rumah. Tapi tren-nya sudah ke arah yang benar,” tegasnya.
Berly menyampaikan optimisme bahwa dengan intervensi yang konsisten dan kolaboratif, seluruh wilayah tertinggal di Banten bisa dientaskan dalam beberapa tahun mendatang.
“Kami berharap pada tahun-tahun mendatang jumlah daerah tertinggal bisa terus menurun secara bertahap hingga akhirnya seluruh wilayah di Banten keluar dari kategori,” pungkasnya. ***


















