BANTENRAYA.COM – Perjanjian antara Prabowo Subianto dengan Anies Baswedan mencuat ke publik menjelang Pemilu 2024.
Anies Baswedan disebutkan berjanji untuk tidak mencalonkan diri sebagai calon presiden jika Prabowo Subianto mencalonkan diri.
Perjanjian antara Anies Baswedan dengan Prabowo Subianto ini menjadi perdebatan publik.
Baca Juga: Ternyata 5 Kebiasaan Sepele ini Bisa Bikin KamuTerlihat Cepat Tua, Simak di sini!
Banyak yang meminta agar perjanjian tersebut diungkap ke publik secara terbuka.
Seperti diketahui, Anies Baswedan saat ini merupakan kandidat calon presiden dari Partai Nasdem.
Perdebatan soal perjanjian Anies Baswedan dengan Prabowo Subianto antara lain terjadi antara Tifatul Sembiring dengan Andre Rosiade.
Keduanya terlibat perang cuitan di twitter.
Tifatul Sembiring adalah anggota Dewan Penasihat PKS yang juga anggota DPR RI, sedangkan Andre adalah anggota Dewan Pembina Partai Gerindra.
Awalnya Tifatul mencuit soal pihak-pihak yang mengungkit perjanjian capres dengan menyertakan pantun menohok pada 1 Februari 2023.
“Ada yg khawatir gagal maning, ungkit2 perjanjian capres dulu. Sampai kapan? Rupanya belio nggak sadar sudah khianati ummat,” kata dia.
“Jikalau takut ditanduk kambing
Jangan duduk belakang punggung
Jikalau takut kalah bertanding
Mengapa naik ke atas panggung,” tutur Tifatul di akun twitternya @tifsembiring.
Cuitan Tifatul Sembiring tersebut banyak yang mengartikan menyindir Prabowo Subianto kalah dua kali dalam pencalonan sebagai presiden.
Twit tersebut kemudian seolah dibalas oleh Andre Rosiade di akun twitternya @andre_rosiade.
Baca Juga: Perayaan 1 Abad NU, Muhammadiyah Kerahkan 29 Ambulans dan Puluhan Tim Medis
“Tapi terkait perjanjian tidak maju sebagai presiden itu memang ada. Dan bang Sandi merasa perjanjian itu masih berlaku sampai sekarang. Dan bang Sandi mendukung pak Prabowo di Pilpres 2024. Itu yang ditegaskan beliau sebagai salah satu pihak yang menandatangani perjanjian,” kata Andre.
Meski demikian, kata Andre, Prabowo tidak mau mengungkit masalah tersebut dan memilih kadernya untuk fokus pemenangan.
“Partai Gerindra saat ini fokus memenangkan pak Prabowo di Pilpres 2024 nanti. Tidak mau mengungkit-ungkit hal yang lalu. Karena pak Prabowo sudah menyampaikan kepada kami, tidak usah mengungkit-ungkit jasa masa lalu,” kata Andre.
Andre menjelaskan kembali bahwa surat perjanjian itu memang ada.
“Terkait para pelaku penandatangan, akan melaksanakan atau tdk, kembali kpd etika & moral dari pribadi masing-masing,” kata dia.
“Pak Prabowo juga tdk mempermasalahkan itu, dan meminta kami kader Gerindra utk fokus menjadi solusi bagi rakyat,” ujarnya di twitter.
Akhirnya Andre menembak langsung Tifatul Sembiring.
“@tifsembiring anda sering menyindir pak
prabowo. Tapi kalo boleh tahu Prestasi anda di
DPR_RI apa ya? Baik di Ruang2 Rapat mau pun di Dapil anda di Sumut? Ayo donk kasih tahu. Jgn hanya pintar bawa2 Umat & nyindir aja yg kelihatan. Tapi Kinerja enggak jelas,” kata Andre.
Tifatul Sembiring kemudian membuat thread panjang seolah membalas cuitan Andre Rosiade.
“Ada yang kelojotan, saya bikin pantun dan status di twitter tanpa menyebut nama orang atau partai apapun. Saya dikatakan menyindir, Alhamdulillah masih merasa kalau disindir,” kata Tifatul.
“Sangat disayangkan, rendahnya selera sastra dan bahasa politik si penanggap. Mestinya kalau dikasih pantun, ya dibalas pantun dong. Kok malah mencak2… Di alam demokrasi, jangankan menyindir, mengkritik pejabat publik itu boleh saja, asal jelas datanya,” tuturnya.
“Lucunya ybs nanya2 apa prestasi saya, di-banding2kan dg “oknum” dirinya sendiri. Urusanmu apa? Mengevaluasi kinerja orang dari lain partai, dan lain komisi. Selama DPR berdiri, belum ada kedengaran kelakuan aleg aneh spt ini,” kata Tifatul.
“Saya nggak mau debatlah sama “oknum” satu ini. Percuma. Logikanya saja suka aneh. Sebelum ini, belio pernah memesan PSK via online, lalu menggerebeknya di hotel bersama polisi. Untuk membuktikan bahwa di kota Padang memang ada pelacuran terselubung,” kata Tifatul.
” Hanya untuk menjatuhkan citra Mahyeldi sebagai walikota Padang saat itu. Aneh kan cara berpikir begini. Masak saya diajak debat sama “oknum” macam ini. Yah, sayang waktulah, percuma,” kata dia.
“Maksud twit saya, dalam hal capres, soal ungkit2 perjanjian politik, entah itu ada atau tidak, buat apa di ungkit2 ke publik. Targetnya apa? Apa sih manfaatnya. Ada nggak dasar hukumnya yg bisa dibawa ke ranah hukum. Atau hanya sekedar menjatuhkan kompetitor?” kata Tifatul Sembiring.
“Dulu pernah, saat mau pilpres, ketika satu partai besar tidak mau mendukung calon tsb, lalu di ungkit2lah perjanjian Batu Tulis begini begitu. Ramai. Tapi tidak jalan juga toh,” kata dia.
Tifatul heran dengan perjanjian yang diungkit Andre.
“Nah sekarang diungkap lagi ada perjanjian dengan Anies Baswedan. Ini targetnya apa? AB nggak boleh maju, begitu? Sudahlah, nyalon aja masing2. Situ punya jagoan, yang lain juga punya calon. Monggo…sama2 berkompetisi secara sehat…” katanya.
“Kata sang “oknum”, pantun dan status saya menyindir pak Prabowo, meskipun dalam twit tersebut, saya tak sebut2 nama beliau. Tapi dikonotasikan “oknum” tersebut. Silakan saja…” kata dia lagi.
“Soal mengkampanyekan pak Prabowo, ketika running capres tahun 2014 dan 2019, saya turun ke 7 propinsi. Keluar keringat dan keluar dana yang besar. Menggalang kader dan ummat. Bukan kaleng2. Saat itu sang “oknum” yg ajak debat ini belum lahir sebagai politisi,” katanya.
“Tapi bagi saya sekarang, suruh dukung pak Prabowo lagi, ya ogah. Bagi saya beliau sudah “enough is enough”. Cukup. Itu hak pendapat pribadi saya. Kebebasan memilih dan berpendapat. Yang lain mau dukung, silakan…” kata Tifatul sengit.
“Soal pak Prabowo gabung dengan Pemerintahan Jokowi, itu hak beliau, silakan. Tapi soal moral politik, ada pendukung yang menilai tindakan itu negatif, jangan dilarang juga. Demokrasi itu biasa berbeda pendapat…” katanya. ***



















