BANTENRAYA.COM – Sebanyak 90 pasien gagal ginjal menjalani terapi pengobatan hemodialisa atau cuci darah di Rumah Sakit atau RS Sari Asih Serang.
Hal ini disampaikan Direktur RS Sari Asih Serang dr Yahmin Setiawan, usai peresmian layanan Extracorporeal Shock Wave Lithoripsy (ESWL) di RS Sari Asih Serang, Kota Serang, Selasa 1 November 2022.
ESWL di RS Sari Asih Serang sendiri adalah layanan untuk tindakan pemecahan batu ginjal tanpa melakukan tindakan pembedahan.
Baca Juga: Perpres Cadangan Pangan Terbit, Bulog Dituntut Lebih Profesional
Walikota Serang Syafrudin berkesempatan meresmikan layanan ESWL.
Yahmin Setiawan mengatakan, RS Sari Asih Serang melayani hemodialisa terapi pengobatan yang dijalani pasien gagal ginjal dari wilayah Banten Barat.
“Yang mana rata-rata sebulan pasiennya ada sekitar 90 pasien. Mereka rutin cuci darah paling tidak seminggu dua kali. Untuk yang gagal ginjal kronis. Terutama Pasien dewasa,” ujarnya kepada Bantenraya.com.
Baca Juga: Bangga! Cilegon Jadi Satu-satunya Kota yang Diundang Seminar Internasional The Energy Transition Day
Yahmin menyebutkan, 90 pasien yang menjalani hemodialisa berasal dari Kota Serang dan sekitarnya.
“Terbanyak memang Kota Serang, tapi ada juga dari wilayah Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak yang memang dirujuk ke kami,” sebut dia.
Ia menuturkan, para pasien gagal ginjal kronis yang menjalani terapi pengobatan cuci darah menggunakan jaminan kesehatan.
Baca Juga: Ingin Berikan Surprise, Zhico Nofriandika Dapati Sang Pacar Tengah Selingkuh dengan Pria Lain
“Dan semuanya bisa menggunakan BPJS kesehatan. Dicover BPJS kesehatan,” jelasnya.
Untuk melayani para pasien gagal ginjal kronis, kata Yahmin Setiawan, pihaknya menyediakan 12 unit.
“Kalau layanan cuci darah di kami memiliki kurang lebih 12 unit,” ungkap Yahmin Setiawan.
Kata Yahmin, bila sudah sakit ginjal, maka pilihannya pasien harus terapi pengobatan cuci darah.
Baca Juga: Profil Derby, Pemeran Adelia Copet Cantik di Preman Pensiun 7, Bidadari Baru Bareng Regina dan Irin
“Kalau udah kena ginjal maka pilihannya cuci darah atau transplant ginjal. Ginjalnya diganti. Yang diambil salah satunya. Diganti dengan donor yang ada,” katanya.
Sementara itu, Syafrudin mengaku bahwa di Kota Serang belum ada pasien gagal ginjal akut yang dirawat di Rumah Sakit Kota Serang.
“Kalau di Kota Serang belum ada,” katanya.
Baca Juga: TERBARU! Kode Redeem FF Free Fire 2 November 2022, Ada Diamond hingga Skin Epic untuk Diklaim
Syafrudin mengaku dapat informasi bahwa di Kota Serang belum ada pasien gagal ginjal akut yang di rawat di rumah sakit Kota Serang.
“Kemarin rapat Forkopimda jadi untuk di Kota Serang belum ada yang gagal ginjal. Belum ada. Karena kemarin informasi dari kepala dinas langsung,” ungkapnya.
“Tidak ada dan belum ada yang gagal ginjal. Kemungkinan daerah lain tapi di kota Serang belum,” ucap dia.
Untuk antisipasi, kata Syafrudin, pihaknya telah melakukan razia obat sirup di sejumlah klinik atau apotik di Kota Serang.
“Sudah dilakukan oleh dinas kesehatan karena saya sendiri belum tahu tuh nama obat yang sirup yang dirazia oleh petugas itu semuanya di Kota Serang sudah dirazia,” akunya.
“Tapi yang bermerk apa saya tidak tahu. Soalnya itu ada identitasnya. Bukan obat batuk OBH. Artinya ada ciri khas. Yang diambil oleh petugas,” tuturnya.
Baca Juga: Elektabilitas Golkar Turun, Sikap di KIB hingga Omnibus Law Ditenggarai Jadi Biang Kerok
“Karena umpamanya kalau obat batuk juga obat sirup tapi tidak. Ada ciri-cirinya. Tapi secara teknis nanti dokter Hasan (Kadinkes) yang akan menjelaskan,” imbuh dia.
Namun bila ditemukan ada kasus penyakit gagal ginjal akut, maka pihaknya menginstruksikan untuk segera ditangani.
“Kalau ada kasus berarti harus kita tangani sampai tuntas,” perintahnya. ***



















