BANTENRAYA.COM – Kepala Dinas Kesehatan atau Dinkes Kota Serang Ahmad Hasanuddin menegaskan, fogging atau pengasapan bukan upaya prioritas dalam mencegah penularan demam berdarah dengue atau DBD di Kota Serang.
Menurut Ahmad Hasanuddin, fogging hanya mampu membunuh nyamuk dewasa, sementara jentik nyamuk aedes aegypti tetap hidup dan berpotensi berkembang menjadi nyamuk dewasa.
“Sebenarnya fogging itu bukan prioritas ya. Fogging itu hanya sementara. Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa. Tapi intinya jentik nyamuk yang bakal jadi nyamuk itu nggak mati,” ujar Ahmad Hasanuddin, kepada Bantenraya.com, Jumat 14 Oktober 2022.
Baca Juga: Berikut Sepak Terjang Kapolda Jatim Irjen Pol Teddy Minahasa Terduka Ditangkap Kasus Narkoba
Kata Ahmad Hasanuddin, masyarakat yang ingin melakukan fogging, syaratnya harus ditemukan kasus DBD di suatu tempat terlebih dahulu.
“Ada persyaratannya. Pertama dia harus pastikan dulu bahwa sudah ada yang kena DBD,” katanya.
“Dan yang menentukan dia kena DBD adalah ahli orang kesehatan, dibuktikan dengan hasil laboratorium. Baru kasih tahu petugas kesehatan dalam hal ini yang ada di wilayah setempat,” terang Ahmad Hasanuddin.
Baca Juga: Komisi II DPRD Kota Serang Minta Dinkes Kota Serang Lakukan Fogging dan Penyuluhan PHBS
“Nanti orang puskesmas datang ke rumahnya. Dilihat. Oya betul ada jentik nyamuk. Maka bisa dilakukan fogging,” sambung dia.
Ahmad Hasanuddin mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat atau PHBS di lingkungannya masing-masing. PHBS ini guna memberantas penyakit demam berdarah dangue.
“Yang paling prioritas adalah membersihkan saluran air, genangan air, menutup dan membersihkan dan mengubur barang-barang yang nggak perlu. Hindari dari nyamuk aedes aegypti atau bunuh nyamuknya,” jelas dia.
Ahmad Hasanuddin mengungkapkan, terhitung sejak bulan Januari 2022 hingga bulan September 2022, kasus DBD di Kota Serang sudah menembus dikisaran 459 kasus.
“Kurang lebih saya data di beberapa bulan yang lalu sudah 459-an. Meningkat 4 kali lipat di priode yang sama tahun lalu,” ungkap Ahmad Hasanuddin.
Ahmad Hasanuddin menjelaskan, dari 459-an kasus itu tercatat ada dua orang yang meninggal akibat DBD.
“Beberapa bulan yang lalu ada dua orang yang meninggal,” terangnya.
Baca Juga: KPK Geledah Rumah Lukas Enembe dan Bawa Dokumen Aliran Uang
Ahmad Hasanuddin menuturkan, naiknya kasus DBD ini, karena sekarang sudah memasuki musim hujan.
Musim hujan ini bisa menimbulkan banyak genangan di lingkungan sekitar, sehingga membuat jentik nyamuk aedes aegypti berkembang dan memiliki potensi kasus DBD berkembang.
“Kalau air itu terbendung, maka akan menjadikan genangan dikhawatirkan akan timbul adanya penyakit demam berdarah,” pungkas dia. ***


















