BANTENRAYA.COM – Kerusuhan di Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur meninggalkan kisah yang begitu kelam.
Tercatat 127 orang meninggal dunia usai pertandingan Arema vs Persebaya tersebut.
Publik menyoroti gas air mata yang ditembakan polisi ke tengah tengah tribun yang masih sangat padat dengan penonton.
Baca Juga: Buntut Kericuhan Pasca Laga Arema FC vs Persebaya Surabaya, PT LIB Hentikan Liga 1
Wartawan Jawa Pos Bagus Putra Pamungkas di akun twitternya @pamungkas_gus menceritakan kisah pilu dari tragedi di Kanjuruhan.
Ia menyaksikan seorang ibu yang menggendong jenazah anaknya di tengah-tengah kerusuhan.
“Ibu paro baya itu berlari. Berteriak. Ya Allah, anakku gak onok, begitu teriaknya sambil bercucuran air mata. Anaknya masih balita. Dan, banyak korban lainnya di laga derbi Jatim.
Gas air mata diletupkan tepat ke arah tribun.
Pak Polisi, kenapa begitu? Kenapa seperti itu?,” kata Bagus.
Baca Juga: Kondisi Terkini Lesti Kejora Setelah jadi Korban KDRT, Rizky Billar Masih di Hati?
“Saya langsung kehilangan nafsu menulis begitu mendengar tangisan yang pecah. Ibu kehilangan anaknya, kakak kehilangan adiknya, teman kehilangan sohibnya. Kami, para jurnalis, masih tertahan di dalam lapangan. Ikut membantu yang kehilangan,” tutur Bagus.
Bagus sendiri dalam twitnya heran mengapa polisi menembakkan gas air mata ke tribun penonton yang penuh dengan sesak.
“Kejadian tahun 2012 di surabaya itu berulang.
Pak Polisi, kenapa gas air mata disemburkan ke tribun yang masih sesak penonton? Apa tidak belajar dari kesalahan masa lampau?
Bagaimana tanggung jawabnya? Ini tragedi yang memilukan,” kata Bagus yang saat kejadian berada langsung di lokasi.
Detik-detik kerusuhan di Kanjuruhan juga diceritakan akun twitter @RezqiWahyu_05 yang menceritakan hal tersebut.
“Assalamualaikum Sebelumnya saya turut berduka cita sedalam”nya terhadap korban insiden yg terjadi di stadion Kanjuruhan pertandingan Arema vs Persebaya. Yg kedua syukur alhamdulillah, sy di beri keselamatan sampai dirumah.. Dan Bisa menceritakan kronologi versi sya pribadi disini,” kata Rezqi.
Ia menuturkan bahwa usai Arema kalah dari Persebaya 2-3, kondisi di stadion sebenarnya kondusif.
“Hingga peluit akhir dibunyikan arema tidak bisa menambah golnya, dan harus menerima kekalahan. Disinilah awal mula tragedi dimulai…
Setelah peluit di bunyikan, para pemain arema tertunduk lesu dan kecewa…,” tutur Rezqi.
Ia mengatakan bahwa Pelatih Arema dan Manager tim mendekati tribun timur dan menunjukkan gestur minta maaf ke supporter. Lalu di sisi lain, ada satu orang supporter yang dari arah tribun selatan nekat masuk dan mendekati Sergio Silva dan Maringa terlihat sedang memberikan motivasi dan kritik kepada mereka.
Kemudian ada lagi beberapa supporter lain yang ikut masuk untuk meluapkan kekecewaannya kepada pemain Arema. “Terlihat john alfarizie mencoba memberi pengertian kepadan oknum tersebut,” kata Rezqi.
Fenomena berlanjut, suporter ternyata semakin banyak berdatangan untuk meluapkan kekecewaan terhadap para pemain.
“Di ikuti dengan lempar-lempar berbagai macam benda ke arah lapangan, dan para suppoter yang semakin tidak terkendali.. Akhirnya pemain di giring masuk kedalam ruang ganti dengan kawalan pihak berwajib,” kata Rezqi.
Setelah pemain masuk, supporter makin tidak terkendali dan semakin banyak yang masuk ke lapangan.
“Pihak aparat juga melakukan berbagai upaya untuk memukul mundur para supporter, yang menurut saya perlakuannya sangat kejam dan sadis, di pentung dengan tongkat panjang, 1 supporter di keroyok aparat, dihantam tameng dan banyak tindakan lainnya,” tuturnya.
Kemudian, saat aparat memukul mundur supporter di sisi selatan, supporter dari sisi utara menyerang ke arah aparat.
“Aparat menembakkan beberapa kali gas air mata ke arah supoter yang ada di lapangan. Silih berganti suporter menyerang aparat dari sisi selatan dan utara,” kata dia.
Akhirnya, selain hujan lemparan benda dari sisi tribun, di dalam lapangan juga terjadi aksi tembakan gas air mata ke arah supporter. Terhitung puluhan gas air mata sudah ditembakkan ke arah supporter, hingga akhirnya di setiap sudut lapangan dikelilingi gas air mata. Ada juga yang langsung ditembakkan ke arah tribun penonton, yaitu di tribun 10.
“Para supporter yang panik karena gas air mata, semakin ricuh di atas tribun, mereka berlarian mencari pintu keluar, tapi sayang pintu keluar sudah penuh sesak karena para supporter panik terkena gas air mata,” kata Rezqi.
Ia mengatakan, banyak ibu-ibu, wanita, orang tua dan anak anak kecil yang terlihat sesak tak berdaya, tak kuat ikut berjubel untuk keluar dari stadion. Seluruh pintu keluar penuh dan macet.
“Didalam stadion mereka sesak krna gas air mata yang sudah ditembakkan ke berbagai arah. Sedangkan untuk keluar stadionpun gak bisa karena macet penuh sesak. Di pintu keluar stadion banyak yang terkapar dan pingsan karena efek terjebak di dalam stadion yang penuh gas air mata,” kata Rezqi.
“Dan sekitar pukul 22.30 juga masih banyak insiden pelemparan batu ke arah mobil aparat, dan pengeroyokan Supporter terhadap aparat yang Dianggap mengurung kita didalam Stadion dengan puluhan gas air mata,” kata dia.
Tembakan gas air mata juga tidak hanya terjadi di dalam stadion, tetapi juga di luar stadion.
“Kondisi luar stadion kanjuruhan sudah sangat mencekam.. Banyak supporter yang lemas bergelimpangan, teriakan dan tangisan wanita.. supporter yang berlumuran darah, mobil hancur, kata-kata makian dan amarah… Batu batako, besi dan bambu berterbangan,” kata Rezqi.
“Saya masih belum percaya menyaksikan saudara-saudara saya dengan kondisi seperti ini. Tanpa mengurangi rasa respect saya kepada keluarga korban, Disini saya mencoba menjelaskan kronologi yang saya alami secara pribadi..” kata Rezqi. **
















