BANTENRAYA.COM – Tahun 1965 telah terjadi suatu gerakan penghianatan yang diwadahi Partai Komunis Indonesia (PKI) kepada bangsa Indonesia dengan terbunuhnya para jenderal.
G 30S PKI didasari dengan dalih isu akan terjadinya kudeta pemerintahan yang terbentuk dalam Dewan Jenderal.
Gerombolan PKI membunuh para Jenderal Angkatan Darat yang diduga mempunyai hubungan erat dengan Soekarno.
Baca Juga: Spoiler One Piece 1059: Ambisi Gila Blackbeard, Culik Kobi hingga Inginkan Buah Iblis Boa Hancock
Hal ini menyebabkan kecemburuan kekuasaan di tubuh partai komunis tersebut.
Dilansir BantenRaya.com dari portal JabarHits.com menjelaskan, berikut profil para pahlawan yang gugur atas gerakan G30S PKI
1. Jendera TNI Anumerta Ahmad Yani
Ahmad Yani lahir di Jenar, Purworejo, Jawa Tengah pada 19 Juni 1922.
Jenderal Yani menginjak karir militer untuk kali pertamanya pada pemerintahan Hindia Belanda di Magelang.
Saat di Magelang Yani menempuh pendidikan Heiho dan dinobatkan sebagai siswa terbaik serta menjalani masa pelatihan tentara pada Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor.
Atas prestasinya, Ahmad Yani mendapatkan Katana istimewa (gunto) atau samurai yang biasa dipergunakan oleh militer Jepang.
Baca Juga: Podsi Kabupaten Serang Matangkan Atlet Demi Bawa Pulang Emas di Porprov Banten
2. Letnan Jenderal TNI Anumerta Siswondo Parman
Jenderal S. Parman sapaan akrabnya lahir pada 4 Agustus 1918 di Wonosobo, Jawa Tengah.
Semasa Indonesia masih dijajah Jepang, beliau pernah merasakan kerja di Jawatan Kempeitai.
Jenderal S. Parman pernah di penjara atas dasar curiga oleh Jepang namun semua itu tidak terbukti.
Baca Juga: Perkara Kebocoran 1,3 Miliar Data SIM Card, Kominfo Minta Operator Tanggung Jawab
Malahan dirinya disuruh menempuh pendiidikan di Kenpei Kasya untuk mempelajari lebih dalam ilmu intelejen
3. Letnan Jenderal TNI Anumerta Mas Tirtodarmo Haryono
Jenderal satu ini kelahiran pada 20 Januari 1924 di Surabaya Jawa Timur.
M.T Haryono mengenyam pendidikan setara SD di Europeesche Lagere School (ELS) dan setingkat SMA di Hoogere Burgerschool (HBS).
Baca Juga: Akibat Timbun 6 Ton BBM Bersubsidi, Warga Kupang Diamankan Polis
Jenderal Haryono memiliki kemampuan bahasa asing antara lain Belanda, Inggris dan Jerman.
4. Letnan Jenderal TNI Anumerta R. Suprapto
Lahir pada 20 Juni 1920 di Purwokerto, Jawa Tengah. Pada Akademi Militer Kerajaan di Bandung beliau pernah bergabung didalamnya, namun telah berhenti saat Jepang mulai menduduki Indonesia.
Baca Juga: 13 Link Twibbon Hari Jadi Kota Ambon ke-447 Tahun 2022, Desain Paling Keren dan Kekinian
Jenderal Suprapto pernah juga mengikuti pelatihan bagi pemuda yang diadakan oleh militer Jepang dan bekerja di Kantor Pendidikan Masyarakat.
5. Letnan Jenderal TNI Anumerta Donald Isaac Pandjaitan
Beliau lahir pada 9 Juni 1925 di Balige, Tapanuli. Semasa hidupnya pernah menjadi siswa militer Giyugun Jepang dan berhasil ditugaskan di Pekanbaru, Riau hingga Indenesia merdeka.
Baca Juga: Timsus Polri Dalami Dugaan Keterlibatan Tiga Kapolda Kasus Ferdy Sambo yang Bunuh Brigadir J
6. Mayor Jenderal TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo.
Jenderal Sutoyo lahir pada 28 agustus 1922 di Kebumen, Jawa tengah. Tempat Balai Pendidikan Pegawai Tinggi adalah tempat semasa beliau menempuh pendidikan.
Ia pernah bekerja di Kantor Kabupaten Purworejo. Kini dirinya dimakamkan di Taman Makan Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Baca Juga: Perserang Akan Maksimalkan Laga Kandang di Liga 2 Indonesia Lawan PSPS
7. Kapten Czi. Anumerta Pierre Andries Tendean.
Lahir pada 21 Februari 1929 di Jakarta. Kapten Tendean pernah bersekolah SD di Magelang dilanjut SMP dan SMA-nya di Semarang.
Beliau meninggal saat menjadi ajudan Jenderal Abdul Haris Nasution.
Baca Juga: Arema Resmi Pecat Eduardo Almeida, Juragan 99: Meurut Aremania Siapa Pengganti yang Sesuai?
Itulah sekelumit profil para Jenderal yang menjadi korban atas gerakan yang dinamakan 30 September 1965.***



















