BANTENRAYA.COM – Hari Dharma Wanita Nasional yang setiap tahunnya diperingati pada 5 Agustus tak bisa lepas dari peran seorang perempuan bernama Ibu Tien Soeharto.
Meski organisasi didirikan oleh seorang laki-laki yaitu Ketua Dewan Pembina KORPRI Amir Machmud, namun yang memprakarsai terbentuknya Dharma Wanita Persatuan adalah Ibu Tien Soeharto.
Ibu Tien Soeharto inilah yang memprakarsai terbentuknya Dharma Wanita Persatuan pada 5 Agustus 1974 di masa pemerintahan Orde Baru sebagai wadah perkumpulan dan persatuan para istri pegawai Republik Indonesia (RI).
Baca Juga: 3 Film ini Sedang Tayang di Bioskop Indonesia, Ada Pengabdi Setan 2 hingga Ivanna
Lantas siapakah Ibu Tien Soeharto dan bagaimana profil semasa ia hidup sehingga mampu memprakarsai terbentuknya Dharma Wanita Persatuan?
Dikutip bantenraya.com dari buku “Ibu Negara Jang Ramah Tamah: Ibu Tien Soeharto” yang ditulis oleh Suripto tanpa tahun, Ibu Tien Soeharto masih mempunyai keturunan dari Mangkunegoro I, pendiri daerah Pemerintahan Swapradja Mangkunegaran di Surakarta.
Ayahnya bernama Kanjeng Raden Mas Tumenggung Sumoharjomo dan eyangnya bernama Raden Mas Ngabei Hardjokusumo.
Baca Juga: 10 Ucapan Hari Dharma Wanita 5 Agustus 2022, Cocok untuk Status Media Sosial Para Istri PNS
Adapun nama kecil Ibu Tien Soeharto menurut Suripto ialah Raden Ajeng Hartinah, seorang yang memiliki darah bangsawan.
“Meskipun sedjak ketjil dapat dikatakan meninggalkan kebangsawanannja,” tulis Suripto, seorang penerbit madjalah mingguan SKETS MASA Surabaja, pada tahun 50-an.
Raden Ajeng Hartinah atau Ibu Tien Soeharto adalah puteri kedua dari sebelas bersaudara keluarga Kanjeng Raden Mas Tumenggung Sumoharjomo.
Baca Juga: 20 Link Twibbon 17 Agustus 2022 Keren dan Terbaru, Ramaikan saat HUT RI yang ke 77
Menurut Suripto, dari garis keturunan, Ibu Tien adalah keturunan delapan dari Mangkunegoro yang pertama.
Besar di keluarga bangsawan, Hartinah menjadi seorang gadis yang memiliki tata cara kehidupan layaknya wanita bangsawan Jawa.
Ia dikenal sebagai seorang gadis yang sopan, santun, bisa menjaga diri baik sebelum maupun sesudah bersuami.
Suripto menerangkan, Ibu Tien saat gadis remaja, meski dididik secara kebangsawanan dan kejawaan lengkap, Hartinah tidak mau ketinggalan dengan keadaan zaman.
“Gadis Hartinah djuga aktif dalam olahraga, meskipun tidak untuk mendapatkan gelar djuara. Aktif dalam kepanduan,” ungkap Suripto.
Pada zaman pejuangan, Ibu Tien juga menyumbangkan tenaga dengan bergabung dalam Laskar Wanita, ia menjadi seorang anggota pimpinan di Solo.
Baca Juga: Tersangka Kasus Kredit Macet Bank Banten Sudah Tak Aktif Sejak Agustus 2021
Adapun tentang pernikahannya dengan Soeharto, Ibu Tien dipilihkan dan dinikahkan oleh Bapak dan Ibunya.
“Meskipun sudah masuk abad atoom, tahun 1947, gadis Hartinah kawin bukan setjara modern. Artinja bukan atas pilihannja sendiri,” jelas Suripto.
Saat melamar Ibu Tien, Soeharto masih berpangkat Letnan Kolonel, datang dari Yogyakarta untuk melamar Hartinah.
Baca Juga: AHY Pimpin Langsung Pendaftaran Partai ke KPU, Demokrat Pandeglang Optimis jadi Pemenang
“Waktu pertunangan mereka tidak lama. Tahun 1947 perkawinan dilangsungkan dan selekasnja Nyonja Soeharto dibojong ke Jogjakarta,” tandas Suripto.
Demikianlah, riwayat singkat mengenai Ibu Tien Soeharto yang memprakarsai terbentuknya Dharma Wanita Persatuan.***


















