BANTENRAYA.COM – Kementerian Agama RI sudah memastikan 1 Dzulhijjah pada Jumat 1 Juli 2022 lalu melalui sidang isbat.
Artinya umat muslim pada awal Dzulhijjah sudah diperkenankan menunaikan ibadah sunah puasa sebagaimana anjuran Rasulullah.
Puasa Dzulhijjah sendiri memiliki keutamaan karena Allah menyukai hari di awal bulan tersebut.
Hal itu sebagaimana diungkapkan dalam berbagai riwayat hadist dan pendapat para ulama.
Baca Juga: 304 Hewan Ternak di Kabupaten Lebak Terjangkit PMK, 3 Ekor Mati
Terlebih pada saat hari Puasa Tarwiyah dikerjakan pada tanggal 8 Dzulhijjah atau dua hari sebelum Idul Adha.
Serta, puasa Arafah merupakan puasa sunnah yang dikerjakan pada tanggal 9 Dzulhijjah atau satu hari sebelum Idul Adha.
Dikutip BantenRaya.Com dari portal islam.nu.or.id pada Minggu 3 Juli 2022, jika Rasulullah meriwayatkan dimana 10 hari di bulan Dzulhijjah merupakan hari dimana Allah sangat menyukainya.
Baca Juga: Sudah Pertengahan Tahun, Pembangunan PJU di Kabupaten Serang Masih Proses Lelang
Untuk itu, umat muslim dianjurkan untuk melakukan banyak amal baik di dalamnya.
Anjuran memperbanyak amal saleh itu termaktub dalam beberapa hadits. Misalnya hadits riwayat Ibnu ‘Abbas yang ada di dalam Sunan At-Tirmidzi:
Artinya, “Rasulullah saw berkata: Tiada ada hari lain yang disukai Allah swt untuk beribadah seperti sepuluh hari ini. ” (HR At-Tirmidzi).
Baca Juga: Puluhan Siswa MDTA Salira Kabupaten Serang Bersihkan Sampah di Pantai
Hadits di atas menunjukkan beramal apapun di sepuluh hari pertama Dzulhijjah sangat dianjurkan. Namun kebanyakan ulama menggunakan hadits tersebut sebagai dalil anjuran puasa sembilan hari pada awal Dzulhijjah.
Hal ini terlihat dalam pembuatan judul bab hadits tersebut. Ibnu Majah memberi judul bab hadis di atas dengan “shiyamul ‘asyr” (puasa sepuluh hari).
Dalam kajian hadits, pemberian judul bab sekaligus menunjukkan pemahaman seorang rawi terhadap hadits yang diriwayatkan. Artinya, secara tidak langsung Ibnu Majah selaku perawi menjadikan hadits itu sebagai dalil kesunahan puasa.
Baca Juga: Sosok Pembuang Bayi di Kabupaten Serang Ditangkap, Pelaku Masih Pelajar
Ibnu Hajar dalam Fathul Bari mengatakan:
Artinya, “Hadits ini menjadi dalil keutamaan puasa sepuluh hari di bulan Dzulhijjah, karena puasa termasuk amal saleh.”
Kendati disebutkan puasa sepuluh hari dalam hadits di atas, ini bukan berarti pada tanggal 10 Dzulhijjah juga dianjurkan puasa. Malah puasa pada tanggal itu dilarang karena bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha.
Terkait maksud “ayyamul ‘asyr” ini, An-Nawawi sebagaimana dikutip Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi menjelaskan:
Artinya, “Yang dimaksud sepuluh hari di sini ialah sembilan hari, terhitung dari tanggal satu Dzulhijjah.” Berdasarkan pendapat An-Nawawi ini, siapapun disunahkan untuk beramal sebanyak-banyaknya di bulan Dzulhijjah khususnya puasa sembilan hari di awal bulan.
Dalam hadits lain, saking penasarannya sahabat tentang keutamaan beramal sepuluh hari di bulan Dzulhijjah, mereka bertanya kepada Rasul saw, “Apakah jihad juga tidak sebanding dengan beramal pada sepuluh hari tersebut?” Rasul menjawab, “Tidak, kecuali ia mengorbankan harta dan jiwanya di jalan Allah (mati syahid).” (HR Ibnu Majah). *



















