BANTENRAYA.COM – Setiap manusia pasti memiliki nafsu, terlepas dari itu apakah hubungannya nafsu dengan Ramadhan?
Berikut ini penjelasan Profesor Quraish Shihab mengenai hakikat puasa sebagai mengendalikan nafsu, bukan membunuh nafsu.
Sebab, mengendalikan nafsu adalah kunci utama dalam beribadah puasa.
“Jadi nafsu itu dikendalikan bukan dibunuh atau dicegah sama sekali. Nah, puasa tujuannya untuk itu,” kata Prof Quraish dalam tayangan Shihab & Shihab (2) bertajuk Nafsu, Selasa 5 Maret 2022.
Ia menjelaskan, dalam beberapa kesempatan, nafsu menjadi suatu kebutuhan bagi manusia.
Misalnya, ketika mendapat kesulitan, kesusahan, nafsu dibutuhkan untuk kekuatan bertahan hidup.
Baca Juga: Aldebaran Ucapkan Selamat Ulang Tahun Untuk Wakil Walikota Subadri Ushuludin
“Bukan mematikan, nafsu kita butuhkan. Ada penjajah memasuki negeri kita, nafsu amarah harus muncul untuk mengusirnya. Contoh lainnya adalah apabila kita lapar maka kita membutuhkan nafsu makan, namun tetap harus dikendalikan,” jelas penulis Tafsir Al-Misbah itu.
Selanjutnya, dengan terperinci alumni Universitas Al-Azhar Kairo itu menerangkan jenis-jenis nafsu yang termaktub dalam Al-Qur’an. Pertama, nafsu muthmainnah (jiwa yang tenang).
Nafsu jenis ini dikisahkan Nabi shalallahu alaihi wassalam kepada seorang mukmin yang senantiasa bersyukur dan bersabar.
Baca Juga: Mimpi Basah Saat Sedang Puasa, Batal Atau Tidak? Begini Penjelasan Ustad Ahmad Sarwat
Apapun yang terjadi dia tenang. Nabi melukiskan seorang mukmin itu selalu menakjubkan. Kalau dia mendapat nikmat bersyukur, kalau dia kena musibah dia bersabar, sehingga dirinya selalu tenang,” kata Pendiri Pusat Studi Al Quran (PSQ) itu.
Kedua, lanjut Prof Quraish, nafsu lawwamah atau nafsu yang selalu mengecam ketika melakukan dosa. Maksudnya, nafsu yang menyadarkan seorang mukmin untuk tidak mengulangi keburukan yang sama.
Jadi, dia lakukan dosa, tapi tidak lama kemudian dia sadar bahwa itu sebenarnya buruk sehingga dia kecam jiwanya,” jelasnya menerangkan.
Baca Juga: Pemerintah Kembali Kucurkan BSU Bagi Pekerja dengen Penerima Berbeda, Begini Cara Mendapatkannya
Diurutan terakhir, kata Prof Quraish, adalah nafsu ammaratu bissuu atau nafsu yang selalu mendorong untuk berbuat buruk.
Sebab, nafsu ini memiliki kriteria tidak pernah puas.
“Nafsu tersebut laiknya seorang anak kecil yang enggan disapih oleh ibunya. Manusia sebagai pengendali harus tegas dalam menghadapinya, semata-mata untuk kebaikan,” ujarnya.
Baca Juga: 5 Hal Yang Membuat Produktivitas Ibadah Ramadhan Jadi Terhambat, Tidak Hanya Banyak Tidur
Karenanya, ia menegaskan, hanya dengan kekuatan jiwa seseorang, nafsu yang selalu mendorong kepada keburukan ini dapat terhalangi.
“Orang yang tidak kuat, itu menuruti nafsunya sehingga tidak memiliki kepuasan dalam dirinya,” katanya. ***

















