BANTENRAYA.COM – Pada usia muda, Buya Hamka sudah tertarik dengan tongkat dan menjadi sebuah hobi baginya.
Sebagaimana orang pada zaman dahulu menyukai mengoleksi perangko, Buya Hamka lebih menyukai untuk mengoleksi tongkat.
Dikutip bantenraya.com dari buku Martabat dan Pribadi Buya Hamka karangan Rusydi Hamka bahwa dengan tongkatnya seolah-olah Buya Hamka dengan tongkatnya hendak menjangkau dunia.
“Bunyi hentakan tongkatlah yang meningkahi kedua langkahnya yang semakin berat itu,” tulis Rusydi Hamka dalam bukunya.
Selain itu, Rusydi juga mengisahkan bahwa menurut ayahnya, Buya Hamka, pada zaman dahulu kala menggunakan tongkat akan terlihat tampan, bahkan sampai diadakan perlombaan atau pertandingan raja tongkat.
“Seperti yang kita kenal sekarang dengan pertandingan raja atau ratu kacamata, tapi ayah tidak ikut,” rekam Rusydi mengenai kisah unik yang Buya Hamka ceritakan.
Baca Juga: Profil PT Geprek Bensu Indonesia yang Tengah jadi Sorotan Usai Tampil di Paris Fashion Week
Baca Juga: Ada Truk Terbakar, Lalu Lintas dari Palima Menuju Baros Ditutup
Tongkat-tongkat yang Buya Hamka koleksi merupakan hadiah dari daerah-daerah yang pernah dikunjungi oleh Buya Hamka semasa hidupnya.
Tetapi, sebagaimana keterangan Rusydi bahwa tongkat-tongkat itupun sering Buya Hamka berikan kepada orang-orang tertentu.
Seingat Rusydi bahwa peninggalan tongkat-tongkat dari ayahnya ada sebelas buah dan salah satunya adalah pemberian dari keluarga, Wakil Presiden RI pertama, Mohammad Hatta.
Baca Juga: Shandy Purnamasari Angkat Bicara Soal Paris Fashion Week: yang Kalian Ributin Itu Apa?
Pada awal tahun 1950 ketika Buya Hamka dan keluarganya pindah ke ibukota Jakarta, Rusydi tidak melihat lagi ayahnya menggunakan tongkat untuk berjalan.
Bahkan, ketika Buya Hamka berkunjung ke negeri Paman Sam, Amerika, di tahun 1952, sama sekali Buya Hamka tidak memakai tongkat atau membawanya.
Peristiwa di Masjid Agung Al-Azhar, di mana selepas mengimami salat magrib berjamaah, yang menyebabkan Buya Hamka untuk mengenakan kembali tongkatnya.
“Ketika menuruni 46 anak tangga masjid bertingkat dua itu, kaki Buya Hamka tergelincir dan dia terjatuh. Beberapa orang jamaah menggotongnya pulang dalam keadaan kesakitan,” tulis Rusydi mengingat kejadian pilu yang menimpa Buya Hamka.
Dari peristiwa itu keluarga Hamka mencoba mencari penanganan yang tepat untuk memulihkan kembali kaki Buya Hamka yang terkilir akibat jatuh ketika menuruni anak tangga masjid Agung Al-Azhar.
Dipanggillah beberapa tukang urut untuk menyembuhkan kaki Buya Hamka yang terpelecok. Namun, dari beberapa tukang urut yang dipanggil, tak ada satupun yang membuahkan hasil.
Baca Juga: Rusia Terus Gencarkan Serangan Terhadap Ukraina, Kehidupan Warga Ukraina Terancam
Ada pembengkakkan di sekitar tumit Buya Hamka. Ketika dirujuk ke rumah sakit, dokter mengatakan, sebagaimana penuturan Rusydi, ada tulang yang patah sekitar ruas tumitnya.
Ada kisah unik lainnya yang coba diceritakan oleh Rusydi mengenai tongkat ayahnya.
Isa Anshary, politisi dari Partai Masyumi dan juga anak kelahiran Sumatera Barat, teman karibnya Buya Hamka, pernah memberikan guyonan kepada Buya Hamka ketika melihat kaki Buya Hamka di gips.
Baca Juga: 5 Aplikasi yang Bisa menghasilkan Uang dari Smartphone, Bisa Cair Lewat DANA
Dengan nada bercanda Isa Anshary memberikan kalimat motivasi kepada Buya Hamka bahwa kaki yang patah itu akan semakin kuat.
Harapan Isa Anshary kepada Buya Hamka untuk terus melangkah.
Dengan nada sedikit agak jengkel, Buya Hamka memberikan balasan kepada Isa Anshary.
Baca Juga: Jelang Diperiksa Polisi, Pacar Indra Kenz Vanessa Khong Pamer Foto Badan Penuh Tato
“Awaklah jangkang, kuat juo katonya,” (kita sudah hampir mati, kuat juga katanya) ujar Buya Hamka menimpali.
Masih banyak lagi cerita keunikan tongkat Buya Hamka yang ditulis oleh Rusydi Hamka dalam bukunya.
Buya Hamka adalah sosok ulama, pemimpin Islam yang harus diteladani oleh para anak-anak bangsa hari ini.***

















