BANTENRAYA.COM – Kasus demam berdarah dengue atau DBD di Provinsi Banten pada Januari 2024 ini melonjak naik.
Sayang, Dinas Kesehatan Provinsi Banten atau Dinkes Banten hingga saat ini belum memiliki data jumlah kasus DBD per Januari 2024 dari 8 kabupaten kota.
“Data (DBD) Januari biasanya baru akan ada saat awal bulan setelahnya,” ujar Ati, Senin, 29 Januari 2024.
Baca Juga: Produksi Jagung di Lebak Menurun 10 Ribu Ton, Distan Uang 2 Faktor Biang Keroknya
Dinkes Provinsi Banten mengklaim bahwa jumlah kasus demam berdarah dengue atau DBD di Provinsi Banten saat ini mengalami penurunan.
Hal itu bisa dilihat dari data jumlah kasus DBD tahun 2022 yang dibandingkan dengan data tahun 2023.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti mengungkapkan, pada Tahun 2022 jumlah kasus DPD di Provinsi Banten mencapai 5.283 kasus dengan tingkat kematian 33 orang.
Baca Juga: Truk ODOL Meresahkan, Mahasiswa Minta Pemkab Lebak Persikap Tegas, Tertibkan!
Jumlah itu kemudian menurun pada tahun 2023 di mana jumlah kasus DBD Provinsi Banten mencapai 4.277 kasus dengan jumlah kematian mencapai 18 kasus.
“Jadi ada penurunan kasus DBD,” ujar Ati.
Ati mengungkapkan bahwa menurutnya jumlah kasus DBD di Provinsi Banten pada tahun 2023 disebabkan karena cuaca kemarau yang panjang yang disebabkan oleh fenomena El Nino.
Baca Juga: Masih Terbayang-bayang Insiden Chandra Asri, Sanuji Sebut Lingkungan Bisa Jadi Ancaman Kota Cilegon
Dengan demikian dengan jarangnya musim hujan maka jumlah genangan air sebagai lokasi berkembangnya nyamuk aides aegypti juga menjadi berkurang.
Guna mengantisipasi adanya kasus DBD, pihaknya mengerahkan kader jumantik sampai di tingkat kelurahan atau desa.
Keberadaan jumantik berguna untuk mendeteksi adanya jentik nyamuk aides aegypti juga mengantisipasi perkembangannya.
“Berkembangnya nyamuk demam berdarah justru pada saat hujan kering hujan kering itu nyamuk akan mudah berkembang biak,” ujar Ati.
Baca Juga: 84 Pengawas Pemilu di Kabupaten Lebak Mengundurkan Diri, Ada Apa?
Ati mengungkapkan bahwa banyaknya kasus kematian akibat DBD paling banyak disebabkan oleh keterlambatan mengantar pasien ke fasilitas kesehatan.
Banyak dari keluarga pasien yang menganggap demam yang diderita sama dengan demam biasa Karena gejalanya yang mirip.
Dengan demikian maka pasien terlambat dilahirkan ke fasilitas kesehatan dan akhirnya berakhir dengan kematian.
Baca Juga: Gudang Logistik KPU Kabupaten Lebak Bocor dan Tergenang Air, Puluhan Surat Suara Basah
Untuk itu arti menekankan pentingnya bagi masyarakat untuk kembali menggalakkan gotong royong terutama menerapkan 3M plus.
3M plus terdiri atas menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, dan mengubur barang bekas yang bisa menampung air.
Serta memelihara ikan yang bisa memakan jentik nyamuk dan menanam tanaman yang bisa mengusir nyamuk.
Baca Juga: Drama Korea Queen of Divorce Kapan Tayang? Berikut Jadwal Tayang, Sinopsis dan Link Nonton Sub Indo
Didi Ari Wibowo, dokter umum di RSUD Banten, mengatakan, pemerintah provinsi Banten melalui Dinas Kesehatan Provinsi Banten sudah melakukan sejumlah langkah untuk mengantisipasi perkembangbiakan nyamuk aides aegypti.
Salah satunya yaitu dengan melakukan fogging yang bisa membasmi nyamuk aides aegypti dewasa.
Pemberian pupuk abate untuk membunuh jentik nyamuk juga terus dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Banten. Termasuk melakukan sosialisasi akan bahayanya demam berdarah dengue. ***



















